Sejumlah titik penting di area kampus seperti Telaga Inspirasi, Danau SDGs, Arboretum, Hutan Al-Hurriyyah, dan Taman Konservasi berperan signifikan dalam mendukung kelangsungan hidup berbagai jenis burung. Lokasi-lokasi ini menjadi habitat alami yang kaya akan sumber pakan dan perlindungan bagi satwa liar.
Haris menekankan perlunya sinergi antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem kampus.
“Konservasi bukan hanya tugas peneliti atau pihak kampus. Semua pihak, termasuk masyarakat sekitar, perlu memiliki kesadaran dan kepedulian yang sama,” tegas dia.
Baca juga: Masyarakat Sipil Nilai IIGCE 2025 Merampas Ruang Hidup Lewat Proyek Panas Bumi
Melalui penelitian berkelanjutan, IPB University berkomitmen mengembangkan kawasan kampus sebagai living laboratory sekaligus zona konservasi biodiversitas.
Pohon beringin 106 tahun
Sementara sivitas akademika Institut Teknologi Bandung (ITB) menanam pohon beringin bersejarah di ITB Kampus Cirebon, Jumat, 19 September 2025. Penanaman ini menjadi simbol penting pelestarian sejarah pendirian ITB sekaligus pengingat akan nilai kebersamaan dan keberlanjutan lingkungan.
Pohon beringin yang ditanam merupakan satu-satunya yang tersisa dari empat pohon beringin yang ditanam pada 4 Juli 1919 saat upacara awal pembangunan Technische Hoogeschool te Bandoeng (THB), cikal bakal ITB. Upacara bersejarah itu dihadiri Wali Kota Bandung saat itu, Bertus Coops, serta perwakilan Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië (KIHTONI).
Baca juga: Seruan Aksi Iklim di 35 Kota di Indonesia dan 97 Negara Jelang KTT Iklim Brasil
Pohon beringin tersebut diserahkan Ketua Komunitas Circular Dago, Anto, yang juga salah seorang alumni ITB, kepada Rektor ITB pada Sabtu, 12 Juli 2025.
Tidak seperti tradisi peletakan batu pertama, pendirian THB ditandai dengan penanaman empat pohon beringin oleh empat gadis dari latar belakang etnis berbeda, yakni Belanda, Melayu (Indonesia), Tionghoa, dan Indo-Eropa. Keempatnya melambangkan keberagaman masyarakat Hindia Belanda, sementara beringin menjadi simbol kekuatan, keteduhan, dan persatuan.
Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara menegaskan pentingnya momentum ini bagi perkembangan ITB Kampus Cirebon.
Baca juga: Atasi Banjir Bandang dengan Memperbanyak Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan
“Ini adalah peristiwa simbolik. Kami sudah punya kampus (empat), yang ketiga (ITB Kampus Cirebon), sudah mulai meluluskan alumni-alumni hebat. Kami berharap kampus ini tetap hidup dan terus tumbuh untuk menghasilkan sumber daya manusia yang akan menjadi pelopor pembangunan di Indonesia. Pohon ini bukan sekadar pohon, tetapi juga penanda dan pengingat,” papar dia.
Penanaman pohon ini diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa pendidikan di ITB menggabungkan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) dengan seni dan humaniora.
“Mudah-mudahan peristiwa seperti ini dapat abadi dan kami bisa menghasilkan solusi-solusi yang holistik dan berkelanjutan,” kata dia.
Baca juga: Komisi III DPR Desak Penegak Hukum Usut Aktor Besar Tambang Ilegal di Manokwari
Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Andryanto Rikrik Kusmara menyampaikan, pohon ini menjadi simbol dan pengingat bahwa ITB harus tetap tumbuh dan terus memberikan kebermanfaatan.
“Saat ini, kami semua berada di sini untuk menghargai sebuah inisiasi yang dilambangkan dengan pohon beringin. Pesan ini perlu dijaga bersama-sama,” ujar Andryanto.
Dalam kesempatan tersebut, selain pimpinan ITB, empat mahasiswi ITB juga turut serta dalam penanaman dan penyiraman pohon beringin. Sekaligus mengingatkan kembali peristiwa penanaman empat pohon beringin pada 4 Juli 1919. [WLC02]
Sumber: IPB University, ITB







Discussion about this post