Jumat, 16 Januari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mimpi Kawasan Konservasi Jadi Rumah Aman Bagi Gajah Sumatra 

Sedikitnya, 1.585 hektare habitat gajah Sumatra hilang sepanjang Januari 2024 hingga Oktober 2025. Angka tersebut belum termasuk dugaan perambahan ilegal seluas 4.000 hektare karena dikonversi menjadi perkebunan sawit.

Jumat, 28 November 2025
A A
Gajah Sumatera di lokasi konservasi di Tangkahan, Sumatra Utara. Foto Soetana Monang Hasibuan/Wanaloka.com.

Gajah Sumatera di lokasi konservasi di Tangkahan, Sumatra Utara. Foto Soetana Monang Hasibuan/Wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Burhanuddin menjelaskan area yang hilang merupakan bagian dari koridor jelajah musiman di Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis. Koridor ini berfungsi menjadi jalur migrasi, sumber pakan, hingga ruang yang memfasilitasi proses reproduksi alami.

Baca juga: Aceh Dikepung Banjir, Simeulue Diguncang Gempa 6,5 M

“Jika koridor musiman hilang, sinkronisasi perilaku fisiologis untuk perkawinan dapat terganggu. Ketika reproduksi terganggu, penurunan populasi menjadi keniscayaan,” kata dia.

Percepatan alih fungsi hutan menjadi perkebunan, lahan budi daya, hingga permukiman meningkatkan potensi konflik manusia-gajah. Fenomena serupa telah terjadi sebelumnya di Aceh dan Riau, yang mencatat tingginya kematian gajah akibat perburuan, keracunan, dan benturan dengan aktivitas manusia.

Menurut Burhanuddin, akar masalahnya adalah dominasi orientasi ekonomi dalam kebijakan tata guna lahan. Banyak alih fungsi terjadi secara ilegal. Koridor ekologis nyaris tidak masuk dalam pertimbangan kebijakan.

“Yang dominan adalah nilai finansial jangka pendek,” kata dia.

Di tingkat masyarakat, cara pandang bahwa gajah adalah hama juga turut memperburuk situasi. Tanpa edukasi dan intervensi, persepsi ini dapat mendorong tindakan berbahaya seperti peracunan atau pembunuhan gajah.

Baca juga: Siklon Tropis 95B Jadi Siklon Tropis Senyar, Siaga Cuaca Ekstrem di Aceh dan Sumatra Utara

Sebagai langkah strategis, Burhanuddin menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga untuk memetakan ulang wilayah jelajah gajah, terutama yang terhubung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat. Ia juga menyoroti pentingnya implementasi Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, terutama terkait penetapan area preservasi seperti koridor ekologis dan kawasan bernilai konservasi tinggi.

Selain itu, ia menilai pembangunan areal konservasi gajah dengan pendekatan flying squad merupakan solusi realistis yang telah terbukti efektif di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Program ini, tidak hanya mengurangi konflik, tetapi juga membuka peluang wisata edukasi bagi masyarakat.

“Pelibatan masyarakat adalah kunci. Tanpa mereka, konservasi hanya akan menjadi dokumen kebijakan tanpa implementasi,” tegas Burhanuddin.

Kesehatan gajah Way Kambas

Sementara di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, dua gajah betina jinak kembali dilaporkan mati dalam rentang satu bulan terakhir. Kedua gajah Sumatera bernama Dona dan Suli tersebut mengalami penurunan kondisi akibat infeksi parasit dan sirosis hati meskipun telah mendapatkan penanganan medis intensif sejak awal gejala terdeteksi.

Baca juga: Banjir Bandang dan Longsor Sumatra Utara, Akses ke Tapanuli Tengah dan Sibolga Terisolisir

Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas menjelaskan seluruh upaya telah dilakukan. Namun kondisi kedua satwa dilindungi itu terus memburuk hingga akhirnya tidak terselamatkan.

Menanggapi kasus ini, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Raden Wisnu Nurcahyo, menilai kematian gajah di Way Kambas bukanlah peristiwa baru, melainkan telah berulang selama bertahun-tahun. Ia menyebut kematian Dona dan Suli tergolong tragis karena keduanya merupakan gajah dewasa, bukan anak gajah yang rentan terserang EEHV.

Ia menduga infeksi parasit kronis menjadi penyebab utamanya karena gajah rutin dimandikan di sungai yang memungkinkan paparan siput air pembawa cacing hati.

