Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Penyakit Ketinggian Saat Naik Gunung, Cegah dengan Persiapan

Tak dipungkiri, penyakit ketinggian mengancam para pendaki. Pesan pakar adalah lakukan persiapan matang untuk pencegahannya. Apa sajakah itu?

Senin, 27 Maret 2023
A A
Ilustrasi badai gunung. Foto Simon/pixabay.com.

Ilustrasi badai gunung. Foto Simon/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tak jarang beredar informasi bahwa ada pendaki yang mengalami penurunan kesadaran hingga meregang nyawa saat melakukan pendakian. Salah satu rintangan yang kerap dirasakan oleh pendaki adalah altitude sickness atau penyakit ketinggian. Kondisi ini dapat terjadi saat pendakian 5000 meter di atas permukaan laut (mdpl) hingga 8000 mdpl.

Altitude sickness disebabkan karena tubuh tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk menyesuaikan diri dengan oksigen dan perubahan tekanan udara saat berada di ketinggian. Mengingat altitude sickness dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti Acute Mountain Sickness (AMS), High Altitude Pulmonary Edema (HAPE), dan High Altitude Cerebral Edema (HACE).

Tapi tak perlu khawatir karena Ketua Departemen Anastesiologi dan Reaminasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dokter Spesialis Anestesi Bambang Pujo Semedi berbagi tips menghadapi dan pencegahannya.

Baca Juga: Yang Dilakukan Ketika Digigit Ular di Alam Bebas

“Tidak bisa kalau naik gunung tanpa persiapan. Harus tahu berada di ketinggian berapa dan risikonya apa kalau tidak persiapan,” kata Bambang dalam acara Indonesia Mountain Medicine Summit pada 19 Maret 2023.

Muncul Gejala
AMS dapat terjadi saat seseorang berada di ketinggian lebih dari 2500 mdpl. Gejala yang bisa dirasakan seperti nyeri kepala, gangguan pencernaan, hingga gangguan tidur.

HAPE gejala yang dapat diwaspadai seperti batuk, sesak napas, hingga tampak kebiruan pada tangan. Masalah ini dapat mengakibatkan penumpukan cairan pada paru-paru. HAPE dapat terjadi dalam 1-3 hari setelah pendakian.

Baca Juga: Cedera Akut dalam Pendakian Tak Sembarang Pijat dan Urut

Sedangkan HACE merupakan penyakit paling berat pada altitude sickness. Ditandai dengan gejala penurunan kesadaran, ataksia atau gangguan gerak tubuh, dan pembengkakan saraf mata atau yang disebut papiledema.

“Kalau sampai otaknya bengkak (HACE), orang itu pasti akan hilang kesadaran,” ujar dokter yang memiliki hobi berlari dan mendaki tersebut.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Aklimatisasialtitude sicknessFK UnairIndonesia Mountain Medicine Summitpenyakit ketinggian

Editor

Next Post
Patung kepalan tangan "Wadas Melawan" di Desa Wadas. Foto dok. Gempadewa.

Solidaritas Akademisi Menolak Konsinyasi untuk Warga Wadas

Discussion about this post

TERKINI

  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
  • Konferensi pers PCS 2026 bertema “Dekolonisasi Konservasi: Menegaskan Kedaulatan Rakyat atas Pengetahuan dan Tata Kelola Keanekaragaman Hayati di Indonesia” di GIK UGM, 1 September 2026. Foto Dok. PCS 2026.PCS 2026: Menjaga Keanekaragaman Hayati Tak Bisa Lepas dari Menjaga Masyarakat Adat
    In News
    Rabu, 2 September 2026
  • Ladang padi aktif dan hutan dalam satu lanskap sebagai gambaran sistem perladangan gulir balik masyarakat Dayak Iban Sungai Utik. Foto Dok. Rifki Sungkar/SITH ITB.Belajar Memahami Api dalam Sistem Perladangan Masyarakat Dayak Iban Sungai Utik
    In IPTEK
    Selasa, 1 September 2026
  • Karhutla di lahan gambut. Foto Dok. Walhi.Ribuan Titik Api di Lahan Gambut dan Konsesi, Walhi: Bukti Negara Gagal Memaksa Korporasi Bertanggung Jawab
    In Lingkungan
    Senin, 31 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media