Selasa, 3 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Perubahan Komposisi Magma Picu Gunung Lewotobi Laki-laki Meletus Terus-menerus

Para ahli vulkanologi juga berspekulasi kemungkinan pengaruh cuaca ekstrem terhadap peningkatan aktivitas gunung-gunung api lainnya di Indonesia.

Senin, 18 November 2024
A A
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada 7 November 2024. Foto Magma Indonesia.

Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki pada 7 November 2024. Foto Magma Indonesia.

Share on FacebookShare on Twitter

Selain letusan eksplosif, bahaya lain yang mengintai adalah lahar dingin yang terbentuk saat hujan deras bercampur dengan abu vulkanik yang mengendap di lereng gunung.

“Endapan abu di lereng yang terkena air bisa berubah menjadi lahar dingin atau lahar hujan yang mematikan,” imbuh dia.

Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai bahaya sekunder dari curah hujan ekstrem. Selain letusan langsung, cuaca ekstrem juga dapat memicu bahaya tambahan, seperti longsor pada kubah lava yang bisa memicu letusan sekunder atau aliran lahar.

Baca Juga: Data Terkini BNPB 13 Ribu Lebih Pengungsi Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki

Peningkatan curah hujan dapat menambah risiko bagi kestabilan aktivitas gunungapi.

“Seperti minyak panas yang terkena tetesan air, hujan bisa memicu letusan mendadak jika air meresap ke dalam sistem magma. Selain itu, curah hujan ekstrem dapat mengikis lereng, menambah risiko longsor pada dinding lava yang rapuh,” jelas dia.

Sementara aktivitas vulkanik terpantau pula di beberapa gunung api lain di Indonesia, termasuk Gunung Merapi, Gunung Semeru, Gunung Dukono, dan Gunung Ibu. Para ahli berspekulasi tentang kemungkinan pengaruh cuaca ekstrem terhadap peningkatan aktivitas gunung-gunung tersebut.

Baca Juga: TIC Siapkan Info Aksesibilitas Labuan Bajo Selama Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki

Untuk memahami aktivitas vulkanik yang belum stabil ini, tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terus melakukan pemantauan dengan analisis sampel batuan dan komposisi magma.

“Sampel batuan dapat memberikan informasi tentang tekanan dalam magma, membantu kita memprediksi apakah aktivitasnya akan segera berakhir atau justru meningkat,” imbuh dia.

Pemantauan berkesinambungan sangat penting untuk mengantisipasi letusan yang lebih besar, dan seluruh masyarakat diminta untuk waspada dan mengikuti arahan pihak berwenang.

Baca Juga: TIC Siapkan Info Aksesibilitas Labuan Bajo Selama Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki

Pakai masker basah

Sejauh ini, pemerintah telah mengevakuasi ribuan warga dari radius 9 kilometer puncak Gunung Lewotobi, untuk menghindari risiko dari aktivitas vulkanik. Mirzam menyampaikan beberapa poin terkait langkah mitigasi.

Ia mengingatkan masyarakat yang berada dalam radius beberapa kilometer dari tempat kejadian untuk segera mengikuti instruksi evakuasi dari pihak berwenang. Serta menghindari area yang rawan, seperti lereng dan bantaran sungai yang berpotensi menjadi jalur lahar dingin.

Mirzam juga mengingatkan pemakaian masker basah bagi warga setempat.

“Abu vulkanik yang berbahaya bagi pernapasan perlu diantisipasi dengan masker basah. Abu vulkanik yang terkena air akan mengeras seperti semen, sehingga masker basah membantu mencegah masuknya abu ke paru-paru,” jelas dia. [WLC02]

Sumber: ITB

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Ahli Vulkanologi ITBaktivitas vulkanikgunung apiGunung Lewotobi Laki-lakiMirzam Abdurrachman

Editor

Next Post
Dampak bencana hidrometeorologi Sulawesi berupa banjir longsor di Kota Bitung, Sulawesi Utara, pada Minggu, 7 April 2024. Foto BPBD Kota Bitung.

Pemerintah Daerah Diimbau Bersiap Hadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi November-Desember

Discussion about this post

TERKINI

  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media