Jumat, 29 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pertambangan Batu Bara Masih Idola dan Dipermudah, Meski Nol Emisi Jadi Target

Energi berbasis fosil masih menjadi idola, karena menguntungkan. Pemerintah masih 'berat hati' melepaskan.

Minggu, 3 Desember 2023
A A
Ilustrasi aktivitas pertambangan batu bara. Foto esdm.go.id.

Ilustrasi aktivitas pertambangan batu bara. Foto esdm.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Energi baru terbarukan (EBT) tengah menjadi primadona sebagai bahan baku energi yang ramah lingkungan dan rendah emisi. Pemerintah juga membidik target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 dengan menggunakan EBT menjadi tulang punggung ketahanan energi nasional. Namun pemerintah tidak serta merta langsung meninggalkan energi berbasis fosil, salah satunya batu bara.

“Mengingat Indonesia salah satu negara dengan pembangkit berbahan baku batu bara besar,” kata Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana pada acara Road to CNBC Award 2023 di Jakarta pada 29 November 2023.

Penetapan target NZE tidak lantas menghilangkan batu bara sebagai salah satu sumber pembangkit listrik utama nasional dalam waktu dekat. Setidaknya, butuh waktu hingga tahun 2057 sesuai dengan peta jalan menuju NZE yang digagas Kementerian ESDM, sembari secara paralel, pemerintah memperkuat basis pemanfaatan EBT untuk menopang energi nasional.

Baca Juga: Letusan Gunung Marapi Sumbar Sejumlah Kecamatan Diselimuti Abu Vulkanis

“Karena pemerintah juga berkewajiban untuk memastikan ketersediaan energi masyarakat,” imbuh Dadan.

Kontrak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkisar 25 hingga 30 tahun. Berdasarkan simulasi NZE, puncak penggunaan batu bara antara tahun 2030 hingga 2035. Setelah itu akan melandai sejalan PLTU yang sudah selesai masa kontraknya.

Untuk menyuplai kebutuhan energi kepada masyarakat saat penggunaan batu bara melandai, pemerintah akan mengembangkan dan menyediakan energi yang lebih bersih dari EBT. Batu bara yang tidak dipakai untuk bahan baku pembangkit bisa dimanfaatkan dalam bentuk yang sudah diolah dan lebih hijau melalui proses hilirisasi.

Baca Juga: Butuh Anjing Pelacak untuk Pencarian 11 Korban Banjir Bandang Humbahas

“Kami harus mengarah ke green product (produk hijau), menciptakan green industry (industri hijau) di sini, karena memang nanti akan dilihat dari sisi prosesnya itu bagaimana sih cara memproduksi produk ini,” tutur Dadan.

Produk batu bara bisa diubah menjadi Dimethyl Ether (DME) melalui proses gasifikasi yang bisa digunakan menjadi pengganti Liquefied petroleum gas (LPG) dengan konsumen yang sudah ada. Sebelum menjadi DME, juga itu bisa menjadi methanol. Metanol banyak dipakai untuk industri, asalkan prosesnya bersih dari emisi atau menjadi produk hijau.

Dengan produk hijau, menurut Dadan akan mudah diekspor ke luar negeri. Sebab negara lain, khususnya Eropa akan melihat dari sisi proses bagaimana cara memproduksi suatu barang. Itu menjadikan industri hijau dan produk hijau menjadi komoditas yang kompetitif di pasar internasional.

Baca Juga: Banjir Bandang Bawa Bebatuan Besar di Humbang Hasundutan, 12 Warga Hilang

“Misalkan ekspor ke Eropa mulai diberlakukan tahun 2026. Mereka akan tanya cara produksinya untuk mengetahui berapa karbonnya. Nah, kalau melewati batas, mereka akan terapkan pajak karbon terhadap produk tersebut,” papar Dadan.

Produksi Batu Bara Digenjot
Dadan Kusdiana mengungkapkan realisasi produksi batu bara per 27 November 2023 telah mencapai 686 juta ton atau 98 persen dari target. Sementara target produksi batu bara yang dicanangkan tahun ini sebanyak 694,5 juta ton atau meningkat dibandingkan target tahun 2022 sebesar 663 juta ton.

“Produksi tahun lalu melebihi target atau sekitar 104 persen dari target. Kinerja sektor minerba sangat baik dan positif untuk tahun 2023,” kata Dadan mengklaim.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: batu baraenergi baru terbarukanhilirasi pertambanganindustri hijauKementerian ESDMNet-Zero Emissionproduk hijautata kelola pertambangan

Editor

Next Post
Jenazah sejumlah pendaki Gunung Marapi yang ditemukan dan dievakuasi. Foto @pendakilawas/X.

Erupsi Gunung Marapi, 11 Pendaki Ditemukan Tewas

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media