Wanaloka.com – Indonesia selama ini dikenal sebagai eksportir bahan mentah minyak atsiri 5 hingga 8 ton per tahun dengan nilai mencapai triliunan rupiah untuk diolah pihak luar negeri. Padahal kemenyan negeri ini memiliki potensi ekonomi yang luar biasa apabila diolah dengan teknologi yang tepat. Pusat Riset Botani Terapan (PRBT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengubah persepsi tersebut dengan menciptakan produk turunan bernilai tinggi, mulai dari parfum yang bernilai mewah di kancah dunia hingga serum kecantikan berbasis tanaman asli Nusantara.
“Styrax Parfumes atau parfum kemenyan ini kalau dibeli di Paris harganya minimal sekitar 5 juta rupiah. Padahal dengan modal sekitar 200 ribu rupiah (bahan baku), kita bisa menghasilkan produk bernilai jutaan rupiah,” jelas Peneliti PRBT BRIN, Aswandi dalam Temu Bisnis Biosains Terapan 2026, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.
Aswandi menjelaskan bagaimana tanaman yang sering dianggap mistis seperti kemenyan dan kapur barus (kamper), diburu industri kosmetik dunia, terutama dari Prancis dan Eropa.
“Jadi sebetulnya kami punya banyak mitra. Bahkan sudah berjalan. Ada juga yang akan datang ke Indonesia, yaitu dari perusahaan-perusahaan Prancis, dan juga Eropa yang akan mencoba untuk bagaimana menggunakan produk-produk ini,” ungkap dia.
Ia pun memberikan perbandingan. Parfum berbasis kemenyan di Paris bisa dijual minimal Rp5 juta, sementara bahan bakunya bisa diperoleh dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Baca juga: Matcha Bukan Solusi Instan agar Kulit Glowing
Berdasarkan data riset, parfum kemenyan hasil inovasi BRIN (Paten No. S00202314472) mengandung senyawa kompleks. Antara lain Bornyl acetate yang memberikan aroma pedas dan kayu, serta Linalool yang memberikan sentuhan aroma bunga dan jeruk yang manis.
“Kami menciptakan signature perfume konsentrasi tinggi yang tidak hanya bertahan lama, tetapi juga memiliki khasiat aromaterapi,” imbuh dia.
Selain kemenyan, riset difokuskan pada pohon Kapur (Kafura). Aswandi mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa pada masa lalu, harga satu gram kapur barus alami setara dengan satu gram emas. Hingga saat ini, nilai ekonominya tetap tinggi, yakni satu kilogram kristal kapur alami bisa mencapai harga Rp100 juta.
“Tapi bukan kapur barus yang kita gunakan di rumah itu. Melainkan dari tanaman yang selama ini identik dengan peradaban Islam di Indonesia. Sebetulnya, bahan-bahan ini sangat Indonesia banget, gitu. Tidak ada di tempat lain,” tutur dia.
Inovasi bertajuk “Kafura Perfumes” memanfaatkan resin dari pohon Dryobalanops aromatica. Aroma kapur barus yang segar dan dingin (mentol) dikombinasikan dengan rempah nusantara lainnya untuk menciptakan produk yang sangat diminati pasar Timur Tengah dan Eropa.
Baca juga: Riset BRIN, Paparan Radiasi Alam Mamuju Capai 9 Kali Rata-Rata Dunia
“Permintaan industri dari Paris mencapai 200 ribu ton per tahun. Namun, kita sering terkendala ketersediaan karena kerusakan hutan. Kami juga fokus pada konservasi populasi pohon kapur di Sumatra Utara,” papar dia.
BRIN tengah berupaya melakukan konservasi populasi pohon kapur terbesar yang baru ditemukan di Sumatra Utara. Biar bahan baku ini bisa dikelola secara berkelanjutan, tanpa merusak hutan.






Discussion about this post