Sejauh ini, WHO telah melakukan asesmen terhadap kasus tersebut dan menyimpulkan risiko pandemi global masih rendah. Sebab penyebaran virus sejauh ini masih terbatas pada penumpang kapal pesiar dan dapat dikendalikan melalui isolasi serta pelacakan kontak secara cepat.
“Kontak dengan penderita harus dekat dan dalam jangka waktu yang lama. Penularannya juga bisa langsung dihentikan di kapal,” jelas dia.
Selain faktor pola penularan yang terbatas, respons internasional yang cepat juga menjadi alasan mengapa wabah dinilai masih terkendali. Berbagai lembaga kesehatan internasional telah melakukan koordinasi untuk proses isolasi pasien, karantina, hingga pelacakan kontak lintas negara.
Riris juga menekankan secara umum Hantavirus tetap tergolong zoonosis dengan transmisi utama dari hewan pengerat. Namun, terdapat laporan khusus pada strain Andes yang memungkinkan penularan antarmanusia.
“Secara umum, tetap zoonosis. Yang menjadi strain Andes itu human to human karena itu bisa menyebabkan pulmonary disease di paru-paru. Karena paru-paru itu organ pernapasan kita, sehingga bisa menyebar melalui droplet. Tetapi itu bukanlah yang utama karena butuh kontak erat yang lama,” terang dia.
Rantai penularan lewat tikus
Dokter Spesialis Penyakit dalam dari RSUP Sardjito, Alindina Anjani memaparkan Hantavirus merupakan virus RNA yang termasuk kelompok zoonosis dan ditularkan terutama melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit. Penularan ke manusia terjadi melalui kontak dengan urin, feses, air liur, maupun aerosol dari ekskresi tikus yang terinfeksi. Keberadaan tikus menjadi faktor penting dalam rantai penularan penyakit.
“Kalau tidak ada tikusnya, kemungkinan tidak ada penularan ke manusia seperti ini. Yang berisiko terkena tentunya yang selalu berinteraksi dengan tikus,” jelas Alindina.
Kelompok yang rentan terpapar Hantavirus antara lain pekerja gudang, petani, pekerja kehutanan, hingga individu yang sering melakukan aktivitas luar ruang seperti berkemah. Risiko juga meningkat pada lingkungan dengan sanitasi buruk atau area yang mengalami infestasi tikus.
Secara umum terdapat dua sindrom utama akibat infeksi Hantavirus, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS), serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS). HPS lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika Utara dan Selatan, sedangkan HFRS dominan di Asia dan Eropa.
Kedua sindrom tersebut memiliki reservoir dan karakteristik virus yang berbeda. Pada HPS, reservoir utama berasal dari rodensia liar di kawasan Amerika seperti deer mouse, sementara HFRS lebih banyak ditularkan melalui tikus rumah, tikus sawah, maupun vole yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa.
“Karena keduanya berbeda, reservoir-nya berbeda, jenis tikusnya juga berbeda, tetapi cara penularannya hampir sama,” kata dia.
Umumnya, penularan Hantavirus terjadi melalui inhalasi aerosol yang mengandung partikel virus dari urin, feses, atau saliva tikus. Penularan antarmanusia sangat jarang terjadi, khususnya pada HFRS yang hingga kini belum menunjukkan transmisi manusia ke manusia secara signifikan.
Pada pemaparan mengenai patogenesis, HPS terutama menyerang paru dan sistem kardiovaskular. Kondisi ini kemudian memicu sesak napas progresif, hipoksia, hingga gagal napas berat dan syok.
Jika perjalanan penyakit HPS terdiri atas beberapa fase, mulai dari fase prodromal dengan gejala demam, malaise, mialgia, mual, dan muntah, kemudian berkembang ke fase kardiopulmoner yang ditandai gangguan pernapasan berat.
Pada pemeriksaan laboratorium biasanya ditemukan trombositopenia, hemokonsentrasi, dan leukositosis. Sementara pada HFRS, organ target utama adalah ginjal dan endotel vaskular. Kerusakan vaskular akibat infeksi menyebabkan kebocoran kapiler serta gangguan fungsi ginjal yang memunculkan manifestasi berupa demam tinggi, hipotensi, oliguria, proteinuria, hematuria, hingga perdarahan.
Selain gejala klinis, ia juga memaparkan perbedaan karakteristik kedua sindrom tersebut. HPS cenderung memiliki mortalitas lebih tinggi dengan angka kematian mencapai sekitar 30-40 persen akibat gagal napas dan syok. Sebaliknya, tingkat keparahan HFRS lebih bervariasi tergantung jenis virus penyebabnya, seperti Hantaan, Seoul, Puumala, maupun Dobrava virus.
Alindina juga menekankan manifestasi HFRS kerap menyerupai berbagai penyakit infeksi tropis lain sehingga perlu perhatian khusus dalam diagnosis banding. Penyakit yang perlu dipertimbangkan antara lain demam berdarah dengue, leptospirosis, malaria, disseminated intravascular coagulation (DIC), hemolytic uremic syndrome, sepsis, hingga scrub typhus.
Kemiripan gejala tersebut dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis apabila tenaga kesehatan tidak memiliki kewaspadaan terhadap kemungkinan infeksi Hantavirus. Terutama pada pasien dengan riwayat paparan tikus atau lingkungan berisiko.
Pusat Studi Kedokteran Tropis FK-KMK UGM mendorong peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap ancaman penyakit zoonosis yang berpotensi muncul kembali. Pemahaman mengenai faktor risiko, mekanisme penularan, serta pengenalan gejala dini diharapkan dapat membantu upaya pencegahan dan penanganan kasus secara lebih cepat dan tepat. Masyarakat juga diimbau untuk mengenali, melaporkan, dan mencegah penularan bersama agar dapat bahu-membahu menjaga kesehatan lingkungan dan memutus rantai penyebaran hantavirus. [WLC02]
Sumber: Kementerian Kesehatan, UGM






Discussion about this post