Minggu, 28 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pilihlah Bangunan Kayu karena Renewable dan Menyerap Karbon

Selasa, 7 November 2023
A A
Rumah limasan yang khas menggunakan material kayu. Foto wanaloka.com.

Rumah limasan yang khas menggunakan material kayu. Foto wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Suhu bumi mendidih. Indonesia, Italia, Maroko, Amerika, Yunani dan banyak negara lain merasakan dampak dari pemanasan global itu, seperti perubahan iklim, anomali cuaca, dan cuaca ekstrem. Fenomena pemanasan global itu disebabkan peningkatan emisi karbon.

Berbagai sektor sedang berlomba mencari alternatif untuk mengurangi produksi emisi karbon. Tak terkecuali sektor perumahan. Sebab salah satu penyumbang emisi karbon terbesar adalah bangunan atau konstruksi, yakni sebanyak 30 persen dari total emisi karbon dunia.

Menyadari urgensi tersebut, Fakultas Teknik bersama Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada mengusung inovasi pembangunan berbahan dasar kayu yang terbukti dapat menyerap karbon, alih-alih melepas gas rumah kaca.

Baca Juga: Moratorium Izin Tambang DAS Progo, Walhi Yogya: Awal Pemulihan Lingkungan

Besi dan semen menyumbang emisi terbesar. Padahal semua bangunan gedung di Indonesia menggunakan konstruksi besi dan semen. Perlu didorong pemanfaatan bahan bangunan yang renewable (dapat diperbarui) dengan emisi karbon.

“Bahan kayu bersifat renewable dan memiliki periode tumbuh yang pendek, 5-10 tahun. Kelebihan material kayu bisa diterapkan pada bangunan gedung,” kata Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Diana Kusumastuti dalam seminar bertajuk “Best Practice of Design and Construction of High-Rise Timber Buldings” pada 14 Oktober 2023.

Pemakaian material kayu sebagai bahan dasar umum bangunan telah lama ditinggalkan, akibat reboisasi hutan yang minim dan tren bangunan berbahan semen. Padahal bangunan kayu terbukti 40-50 persen lebih ringan dibanding bangunan beton dan besi. Sifat kayu memiliki elastisitas hingga titik tertentu, di mana kayu akan bersifat fleksibel apabila diberi tekanan. Berbeda dengan semen dan beton yang tidak memiliki elastisitas.

Baca Juga: Varietas Padi Gamagora 7 Tahan Hama dan Tumbuh di Lahan Kering

Kelebihan ini membuat bangunan kayu cenderung lebih tahan terhadap bencana gempa. Bahkan gedung tinggi yang berbahan dasar kayu bisa menyerap hingga 3.100 ton karbon. Sebaliknya, bangunan beton justru mengeluarkan sekitar 1.200 ton karbon.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bangunan kayuCuaca EkstremEmisi karbonnet zero emissionspemanasan globalperubahan iklim

Editor

Next Post
Ilustrasi pencatatan dan penyampaian info gempa bumi. Foto psc631798/pixabay.com.

Dulu Info Gempa Bumi Menunggu Berjam-jam, Sekarang Cepat Lewat SOP InaTEWS

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media