Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Penyakit Ketinggian Saat Naik Gunung, Cegah dengan Persiapan

Tak dipungkiri, penyakit ketinggian mengancam para pendaki. Pesan pakar adalah lakukan persiapan matang untuk pencegahannya. Apa sajakah itu?

Senin, 27 Maret 2023
A A
Ilustrasi badai gunung. Foto Simon/pixabay.com.

Ilustrasi badai gunung. Foto Simon/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tak jarang beredar informasi bahwa ada pendaki yang mengalami penurunan kesadaran hingga meregang nyawa saat melakukan pendakian. Salah satu rintangan yang kerap dirasakan oleh pendaki adalah altitude sickness atau penyakit ketinggian. Kondisi ini dapat terjadi saat pendakian 5000 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga 8000 mdpl.

Altitude sickness disebabkan karena tubuh tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk menyesuaikan diri dengan oksigen dan perubahan tekanan udara saat berada di ketinggian. Mengingat altitude sickness dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti Acute Mountain Sickness (AMS), High Altitude Pulmonary Edema (HAPE), dan High Altitude Cerebral Edema (HACE).

Tapi tak perlu khawatir karena Ketua Departemen Anastesiologi dan Reaminasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dokter Spesialis Anestesi Bambang Pujo Semedi berbagi tips menghadapi dan pencegahannya.

Baca Juga: Yang Dilakukan Ketika Digigit Ular di Alam Bebas

“Tidak bisa kalau naik gunung tanpa persiapan. Harus tahu berada di ketinggian berapa dan risikonya apa kalau tidak persiapan,” kata Bambang dalam acara Indonesia Mountain Medicine Summit pada 19 Maret 2023.

Muncul Gejala
AMS dapat terjadi saat seseorang berada di ketinggian lebih dari 2500 mdpl. Gejala yang bisa dirasakan seperti nyeri kepala, gangguan pencernaan, hingga gangguan tidur.

HAPE gejala yang dapat diwaspadai seperti batuk, sesak napas, hingga tampak kebiruan pada tangan. Masalah ini dapat mengakibatkan penumpukan cairan pada paru-paru. HAPE dapat terjadi dalam 1-3 hari setelah pendakian.

Baca Juga: Cedera Akut dalam Pendakian Tak Sembarang Pijat dan Urut

Sedangkan HACE merupakan penyakit paling berat pada altitude sickness. Ditandai dengan gejala penurunan kesadaran, ataksia atau gangguan gerak tubuh, dan pembengkakan saraf mata atau yang disebut papiledema.

“Kalau sampai otaknya bengkak (HACE), orang itu pasti akan hilang kesadaran,” ujar dokter yang memiliki hobi berlari dan mendaki tersebut.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Aklimatisasialtitude sicknessFK UnairIndonesia Mountain Medicine Summitpenyakit ketinggian

Editor

Next Post
Patung kepalan tangan "Wadas Melawan" di Desa Wadas. Foto dok. Gempadewa.

Solidaritas Akademisi Menolak Konsinyasi untuk Warga Wadas

Discussion about this post

TERKINI

  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media