“Kita jadi tahu komposisi batuan yang ada di sekitar bumi, umur dari meteorit bisa menjadi informasi umur Bumi. Kami juga bisa mengetahui bagaimana sistem tata surya yang terjadi, serta memanfaatkan kandungan dari meteorit tersebut,” jelas dia, Kamis, 16 Oktober 2025.
Baca juga: Air Hujan Jakarta Mengandung Mikroplastik, Orang Indonesia Telan 15 Gram Mikroplastik Per Bulan
Nugroho mengatakan untuk memastikan keaslian kandungan dalam meteorit tersebut harus memiliki cara khusus dalam pengambilannya untuk diteliti lebih lanjut. Sampel meteorit lebih banyak diambil dari kutub selatan, karena disana permukaan dari Benua Antartika sebagian besar tertutupi salju, sehingga ketika ada benda langit yang warnanya lebih gelap bisa terlihat dengan jelas.
“Semakin cepat mengambil sampel dari masa jatuhnya itu semakin baik, kalau semakin lama meteorit sudah bercampur dengan tanah, dan lapuk tentu akan mengurangi keaslian meteorit tersebut,” ujar dia.
Nugroho menambahkan, salah satu kandungan organik yang ditemukan di dalam meteorit adalah asam amino. Namun, asam amino juga bisa menghilang sebelum sampai di bumi. Sebab dengan suhu tinggi saat menembus atmosfer, kandungan organik di dalam meteorit bisa lepas atau terkikis habis sehingga pada saat jatuh di permukaan bumi yang tersisa hanya kandungan non-organiknya.
“Ketika meteorit memiliki pori untuk menyimpan asam amino, dia akan lebih aman tetapi kalau tidak berpori dan asam amino hanya terselubung di bagian luar, tidak akan survive lagi ketika jatuh di bumi,” imbuh dia.
Baca juga: Gastronomy Tour Suguhkan Rasa, Kisah dan Filosofi di Balik Kuliner Indonesia
Selain berkah yang didapat dari meteorit, adanya musibah yang terjadi akibat dari jatuhan meteorit tersebut tidak bisa terlupakan. Musibah itu beberapa terekam dan terjadi ketika meteor jatuh di pemukiman atau di laut, dengan ukuran yang besar, sehingga bisa menyebabkan adanya tsunami.
Berdasarkan prediksi tabrakan asteroid, Nugroho mengatakan bahwa prediksi itu sangat memungkinkan sekali untuk tidak terjadi. Terlebih Bumi memiliki perlindungan yang cukup baik yaitu atmosfer, sehingga benda ruang angkasa yang ukurannya besar itu bisa menjadi lebih kecil dan akan mengurangi dampak yang dihasilkan. Namun, apabila jatuhan tersebut tetap terjadi maka diharapkan tidak menimbulkan dampak yang besar, dan ukurannya meteornya pun jauh lebih kecil, dan jatuhnya tidak di pemukiman.
“Tentu saja potensi jatuhan meteorit itu masih ada karena kita memiliki asteroid yang ada di sekitar bumi,” kata dia.
Meteor masuk atmosfer
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin menjelaskan selain video ketampakan meteor ada juga data dari BMKG Cirebon yang merekam adanya getaran mulai pukul 18.39. Berdasarkan analisis data yang sahih tersebut disimpulkan fenomena dentuman tersebut terkait dengan meteor cukup besar yang memasuki atmosfer di wilayah udara sekitar Kuningan dan Cirebon.
Baca juga: Hari Pangan Sedunia, Pakar IPB Sebut Lahan Sawah Indonesia Hanya 7,3 Juta Hektare
“Berdasarkan waktu pengamatan dan data dari BMKG Cirebon, yang mendeteksi adanya getaran pada pukul 18.39:12 WIB dengan azimut 221, serta laporan adanya suara dentuman di beberapa titik, kami memperkirakan meteor berukuran cukup besar melintas dan menimbulkan gelombang kejut di atmosfer bagian bawah,” terang Thomas melalui pesan tertulis, Senin, 7 Oktober 2025.
Menurut dia, fenomena bola api (fireball) tersebut terjadi ketika meteor memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan tinggi, lalu terbakar akibat gesekan udara. Ketika meteor mencapai lapisan udara yang lebih padat, tekanan meteor berkecepatan tinggi tersebut menimbulkan gelombang kejut (shockwave) yang terdengar sebagai dentuman keras.
“Cahaya terang terlihat sekitar pukul 18.35 WIB saat meteor terbakar di atmosfer. Beberapa saat setelahnya, gelombang kejut terdengar di wilayah Kuningan dan Cirebon yang terekam pada sensor BMKG pukul 18.39 WIB. Fenomena seperti ini lazim disebut meteor bollide atau bola api,” jelas dia.
Thomas menambahkan, indikasi getaran yang terekam sensor BMKG menguatkan dugaan bahwa ledakan akibat meteor tersebut memiliki energi yang cukup besar. Namun, hingga kini belum ada laporan mengenai jatuhnya meteor tersebut di darat. Berdasarkan estimasi arah lintasan, kemungkinan meteor jatuh di wilayah Laut Jawa.
Baca juga: Si-AZA, Deteksi Alkohol dan Zat Adiktif pada Pangan secara Langsung
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada beredarnya video atau foto di media sosial yang mengklaim merekam peristiwa tersebut.
“Beberapa video yang beredar perlu diverifikasi keasliannya karena bisa jadi berasal dari kejadian di negara lain. Yang perlu dicatat, hasil analisis menunjukkan peristiwa di Cirebon dan Kuningan merupakan kejadian nyata meteor alami, bukan bola api yang bisa menimbulkan kebakaran,” papar dia.
Menurut dia, fenomena meteor besar seperti ini bukan hal yang berbahaya bagi masyarakat selama fragmen benda langit tidak sampai ke permukaan bumi. Sebagian besar meteoroid akan habis terbakar di atmosfer sebelum mencapai tanah atau jatuh di wilayah tak berpenduduk. Namun, penelitian terhadap fenomena seperti ini sangat penting untuk memahami dinamika benda langit yang mendekati bumi.
“Peristiwa ini bisa menjadi pengingat bahwa bumi terus dihadapkan dengan benda-benda langit di antariksa yang orbitnya mungkin berpapasan dengan Bumi,” ujar dia.
Thomas juga mengimbau masyarakat yang menemukan benda jatuh antariksa, baik pecahan meteor maupun pecahan sampah antariksa, agar tidak menyentuh langsung dan segera melapor ke pihak berwenang.
“Kami akan mempelajari secara ilmiah jika ada temuan di lapangan. Setiap data akan membantu kami memperkaya pemahaman tentang fenomena jaruhnya benda antariksa,” kata dia. [WLC02]
Sumber: IPB University, UGM, BRIN







Discussion about this post