Namun varian ini tidak menunjukkan tingkat keparahan atau fatalitas yang lebih tinggi dibandingkan varian sebelumnya, seperti Omicron atau Delta.
Baca juga: Pesut Mahakam Tinggal 62 Ekor Akibat Limbah Tambang dan Domestik
“Masih tidak ada indikasi bahwa Nimbus lebih parah atau lebih mudah menular dibanding varian sebelumnya. Transmisinya masih lewat droplet, kontak erat, dan napas, tidak berubah dari yang kita ketahui selama ini,” papar dia.
Seperti varian SARS-CoV-2 lainnya, kelompok lansia, individu dengan komorbiditas seperti diabetes, hipertensi, atau kanker, serta mereka yang belum mendapat vaksinasi lengkap tetap menjadi populasi yang paling rentan. Fatalitas biasanya terjadi pada mereka yang punya komorbid dan tidak memiliki riwayat vaksinasi.
“Vaksinasi memang tidak membuat seseorang 100 persen kebal, tapi sangat penting untuk mencegah keparahan,” terang dia.
Baca juga: Menhut akan Susun Syarat Pendakian Berdasar Tingkat Kesulitan Setiap Gunung
Dengan tingginya mobilitas masyarakat antarnegara, kemungkinan varian Nimbus masuk ke Indonesia sangat terbuka. Citra menekankan pentingnya surveilans aktif di fasilitas layanan kesehatan.
“Kalau ada gejala seperti flu, batuk pilek, segera istirahat, WFH jika memungkinkan, dan tetap gunakan masker. Etika batuk, cuci tangan, dan menjaga jarak itu kunci. Ini prinsip dasar perilaku hidup bersih dan sehat yang harus kita pertahankan,” ujar dia.
Meski varian Nimbus merupakan bagian dari proses alami evolusi virus Covid-19, Citra mengimbau masyarakat tidak panik. Namun tetap waspada dengan cara menerapkan protokol kesehatan, menjaga imunitas, dan melengkapi vaksinasi, terutama bagi kelompok rentan.
“Peran serta masyarakat dan institusi kesehatan dalam melakukan pengamatan, pelaporan, dan edukasi sangat krusial untuk mencegah penyebaran secara luas dan menjaga stabilitas kesehatan masyarakat,” imbuh Citra. [WLC02]
Sumber: UGM
Discussion about this post