Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pengunjung Bisa Melihat Objek Langit Siang Hari di Observatorium Bosscha

Melalui kunjungan siang, selain dapat melakukan pengamatan matahari, peserta dapat melihat fasilitas yang ada di sana.

Kamis, 22 Agustus 2024
A A
Suasana di Observatorium Bosscha, ITB, Bandung. Foto Dok. ITB.

Suasana di Observatorium Bosscha, ITB, Bandung. Foto Dok. ITB.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB) membuka tiga jenis program kunjungan bagi masyarakat, yakni Kunjungan Sekolah, Kunjungan Siang Berpemandu, dan Kunjungan Malam. Setiap program kunjungan disesuaikan dengan kebutuhan dan minat pengunjung.

Namun, Kunjungan Malam hanya diadakan pada bulan Juni hingga Agustus 2024 untuk memaksimalkan peluang keberhasilan pengamatan di musim kemarau. Pengamatan pada bulan Agustus 2024, pendaftaran dilakukan awal bulan dan kini sudah ditutup. Melalui program Kunjungan Malam, peserta dapat mengamati objek langit langsung menggunakan teleskop yang dipandu staf astronom dari Observatorium Bosscha selama cuaca memungkinkan.

Peneliti yang juga Koordinator Kegiatan Publik (Divisi Pendidikan dan Penjangkauan Publik) Observatorium Bosscha, Yatny Yulianty menjelaskan pertimbangan kunjungan malam untuk umum pada tahun 2024 hanya dibatasi hingga bulan Agustus berdasarkan dua pertimbangan. Pertama, program kunjungan malam saat ini masih merupakan tahun pertama program setelah vakum tiga tahun.

Baca Juga: Sedia Payung, Sebagian Wilayah Indonesia Diguyur Hujan Sepekan

“Program kali ini juga disusun dengan format yang berbeda dari sebelum-sebelumnya,” kata dia, 16 Agustus 2024.

Dapat dikatakan tahun ini merupakan program introduksi kembali kunjungan malam kepada masyarakat. Pihaknya menggunakan jadwal-jadwal ini untuk melihat bagaimana keberlangsungan dan keefektifan program baru, melihat animo masyarakat, dan sebagai bahan evaluasi internal untuk pemantapan program di tahun berikutnya.

Pertimbangan kedua, terkait waktu. Kunjungan malam menonjolkan program pengamatan langit sebagai “menu” utama. Dengan demikian, pihak Observatorium Bosscha mengoptimalkan pengamatan malam di bulan-bulan yang potensi langit cerahnya tinggi.

Baca Juga: Dwi Sendi Priyono, Ini Tantangan Ahli DNA Forensik Satwa Liar di Indonesia

“Beberapa tahun belakangan hal ini (langit cerah) cukup tidak menentu, tidak lagi mengikuti pola tradisional sebelum-sebelumnya sehingga kami pusatkan di bulan Juni-Agustus,” kata dia.

Opsi Selain Kunjungan Malam

Ada beberapa opsi untuk kunjungan selain Kunjungan Malam. Seperti Kunjungan Sekolah, kunjungan yang terbuka bagi peserta didik prasekolah hingga mahasiswa yang ingin memperluas pengetahuan tentang alam semesta dan menginspirasi minat dalam ilmu pengetahuan.

Melalui program ini, peserta akan berkunjung ke Teleskop Refraktor Ganda Zeiss, mengamati Matahari dengan aman saat cuaca memungkinkan, dan mengikuti sesi interaktif dengan edukator mengenai materi astronomi atau kegiatan prakarya/hands-on dengan topik spesifik.

Baca Juga: Pakar Gempa Ungkap Potensi Gempa Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut Sama Besar

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bangunan cagar budayaGedung Teleskop ZeissObservatorium BosschaTeleskop Radio Very Long Baseline Interferometryteleskop Refraktor Ganda Zeiss

Editor

Next Post
Aksi Jogja Memanggil untuk menolak revisi UU Pilkada, Yogyakarta, 22 Agustus 2024. FOTO Wanaloka.com.

Greenpeace, Revisi UU Pilkada Lumpuhkan Demokrasi dan Berdampak Pada Kebijakan Lingkungan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media