Burhanuddin menjelaskan area yang hilang merupakan bagian dari koridor jelajah musiman di Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis. Koridor ini berfungsi menjadi jalur migrasi, sumber pakan, hingga ruang yang memfasilitasi proses reproduksi alami.
Baca juga: Aceh Dikepung Banjir, Simeulue Diguncang Gempa 6,5 M
“Jika koridor musiman hilang, sinkronisasi perilaku fisiologis untuk perkawinan dapat terganggu. Ketika reproduksi terganggu, penurunan populasi menjadi keniscayaan,” kata dia.
Percepatan alih fungsi hutan menjadi perkebunan, lahan budi daya, hingga permukiman meningkatkan potensi konflik manusia-gajah. Fenomena serupa telah terjadi sebelumnya di Aceh dan Riau, yang mencatat tingginya kematian gajah akibat perburuan, keracunan, dan benturan dengan aktivitas manusia.
Menurut Burhanuddin, akar masalahnya adalah dominasi orientasi ekonomi dalam kebijakan tata guna lahan. Banyak alih fungsi terjadi secara ilegal. Koridor ekologis nyaris tidak masuk dalam pertimbangan kebijakan.
“Yang dominan adalah nilai finansial jangka pendek,” kata dia.
Di tingkat masyarakat, cara pandang bahwa gajah adalah hama juga turut memperburuk situasi. Tanpa edukasi dan intervensi, persepsi ini dapat mendorong tindakan berbahaya seperti peracunan atau pembunuhan gajah.
Baca juga: Siklon Tropis 95B Jadi Siklon Tropis Senyar, Siaga Cuaca Ekstrem di Aceh dan Sumatra Utara
Sebagai langkah strategis, Burhanuddin menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga untuk memetakan ulang wilayah jelajah gajah, terutama yang terhubung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat. Ia juga menyoroti pentingnya implementasi Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, terutama terkait penetapan area preservasi seperti koridor ekologis dan kawasan bernilai konservasi tinggi.
Selain itu, ia menilai pembangunan areal konservasi gajah dengan pendekatan flying squad merupakan solusi realistis yang telah terbukti efektif di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Program ini, tidak hanya mengurangi konflik, tetapi juga membuka peluang wisata edukasi bagi masyarakat.
“Pelibatan masyarakat adalah kunci. Tanpa mereka, konservasi hanya akan menjadi dokumen kebijakan tanpa implementasi,” tegas Burhanuddin.
Kesehatan gajah Way Kambas
Sementara di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, dua gajah betina jinak kembali dilaporkan mati dalam rentang satu bulan terakhir. Kedua gajah Sumatera bernama Dona dan Suli tersebut mengalami penurunan kondisi akibat infeksi parasit dan sirosis hati meskipun telah mendapatkan penanganan medis intensif sejak awal gejala terdeteksi.
Baca juga: Banjir Bandang dan Longsor Sumatra Utara, Akses ke Tapanuli Tengah dan Sibolga Terisolisir
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas menjelaskan seluruh upaya telah dilakukan. Namun kondisi kedua satwa dilindungi itu terus memburuk hingga akhirnya tidak terselamatkan.
Menanggapi kasus ini, Dosen Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Raden Wisnu Nurcahyo, menilai kematian gajah di Way Kambas bukanlah peristiwa baru, melainkan telah berulang selama bertahun-tahun. Ia menyebut kematian Dona dan Suli tergolong tragis karena keduanya merupakan gajah dewasa, bukan anak gajah yang rentan terserang EEHV.
Ia menduga infeksi parasit kronis menjadi penyebab utamanya karena gajah rutin dimandikan di sungai yang memungkinkan paparan siput air pembawa cacing hati.
“Makanya kasus kematian dua gajah itu karena infeksi cacing yang sudah diderita dengan cukup lama,” jelas Wisnu, Senin, 24 November 2025.
Ia menjelaskan gajah jinak yang hidup di penangkaran memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi dibanding gajah liar, terutama karena kehilangan kemampuan alami untuk mencari tanaman obat. Kondisi ini membuat gajah penangkaran hanya bergantung pada pakan yang tersedia dan obat-obatan medis. Ia menilai pola pemeliharaan tersebut perlu segera dibenahi agar tidak menimbulkan kematian berulang.
Baca juga: Sanitasi Buruk di Indragiri Hulu, Ratusan Warga ISPA hingga Lima Anak Meninggal Terjangkit Flu Babi
“Kalau tidak diubah sistem pola dalam pemeliharaan gajah di PLG (Pusat Latihan Gajah), tragis, nanti mati juga. Tentu perlu dibuat sistem kesehatan gajah yang terintegrasi,” ujar dia.
Di sisi lain, kondisi habitat Way Kambas dinilai cukup baik. Namun kesehatan gajah tidak bisa dilepaskan dari hubungan ekologi antara lingkungan, satwa liar, hewan ternak, dan manusia. Aliran sungai yang tercemar parasit dari limbah ternak, serta kebersihan lingkungan masyarakat, dapat meningkatkan risiko infeksi.
“Itu yang kita sebut one health, kesehatan untuk semua,” papar dia.
Ia juga menyoroti keterbatasan fasilitas rumah sakit gajah di PLG Way Kambas, terutama terkait ketersediaan obat-obatan yang menjadi kebutuhan paling mendesak. Selain itu, ia merekomendasikan sejumlah langkah teknis seperti mengeringkan aliran sungai untuk memutus siklus hidup siput inang cacing, melakukan penyemenan area sungai agar siput mudah dideteksi, serta melakukan pemeriksaan feses dan darah secara rutin.
“Tidak hanya saat ada kasus saja. Setiap bulan perlu dilakukan pemeriksaan feses dan darah minimal sebulan sekali sebagai upaya pencegahan,” kata dia.
Wisnu menegaskan penguatan sistem kesehatan gajah harus dilakukan secara menyeluruh dengan pendekatan one health. Kolaborasi penyediaan obat, pengelolaan lingkungan, kontrol kualitas air, dan pembatasan interaksi pengunjung dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah tragedi serupa terulang kembali. Ia berharap pendekatan terintegrasi ini dapat meningkatkan ketahanan kesehatan gajah di Taman Nasional Way Kambas. [WLC02]
Sumber: Kemenhut, IPB University, UGM






Discussion about this post