“Makanya kasus kematian dua gajah itu karena infeksi cacing yang sudah diderita dengan cukup lama,” jelas Wisnu, Senin, 24 November 2025.

Ia menjelaskan gajah jinak yang hidup di penangkaran memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi dibanding gajah liar, terutama karena kehilangan kemampuan alami untuk mencari tanaman obat. Kondisi ini membuat gajah penangkaran hanya bergantung pada pakan yang tersedia dan obat-obatan medis. Ia menilai pola pemeliharaan tersebut perlu segera dibenahi agar tidak menimbulkan kematian berulang.

Baca juga: Sanitasi Buruk di Indragiri Hulu, Ratusan Warga ISPA hingga Lima Anak Meninggal Terjangkit Flu Babi

“Kalau tidak diubah sistem pola dalam pemeliharaan gajah di PLG (Pusat Latihan Gajah), tragis, nanti mati juga. Tentu perlu dibuat sistem kesehatan gajah yang terintegrasi,” ujar dia.

Di sisi lain, kondisi habitat Way Kambas dinilai cukup baik. Namun kesehatan gajah tidak bisa dilepaskan dari hubungan ekologi antara lingkungan, satwa liar, hewan ternak, dan manusia. Aliran sungai yang tercemar parasit dari limbah ternak, serta kebersihan lingkungan masyarakat, dapat meningkatkan risiko infeksi.

“Itu yang kita sebut one health, kesehatan untuk semua,” papar dia.

Ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas rumah sakit gajah di PLG Way Kambas, terutama terkait ketersediaan obat-obatan yang menjadi kebutuhan paling mendesak. Selain itu, ia merekomendasikan sejumlah langkah teknis seperti mengeringkan aliran sungai untuk memutus siklus hidup siput inang cacing, melakukan penyemenan area sungai agar siput mudah dideteksi, serta melakukan pemeriksaan feses dan darah secara rutin.

“Tidak hanya saat ada kasus saja. Setiap bulan perlu dilakukan pemeriksaan feses dan darah minimal sebulan sekali sebagai upaya pencegahan,” kata dia.

Wisnu menegaskan penguatan sistem kesehatan gajah harus dilakukan secara menyeluruh dengan pendekatan one health. Kolaborasi penyediaan obat, pengelolaan lingkungan, kontrol kualitas air, dan pembatasan interaksi pengunjung dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali. Ia berharap pendekatan terintegrasi ini dapat meningkatkan ketahanan kesehatan gajah di Taman Nasional Way Kambas. [WLC02]

Sumber: Kemenhut, IPB University, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Bentang Alam SeblatGajah SumateraKementerian KehutananPenyakit EEHVperkebunan sawitSave Tesso NiloTaman Nasional Tesso NiloTaman Nasional Way Kambas

Editor

Next Post
Walhi desak pembebasan Adetya Pramandira dan Fathul Munif. Foto Walhi.

Walhi Desak Penghentian Kriminalisasi Adetya Pramandira dan Fathul Munif

Discussion about this post

TERKINI

  • WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa dan Menkes Budi Gunadi Sadikin berkunjung ke Sampang, Madura dalam program eliminasi kusta, 8 Juli 2025. Foto Dok. Kemenkes.Jangan Takut Periksa Kusta, Sepekan Usai Diobati Tak Menular Lagi
    In Rehat
    Kamis, 15 Januari 2026
  • Penampakan huntara dari kayu hanyutan di Aceh. Foto Dok. Rumah Zakat.Kayu Hanyutan Jadi Huntara, Biar Penyintas Aceh Tak Terlalu Lama Hidup di Tenda
    In Rehat
    Kamis, 15 Januari 2026
  • Ilustrasi penyakit kulit. Foto Miller_Eszter/pixabay.comPrevalensi Penderita Kusta di DIY Terendah, Tapi Tiap Bulan Ada Pasien Baru
    In Rehat
    Rabu, 14 Januari 2026
  • KKP mempersiapkan pengiriman 159 ton bantuan ke lokasi bencana Sumatra, 13 Januari 2026. Foto KKP.Legislator Kritik Seremonial Bantuan Menteri di Aceh, Puluhan Kampung Masih Terisolasi
    In News
    Rabu, 14 Januari 2026
  • Ilustrasi makanan kaleng. Foto MabelAmber/pixabay.com.Jangan Sepelekan Kemasan Kaleng Makanan yang Penyok, Gembung dan Berkarat
    In IPTEK
    Selasa, 13 Januari 2026
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media