Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Lalat Bikin Risih di Meja Makan, Bagaimana Jika Bumi Tanpa Serangga?

Sebagian serangga dianggap hama pengganggu. Siapa sangka, makhluk kecil ini ternyata memegang peran mendasar dalam keberlangsungan ekosistem dan kehidupan manusia.

Minggu, 11 Mei 2025
A A
Lalat hinggap di atas makanan. Foto lengocson238/pixabay.com.

Lalat hinggap di atas makanan. Foto lengocson238/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Pakar Entomologi IPB University, Prof. Damayanti Buchori menyoroti betapa selama ini manusia kerap memandang serangga dari sisi negatifnya saja.

“Kalau dengar kata serangga, yang terlintas di benak orang biasanya semut, kecoa, atau nyamuk. Padahal serangga memegang peran kunci dalam hampir semua proses ekologi,” ujar dia.

Baca juga: Janji Komisi IV DPR, Revisi UU Kehutanan Terbuka hingga Ada Pengakuan Hutan Adat

Secara tak langsung, ia mengatakan bahwa serangga hadir di hampir seluruh tingkat trofik dalam rantai makanan. Kecuali autotroph, yakni organisme yang mampu menghasilkan makanan/energi sendiri.

“Serangga bisa menjadi herbivora, karnivora, hingga dekomposer. Bahkan tanpa mereka, proses daur ulang nutrisi di alam akan sangat lambat,” kata dia.

Salah satu peran paling mendasar serangga, menurut Damayanti adalah penyerbukan. Dalam 75 sampai 80 persen tanaman berbunga (Angiospermae) bergantung pada penyerbukan oleh hewan dan mayoritas di antaranya adalah serangga.

Baca juga: Yance Arizona, RUU Masyarakat Adat Masuk Prolegnas 2025 Tapi Perlu Pembaruan Draf Lagi

“Bayangkan kalau tidak ada lebah atau kupu-kupu. Hasil tanaman seperti kopi, teh, coklat, dan berbagai buah-buahan serta sayuran tak akan bisa dinikmati seperti sekarang,” jelas dia.

Sebagai Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Damayanti juga mengulas peran serangga sebagai musuh alami hama tanaman.

“Predator seperti tomcat itu memakan hama wereng, termasuk wereng batang cokelat. Kalau populasinya seimbang, kita tak butuh pestisida,” tutur dia.

Baca juga: GeoAI, Sistem Prediksi Suhu Permukaan Bumi untuk Adaptasi Iklim

Peran penting lain dari serangga adalah sebagai dekomposer. Kumbang kotoran, lalat bangkai, bahkan rayap, misalnya, mempunyai peran penting karena dapat menguraikan feses, bangkai, dan pohon-pohon yang tumbang di hutan, dan mengembalikan unsur-unsur hara kedalam tanah.

“Bahkan dalam dunia forensik, serangga digunakan untuk menentukan waktu kematian melalui urutan datangnya lalat dan kumbang pada bangkai,” ungkap dia.

Ia juga menyebutkan peranan serangga dalam siklus hidup pohon beringin atau dikenal sebagai bagian dari genus Ficus. Keberadaan Ficus sangat tergantung pada penyerbuknya, yaitu tabuhan kecil dari famili Agaonidae. Ada proses koevolusi yang telah terjadi ribuan tahun antara Ficus dan Agaonidae. Jika spesies tabuhan itu punah, maka spesies Ficus yang bergantung padanya juga akan punah.

Damayanti mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus pada sisi negatif serangga.

“Jangan merendahkan hewan-hewan kecil. Serangga itu memang kecil, tapi dampaknya luar biasa,” kata Damayanti. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: lalat rumahMusca domesticaPakar Entomologi IPB Universityserangga

Editor

Next Post
Ahli Manajemen Vertebrata Hama dan Ilmu Hama Tumbuhan IPB University, Swastiko Priyambodo. Foto Dok. IPB University.

Swastiko Priyambodo, Pengendalian Tikus Sawah Tak Hanya Andalkan Burung Hantu

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media