Selasa, 22 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Manusia Tinggal Punya Waktu 7 Tahun Lagi untuk Menjaga Bumi

Kian sempit waktu manusia untuk mencegah pemanasan global. Setidaknya menjaga suhu bumi tak naik lebih dari 1,5 derajat Celcius.

Jumat, 22 April 2022
A A
Ilustrasi konisi bumi akibat penggunaan energi fosil. Foto sumanley/pixabay.com.

Ilustrasi krisis iklim di bumi. Foto sumanley/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tema besar Hari Bumi 2022, yakni “Invest in Our Planet” atau investasi di planet kita mungkin akan tinggal nama. Menurut pakar iklim dari PBB pada 4 April 2022, manusia mempunyai waktu kurang dari tiga tahun untuk menghentikan emisi karbon yang memicu pemanasan global (global warming). Serta punya waktu kurang dari satu dekade untuk memangkas hampir setengahnya. Dengan kata lain, manusia tinggal punya waktu tujuh tahun lagi untuk menjaga bumi dengan mencegah pemanasan global tak separah hari ini.

Apabila gagal, bisa jadi waktu untuk memperingati Hari Bumi tinggal tujuh tahun lagi. Mengapa?

Dilansir dari utas akun Twitter @infoAstronomy, bahwa bukan tanpa alasan batasan waktu tujuh tahun itu. Mengingat pada 2018, secara internasional disepakati batasan pemanasan global yang dibuat manusia tak boleh lebih dari 1,5 derajat Celcius. Lantaran berisiko pada pelepasan efek perubahan iklim yang lebih parah bagi kehidupan semua makhuk hidup dan ekosistem di bumi apabila batasan itu dilanggar.

Baca Juga: Hari Bumi, Google Doodle Sajikan Potret Kerusakan Bumi

Lantas, berapa suhu bumi saat ini? Suhu bumi telah naik 1,1 derajat Celcius. Dan dampaknya sudah terasa meskipun kenaikannya masih di bawah 1,5 derajat Celcius. Dampak yang paling mudah dirasakan adalah manusia sudah kesulitan menentukan kapan musim kemarau dan penghujan tiba. Bulan Desember yang biasanya ditandai sebagai musim penghujan dengan hujan yang deras, pada 2021 lalu justru berasa panas seperti musim kemarau. Kondisi ini membuat petani kesulitan menentukan kapan saatnya menanam.

Sejumlah negara sudah merasakan dampaknya. Seperti hujan deras melanda Tiongkok dan Eropa yang mengakibatkan banjir dan ratusan orang tewas. Kemudian es di Greenland mencair secara besar-besaran sehingga bisa meneggelamkan daratan. Sementara kekeringan parah melanda Brazil yang mengakibatkan ratusan satwa liar mati kehausan.

Kondisi-kondisi tersebut merupakan tanda-tanda pemanasan global. Sebagaimana dilansir dari National Wildlife Foundation, pemanasan global adalah peristiwa yang membuat semakin hari bumi semakin panas, hujan banjir makin deras, badai makin hebat, dan kekeringan makin parah.

Baca Juga: Ini Salah Satu Penyebab Banjir Satu Meter Lebih di Labura

Kemudian, apa skenario terburuk? Pertama, apabila perilaku manusia berupa melepas emisi karbon masih berlangsung seperti saat ini, suhu bumi akan naik lebih dari 1,5 derajat Celcius dalam waktu tujuh tahun lagi. Artinya, dampak pemanasan global tak lagi bisa dicegah dan diubah.

Kedua, apabila suhu bumi naik 1,5 derajat Celcius akan berdampak pada produksi pangan yang menurun. Harga pangan naik drastis, kelaparan terjadi pada manusia sedunia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: derajat CelciusEmisi karbonglobal warmingmenjaga bumipemanasan global

Editor

Next Post
Kondisi banjir di Desa Dawuan Tengah, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Kawarang, Provinsi Jawa Barat, pada Jumat, 22 April 2022. Foto Dok BNPB

1.200 Penduduk Terdampak Banjir di Karawang

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media