Jumat, 29 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kritik Masyarakat Sipil atas Pidato Kenegaraan 2025, Pembangunan Kian Ekstraktif dan Militeristik

Alih-alih menanggapi krisis iklim secara serius, pidato kenegaraan justru kembali menawarkan narasi lama tentang pengelolaan sumber daya alam berbasis ekstraksi. Gagasan “rakyat menambang” dikemukakan saat Prabowo membahas Koperasi Merah Putih.

Minggu, 17 Agustus 2025
A A
Acara Respons Masyarakat Sipil atas Pidato Kenegaraan pada HUT RI-80: Bersatu, Berdaulat, Rakyat (Oligarki) Sejahtera, Indonesia Maju di Kantor Celios, Jakarta Pusat, 16 Agustus 2025. Foto Youtube YLBHI.

Acara Respons Masyarakat Sipil atas Pidato Kenegaraan pada HUT RI-80: Bersatu, Berdaulat, Rakyat (Oligarki) Sejahtera, Indonesia Maju di Kantor Celios, Jakarta Pusat, 16 Agustus 2025. Foto Youtube YLBHI.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Spirit Api dalam Sistem Perladangan Berputar Bergeser Jadi Cara Mudah Membuka Lahan

Bhima juga menyinggung penggunaan istilah ‘serakahnomics’ oleh Prabowo yang justru menjadi pengakuan bahwa warisan ekonomi sebelumnya bermasalah.

“Kalau Jokowinomics berhasil, Prabowo tak akan menyebutnya ‘serakah nomics’. Itu pengakuan bahwa kebijakan sebelumnya mewariskan masalah besar,” ungkap dia.

Di sisi lain, Staf Advokasi Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT) yang juga Ketua Bidang Politik Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Jumisih meragukan klaim Prabowo dalam pidatonya, bahwa jutaan lapangan kerja telah tercipta dan tingkat pengangguran turun. Fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya, bahwa ada gelombang PHK, meningkatnya pekerjaan di sektor informal, dan memburuknya kondisi kerja.

Baca juga: Cegah Diabetes dan Obesitas, Konsumsi 2-3 Sendok Teh Gula Pasir dan Perbanyak Buah

“Saya tidak percaya penyerapan 1,2 juta tenaga kerja. Di lapangan, PHK terjadi di mana-mana, dari garmen, tekstil, hingga startup banyak yang tutup,” kata Jumisih.

Ia menekankan tidak cukup hanya bicara soal angka penyerapan kerja. Yang jauh lebih penting adalah memeriksa kualitas pekerjaan: bagaimana hubungan kerjanya, berapa besar upahnya, dan seperti apa jaminan sosial yang diterima pekerja.

“Kalau relasi kerjanya timpang dan tidak pasti, itu bukan peningkatan lapangan kerja, itu hanya perpanjangan tangan dari kapitalis,” imbuh dia.

Baca juga: Koalisi Tolak Penambangan Gamping di Kawasan Karst Sagea di Halmahera Utara

Pemerintah seolah hanya mengejar angka penyerapan kerja tapi membiarkan model pekerjaan yang timpang dan tidak berpihak pada pekerja. Ia menyebut hal ini sebagai bentuk ketundukan negara pada kepentingan kapitalis.

Sebagai contoh nyata dari memburuknya kualitas pekerjaan, Jumisih menyebut pekerja rumah tangga (PRT) yang jumlahnya sangat besar namun terus berada di sektor informal dan tanpa perlindungan hukum.

“PRT adalah contoh jelas dari peningkatan tenaga kerja informal. Mereka tidak punya kepastian kerja, tidak diakui secara hukum, dan negara pun terus abai. Tapi kelompok ini bahkan tidak disebut dalam pidato Presiden,” papar dia.

Baca juga: Ada 184 dari 1.835 Spesies Burung di Indonesia Terancam Punah

Komedi adalah solusi

Dodok, Komika dari Yogyakarta dengan gaya satirnya menyimpulkan bahwa pola-pola lama Orde Baru hidup kembali dalam bentuk yang lebih agresif.

“Yang diomongin selalu tambang untuk rakyat lewat TNI. Ini Soeharto banget. Seakan-akan semua masalah bisa selesai dengan militer,” kata Dodok.

Pernyataan satirnya menjadi penutup diskusi yang menunjukkan betapa absurditas kekuasaan hari ini bahkan bisa melampaui panggung komedi itu sendiri.

Baca juga: Aliansi Meratus Menduga Usulan Taman Nasional Kedok Perampasan Tanah Adat

“Tirani semakin merajalela, ke depan komedi adalah solusi, karena pemerintah yang konyol justru ancaman bagi komika,” ucap dia.

Pidato Kenegaraan itu kembali membuktikan bahwa negara lebih sibuk membangun legitimasi melalui angka-angka pertumbuhan dan proyek raksasa sementara suara rakyat yang kehilangan tanah, pekerjaan, dan kebebasan justru diabaikan.

Di tengah klaim stabilitas, fakta di lapangan justru menampakkan ketidakadilan yang semakin mendalam; masyarakat adat dirampas ruang hidupnya, banyak masyarakat dikriminalisasi, pekerja tidak dilindungi, ruang demokrasi terus menerus menyempit.

Baca juga: Indonesia Minta Perjanjian Plastik Global Tercapai Tanpa Penundaan

Di usia 80 tahun kemerdekaan, arah pembangunan semestinya bukan lagi mengulang pola lama yang menyingkirkan rakyat. Melainkan memastikan keadilan sosial, perlindungan hak asasi, serta keberlanjutan lingkungan.

Tanpa keberpihakan pada rakyat, kemerdekaan hanya tinggal seremonial, sementara oligarki kian menguat. Masyarakat sipil akan dan harus terus bersuara juga melawan, agar cita-cita kemerdekaan tidak direbut dari tangan rakyat. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: CELIOSJALA PRTOrde BaruPidato Kenegaraan Presiden 2025YLBHI

Editor

Next Post
Ekspedisi UKM Wanala Unair ke kawasan Bandealit, Kabupaten Jember, Jawa Timur pada Juli 2025 lalu, Foto Dok. UKM Wanala.

Menyusuri Jejak Rafflesia di Kawasan Bandealit Jawa Timur

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media