Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Lapisan Ozon Diklaim Berangsur Pulih, Aktivis: Waspada Regulasi Solusi Palsu

Protokol Montreal yang ditandatangani 35 tahun lalu diklaim mampu memulihkan lapisan ozon yang rusak. Sementara aktivis lingkungan mengingatkan regulasi dan kebijakan pemerintah yang berisi solusi palsu terkait pelestarian lingkungan.

Selasa, 20 September 2022
A A
Ilustrasi lapisan ozon. Foto TheDigitalArtist/pixabay.com

Ilustrasi lapisan ozon. Foto TheDigitalArtist/pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – United Nations Environment Programme (UNEP) mengklaim lapisan ozon yang rusak telah berangsur pulih karena hampir 99 persen bahan perusak ozon telah dihapuskan usai 35 tahun penandatanganan Protokol Montreal. Zat-zat berbahaya tersebut antara lain Hidrofluorokarbon (HFC), Kloroflorokarbon (CFC), dan Hidrokloroflorokarbon (HCFC) yang penghapusannya sedang berjalan saat ini. Kondisi tersebut juga diklaim menunjukkan kerja sama global dalam Protokol Montreal berhasil mencapai tujuannya.

Demikian Menteri Lingkungan hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar menyampaikan pidatonya dalam peringatan Hari Ozon Sedunia yang ke-35 pada 16 September 2022. Acara tersebut diadakan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) Kementerian LHK di Jakarta.

Baca Juga: Generasi Muda Mitigasi Perubahan Iklim, Apa dan Bagaimana

“Dampak implementasi Protokol Montreal telah meluas hingga ke ranah perubahan iklim. Perlu aksi kolaborasi, kemitraan, dan kerja sama global untuk menjawab tantangan perubahan iklim dan melindungi bumi bagi generasi mendatang,” papar Siti dalam peringatan yang mengusung tema “Montreal Protocol #35: Global Cooperation Protecting Life on Earth” (35 Tahun Kerja Sama Global Menjaga Kehidupan di Bumi).

Siti menjelaskan, salah satu konsumsi zat perusak ozon yang dikurangi berdasarkan Protokol Montreal adalah HFC. Zat ini penyebab gas rumah kaca dengan nilai potensi pemanasan global (Global Warming Potential/ GWP) yang tinggi.

“Pengurangan konsumsi HFC meningkatkan efisiensi energi melalui Amendemen Kigali sehingga dapat memperlambat gangguan iklim,” jelas Siti.

Baca Juga: AS Nilai RI Mitra Strategis Atasi Perubahan Iklim, Ini Klaim Alasannya

Nilai GWP dari berbagai jenis HFC berkisar antara 53 hingga 14.800 atau setara CO2 (karbondioksida). Nilai itu jauh lebih besar apabila dibandingkan dengan nilai GWP dari CO2 sebesar 1. Jika HFC memiliki GWP sebesar 100, maka 2 ton gas tersebut setara dengan 200 ton CO2.

Peringatan Hari Ozon Sedunia juga ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara Ditjen PPI dengan sembilan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Kementerian Tenaga Kerja, khususnya yang mencetak teknisi AC (air conditioner). Teknisi AC yang kompeten menjamin dilakukannya praktik pemeliharaan AC yang baik (good servicing practices) dan ramah lingkungan karena tidak melepas refrigeran ke lingkungan.

Dampak Pemanasan Global

Sementara BEM Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga (Unair) menggelar webinar bertajuk “Game Changer for Climate Change” dengan menghadirkan finance campaigner dari organisasi 350 Indonesia, Suriadi Darmoko sebagai pembicara. 350 Indonesia merupakan organisasi yang bergerak di bidang lingkungan dan berkomitmen mendorong transisi menuju energi terbarukan di Indonesia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: 350 Indonesiaaktivis lingkunganbahan perusak ozonCFCGRKHari Ozon SeduniaHCFCHFCKementerian LHKkrisis iklimlapisan ozonpemanasan globalperubahan iklimProtokol Montreal

Editor

Next Post
Dampak gerakan tanah di Bogor, warga swadaya membangun jalan darurat. Foto Dok BNPB.

Gerakan Tanah di Bogor, Warga Terdampak Bertambah dan 11 KK Bertahan Mengungsi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media