Wanaloka.com – Bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat menjadi sorotan nasional di tengah meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi hingga awal Februari 2026. Bahkan dengan kecenderungan intensitas tinggi yang dapat berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana ikutan, terutama di wilayah dengan karakteristik geologi dan morfologi yang rentan.
Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun menjelaskan hujan intensitas tinggi berperan sebagai pemicu longsor, namun bukan satu-satunya faktor penyebab.Faktor lain seperti kemiringan lereng, jenis tanah dan batuan, tingkat pelapukan, tutupan lahan, serta aktivitas manusia juga sangat menentukan.
Hujan dengan intensitas sedang namun berdurasi panjang juga dapat sama berbahayanya dengan hujan sangat lebat dalam waktu singkat. Sebab sama-sama dapat menyebabkan kejenuhan tanah. Mengingat longsor merupakan bagian dari proses geologi dan lingkungan yang berlangsung secara bertahap dalam jangka panjang.
Baca juga: Begini Mekanisme Aliran Lumpur Saat Longsor Bandung Barat
Sementara wilayah Kabupaten Bandung Barat berada pada lingkungan geologi yang didominasi produk-produk vulkanik tua dengan lapisan pelapukan yang relatif tebal. Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang lebih kedap air kerap menjadi bidang gelincir potensial.
“Kondisi ini semakin lemah ketika air hujan meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh. Saat itu, kekuatan geser material lereng menurun drastis sehingga lereng tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri,” jelas Imam.
Secara geomorfologi, kawasan perbukitan dan pegunungan yang mendominasi wilayah Bandung Barat juga membuat daerah ini secara alami memiliki tingkat kerawanan longsor yang tinggi. Terutama di lereng-lereng terjal yang terhubung langsung dengan sistem aliran sungai.
Berdasarkan informasi pemerintah daerah, longsor di Desa Pasir Langu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat berdampak pada area yang cukup luas dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar. Hingga beberapa hari setelah kejadian, proses pencarian dan pertolongan masih terus dilakukan terhadap warga yang tertimbun material longsor. Sementara ratusan warga lainnya terpaksa mengungsi demi keselamatan.
Baca juga: Petani Korban Penembakan di Pino Raya Dikriminalisasi
Dampak besar tersebut tidak selalu disebabkan longsor lokal di sekitar permukiman. Dalam beberapa kasus, kerusakan justru dipicu material longsoran dari bagian hulu yang terbawa melalui alur sungai.
“Rumah-rumah warga tidak selalu berada di zona sumber longsoran, tetapi terdampak material yang dikirim dari hulu melalui sistem aliran sungai,” ujar dia.
Ada potensi bahaya susulan pascalongsor, terutama apabila masih terdapat sumbatan material di bagian hulu sungai. Sumbatan tersebut dapat membentuk bendungan alam sementara yang menahan aliran air dan sedimen.
“Jika hujan kembali terjadi dengan intensitas tinggi, bendungan alam ini berpotensi jebol dan memicu aliran lumpur atau aliran debris ke arah hilir,” jelas dia.
Aliran bermuatan sedimen memiliki daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan aliran air biasa. Dengan demikian, kawasan di sepanjang sempadan sungai perlu mendapat kewaspadaan khusus.
Baca juga: Longsor Bandung Barat, KLH Sebut Ada Kerapuhan pada Struktur Tutupan Lahan
Ancaman longsor tidak hanya terbatas di Bandung Barat. Namun juga berpotensi terjadi di wilayah lain dengan karakteristik geologi dan morfologi serupa, seperti Bogor dan beberapa daerah lain di Jawa Barat.
Setiap wilayah memiliki karakter longsor yang berbeda. Ada yang lebih dipengaruhi faktor geologi, ada pula yang dominan karena kemiringan lereng atau perubahan tutupan lahan.
“Atrategi mitigasi harus disesuaikan dengan kondisi setempat,” imbuh dia.
Indonesia telah memiliki peta zonasi kerentanan gerakan tanah yang dapat diakses masyarakat dan pemangku kebijakan. Peta tersebut memuat informasi tingkat kerawanan longsor suatu wilayah dan seharusnya menjadi rujukan utama dalam perencanaan tata ruang serta aktivitas pembangunan.







Discussion about this post