Sabtu, 27 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kelomang Menjadi Indikator Kesehatan Lingkungan Laut

Sejak abad ke-19, para ilmuwan mencatat lebih dari 200 spesies kelomang di Indonesia dengan keluarga Diogenidae tercatat paling kaya jenis.

Minggu, 27 Juli 2025
A A
Kelomang. Foto Dok. BRIN.

Kelomang. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kelomang, hewan kecil yang sering kita temui di pantai dengan rumah cangkang di punggungnya, ternyata menyimpan cerita besar tentang kekayaan laut Indonesia. Para peneliti mendorong agar kelomang dipelajari lebih lanjut, baik dari fungsi ekologis maupun potensi sebagai bioindikator kesehatan lingkungan laut.

“Dengan memahami persebaran dan preferensi habitatnya, kita bisa tahu seberapa sehat laut kita. Sebab, kelomang bisa jadi ‘penjaga’ kecil yang memberi tanda kalau ekosistem sedang dalam bahaya,” ungkap Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN (PRO) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Tyani dalam Oceanography Biweekly Meeting (OBM), Senin, 14 Juli 2025.

Ia mengupas hasil riset terbaru yang menyajikan data mendalam soal keragaman, sebaran, dan habitat kelomang dari keluarga Diogenidae. Tujuan utama penelitian ini adalah menyumbangkan data spesimen untuk memperkaya pemahaman soal penyebaran geografis dan habitat favorit mereka, dari perairan dangkal hingga laut dalam.

Baca juga: Exploitasia, Banteng Jawa Betina Lahir di Pusat Reintroduksi Banteng Jawa Pangandaran

Sejak abad ke-19, para ilmuwan mencatat lebih dari 200 spesies kelomang di Indonesia dengan keluarga Diogenidae tercatat paling kaya jenis. Penelitian terbaru ini menyumbangkan data spesimen tambahan dari 1989 hingga 2024, termasuk koleksi yang tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense.

“Hasil analisis menunjukkan terdapat 115 spesies Diogenidae yang tersebar luas di 12 ekoregion laut Indonesia, dengan Clibanarius sebagai genus paling dominan,” terang dia.

Menariknya, wilayah Laut Banda tercatat sebagai kawasan dengan keragaman genus tertinggi. Dari sisi kedalaman, sekitar 75 persen spesies ditemukan di zona litoral. Sementara, sebagian kecil lainnya mencapai kedalaman hingga 727 meter.

Baca juga: Varietas Padi IPB 11S Bepe Cocok Ditanam di Lahan Dekat Pantai

Ini menunjukkan daya adaptasi luar biasa terhadap variasi habitat. Salah satu spesiesnya, Paguropsis andersoni, hidup mulai dari zona litoral hingga batial di kedalaman kurang lebih 500 meter.

Penelitian ini juga mengungkap preferensi substrat yang beragam. Artinya, kelomang suka tinggal di berbagai habitat, yaitu pasir pantai, terumbu karang, hutan mangrove, sampai batu-batu di pesisir. Sementara tempat favorit mereka yaitu pantai berbatu dan pasir halus. Sebab di sanalah mereka bisa mencari cangkang dan makanan dengan lebih mudah.

Tak sekadar mengoleksi data, riset ini membuka peluang baru dalam konservasi laut. Dengan memahami distribusi spasial dan ekologinya, peran vital Kelomang Diogenidae bisa dinilai dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut Indonesia.

Penelitian ini tidak hanya memperkuat basis data biodiversitas nasional, tetapi juga menjadi dasar penting dalam konservasi spesies laut yang belum banyak dikenal publik. Juga spesies yang berperan besar dalam ekosistem pesisir. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Tags: BRINkelomangkonservasi lautlingkungan lautMuseum Zoologicum Bogoriense

Editor

Next Post
Karhutla di Nunukan, kalimantan Utara, 24 Juli 2025. Foto Dok. BNPB.

Puncak Kemarau Agustus-September, Potensi Karhutla Meluas di Sumatera dan Kalimantan

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media