Minggu, 25 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 

Sabtu, 24 Oktober 2026
A A
Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.

Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Meena menegaskan bahwa solidaritas lintas negara perlu diperkuat untuk memastikan pemerintah dan korporasi bertanggung jawab atas dampak sosial, ekologis, dan kemanusiaan yang ditimbulkan dari aktivitas mereka.

Sementara itu, Babu Ram Poudel, Direktur Eksekutif Forum for Protection of Public Interest (Pro Public) Nepal, mengingatkan bahwa negara-negara berkembang yang berada di garis depan krisis iklim terus menghadapi kerugian dan risiko yang semakin besar meskipun bukan penyumbang utama emisi global.

“Nepal tidak hanya membutuhkan simpati. Kami membutuhkan solidaritas, akuntabilitas, dan sumber daya yang diperlukan untuk melindungi kehidupan masyarakat serta membangun ketangguhan menghadapi krisis,” kata Babu Ram Poudel.

Menurutnya, banjir dan longsor yang semakin sering terjadi di Nepal menunjukkan perlunya implementasi nyata pendanaan iklim, dukungan adaptasi, dan mekanisme akuntabilitas dari negara-negara maju yang selama ini menjadi kontributor utama emisi gas rumah kaca.

Dari Yogyakarta, berbagai bentuk ancaman terhadap ruang hidup masyarakat juga menjadi perhatian. Egit Andre Kelana, Staf Advokasi dan Kampanye Walhi Yogyakarta, menyoroti ekspansi industri pariwisata yang mengancam kawasan Kars Gunung Sewu serta kebijakan pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada teknologi pembakaran melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).

“Pemerintah tidak dalam posisi yang netral, justru berpihak terhadap industri pariwisata dan tidak sedikit pun menaruh keberpihakannya dalam mendukung upaya-upaya masyarakat,” kata Egit Andre Kelana.

Menurut Egit, berbagai proyek pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan menunjukkan masih kuatnya keberpihakan negara terhadap kepentingan investasi dibandingkan perlindungan ruang hidup masyarakat dan keberlanjutan ekosistem.

Krisis ekologis yang terjadi di global saat ini juga dipandang tidak dapat dipisahkan dari persoalan kolonialisme, militerisme, dan berbagai bentuk penindasan terhadap rakyat. Rachitaa Gupta, Koordinator Global Demand Climate Justice (GDCJ), menegaskan bahwa perjuangan keadilan iklim harus dipahami sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk membela hak-hak rakyat dan menentukan masa depan secara berdaulat.

“Tidak ada keadilan iklim tanpa pembebasan Palestina. Perjuangan kita untuk keadilan iklim dan ekologis tidak dapat dipisahkan dari perjuangan melawan kolonialisme, militerisme, dan penyangkalan hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri,” kata Rachitaa Gupta.

Melalui Yogyakarta Statement, organisasi masyarakat sipil Asia Pasifik menyerukan penguatan solidaritas lintas negara untuk menghadapi krisis ekologis, krisis iklim, ekstraktivisme, militerisme, dan berbagai bentuk ketidakadilan yang saling berkaitan. Deklarasi tersebut menegaskan bahwa keadilan ekologis, kedaulatan rakyat, solidaritas internasional, dan pemenuhan hak-hak komunitas harus menjadi fondasi utama dalam membangun masa depan yang adil, demokratis dan berkelanjutan.

Di tengah semakin dalamnya krisis global, Deklarasi Yogyakarta menegaskan bahwa perubahan sistem tidak akan lahir dari model pembangunan yang selama ini menciptakan kerusakan dan ketimpangan, melainkan dari kekuatan rakyat yang terorganisir dan solidaritas yang melampaui batas negara untuk melindungi manusia, alam, dan generasi mendatang. [WLC01]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: FoE Asia Pacific)Karhutla 2026Krisis EkologiKrisis IklimKrisis Iklim GlobalWalhi

Editor

Discussion about this post

TERKINI

  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media