Sementara Koichi Kusunoki dari Earthquake Research Institute, The University of Tokyo menyampaikan materi mengenai “A New Structural Health Monitoring System for Real-Time Evaluation of Building Damage”.
Kusunoki membahas pengembangan sistem Structural Health Monitoring (SHM) terbaru untuk mengevaluasi kerusakan bangunan secara real-time setelah terjadi gempa bumi. Sistem ini dikembangkan untuk membantu proses inspeksi cepat dan menentukan kapasitas sisa bangunan (residual seismic capacity) guna mengurangi risiko kerusakan lanjutan akibat gempa susulan.
“Setelah gempa bumi terjadi, evaluasi kondisi bangunan menjadi sangat penting. Bangunan yang tidak lagi memiliki kapasitas tahan gempa yang memadai berpotensi mengalami kerusakan lebih parah saat terjadi aftershock. Perlu sistem pemantauan yang cepat, akurat, dan dapat digunakan secara langsung di lapangan,” jelas Kusunoki.
Tujuan pengembangan sistem SHM adalah untuk mengevaluasi kondisi struktur bangunan secara real-time; menentukan kapasitas sisa bangunan setelah gempa; mendukung pengambilan keputusan cepat terkait keamanan bangunan; serta mengurangi risiko korban dan jumlah pengungsi akibat ketidakpastian kondisi bangunan.
Konsep simplified SHM adalah sistem monitoring sederhana dengan penggunaan sensor yang lebih sedikit dan biaya yang lebih rendah dibandingkan sistem konvensional. Keunggulannya antara lain tidak memerlukan model struktur bangunan yang sangat kompleks; menggunakan sensor percepatan (accelerometers) yang dipasang pada bangunan; data dapat diproses langsung menggunakan komputer, serta biaya implementasi relatif murah sehingga memungkinkan penerapan lebih luas.
Sistem SHM berhasil untuk mengevaluasi kondisi bangunan secara cepat dan efektif setelah gempa bumi. Sistem ini memiliki potensi besar untuk diterapkan pada bangunan tinggi dan fasilitas publik guna meningkatkan keselamatan serta mendukung mitigasi bencana.
“Disarankan ada penambahan jumlah sensor pada bangunan agar akurasi pemantauan dan evaluasi struktur dapat semakin ditingkatkan,” kata Kusunoki.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Adrin Tohari menjelaskan kegiatan ini bagian dari upaya memperkuat kolaborasi ilmiah internasional dalam meningkatkan kesiapsiagaan dan ketangguhan terhadap risiko gempa bumi.
Selain soal sistem peringatan dini gempa bumi nasional Jepang dan pengembangan sistem structural health monitoring untuk evaluasi kerusakan bangunan secara langsung setelah gempa, topik strategis yang dibahas dalam webinar Geohazard tersebut adalah prediksi gerakan tanah secara real-time serta penerapan sistem peringatan dini pada infrastruktur dan industri.
Pentingnya peningkatan pemahaman masyarakat terhadap sistem peringatan dini gempa melalui kegiatan sosialisasi dan survei publik, serta pemanfaatan teknologi peringatan dini pada fasilitas sosial.
Ia berharap webinar ini dapat memperoleh wawasan baru terkait perkembangan teknologi mitigasi gempa bumi dan memperkuat kerjasama riset internasional dalam bidang pengurangan risiko bencana. [WLC02]






Discussion about this post