Wanaloka.com – Operasi pencarian dan pertolongan korban bencana longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat hingga hari keenam, Kamis, 29 Januari 2026 pukul 15.05 WIB, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi tiga korban dalam kantong jenazah.
Total terdapat 56 kantong jenazah yang diserahkan kepada tim DVI untuk proses identifikasi. Kantong jenazah itu bisa berupa potongan anggota tubuh sehingga perlu dilakukan pendalaman identifikasi.
Lokasi penemuan korban longsor hari ini di sektor A1 dan B1. Penguatan alat berat dan anjing pelacak juga terus dikerahkan dalam upaya percepatan pencarian dan pertolongan. Sedikitnya 15 unit ekskavator sudah diterjunkan untuk mempercepat proses operasi pencarian.
“Upaya penanganan saat ini masih terus fokus terhadap operasi pencarian dan pertolongan,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam siaran tertulis, 29 Januari 2026.
Baca juga: Gayatri Marliyani, Kemungkinan Aktivitas Sesar Opak Akibat Tekanan dari Gempa Pacitan
Kondisi cuaca yang masih terkadang turun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang menjadi tantangan bagi tim SAR gabungan. Namun tidak menyurutkan semangat para tim SAR gabungan yang sudah mencapai 3.229 personel.
“Proses pencarian kembali dilanjutkan esok pagi dengan menyisir sektor A dan sektor B,” imbuh Muhari.
Ancaman longsor susulan
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana gerakan tanah berupa longsor yang terjadi, Jumat, 24 Januari 2026 lalu. Terutama saat hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi Lana Saria menjelaskan longsor dipicu curah hujan tinggi yang terjadi sebelum dan saat kejadian. Kondisi itu menyebabkan peningkatan tekanan air pori, penurunan kuat geser tanah, dan terjadi kegagalan lereng.
Selain faktor hujan, gerakan tanah itu juga dipengaruhi kondisi geologi setempat yang didominasi batuan gunung api tua yang telah lapuk, kemiringan lereng yang curam, serta keberadaan rekahan dan sesar geologi.
Baca juga: BMKG Bantah Operasi Modifikasi Cuaca Jadi Pemicu Ketidakstabilan Cuaca
Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah terdampak termasuk Zona Kerentanan Gerakan Tanah Menengah. Pada zona ini, gerakan tanah berpotensi terjadi terutama pada lereng yang telah mengalami gangguan, baik secara alami maupun akibat aktivitas manusia, khususnya saat hujan deras berlangsung lama.
Aktivitas pemotongan lereng untuk permukiman dan akses jalan, serta sistem drainase permukaan yang belum optimal, turut memperbesar risiko longsor dan menurunkan kestabilan lereng di kawasan perbukitan tersebut.
“Peristiwa ini menunjukkan keterkaitan kuat antara kondisi morfologi curam, batuan vulkanik lapuk, struktur geologi, serta pengaruh curah hujan tinggi terhadap terjadinya longsor berskala luas,” jelas Lana di Bandung, Minggu, 25 Januari 2026.
Pasca kejadian, Badan Geologi memberangkatkan Tim Tanggap Darurat (TTD) ke lokasi bencana. Tim telah melakukan pemeriksaan lapangan untuk mengetahui penyebab gerakan tanah serta menyiapkan rekomendasi teknis penanganan di area terdampak seluas kurang lebih 30 hektar.
Baca juga: Tahun 2026 Lebih Panas, Habis Banjir Bandang Terbitlah Karhutla di Sumatra
Tim yang beranggotakan 10 orang (5 tim teknis dan 5 nonteknis) tersebut akan memberikan rekomendasi teknis penanganan bencana gerakan tanah dan sosialisasi mengenai kondisi gerakan tanah yang telah terjadi kepada masyarakat yang terkena bencana.
“Ini bagian dari mitigasi bencana yang mungkin dapat terulang kembali,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hadi Wijaya.
Wilayah terdampak merupakan daerah perbukitan dengan kepadatan permukiman dan aktivitas pemanfaatan lahan yang cukup tinggi. Badan Geologi meminta warga di sekitar lokasi longsor untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih aman.






Discussion about this post