Sabtu, 29 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Prigi Arisandi, Selamatkan Lingkungan Bermula dari Kematian Ikan Massal di Sungai

Prigi berpesan, siapapun yang ingin berkontribusi di bidang pelestarian lingkungan harus memiliki niat kuat sebagai fondasi utama dan keberanian mengambil risiko. Juga memiliki rasa keberpihakan kuat pada lingkungan dan ekosistem.

Selasa, 14 Januari 2025
A A
Pendiri Yayasan Ecoton, Prigi Arisandi. Foto Istimewa.

Pendiri Yayasan Ecoton, Prigi Arisandi. Foto Istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kepedulian, lahirlah perubahan nyata untuk lingkungan. Kalimat tersebut tepat untuk mendeskripsikan perjalanan Alumnus Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair), Prigi Arisandi dalam mendirikan yayasan penyelamat lingkungan Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton).

Kematian ikan massal

Bermula dari peristiwa kematian ikan secara massal di Kota Surabaya pada 1999. Kejadian tersebut menimbulkan kesedihan mendalam baginya. Ia pun menelusuri sumber masalah yang ternyata berasal dari pembuangan limbah-limbah pabrik kertas.

“Air limbah yang mengalir ke sungai ini hanya terlihat pada malam hari, karena siang hari air limbah terolah dan tidak menimbulkan perubahan warna. Warna sungai yang berubah tersebut otomatis mengganggu biota air seperti ikan, serangga dan kerang air tawar (kijing),” papar dia.

Baca juga: Walhi Sesalkan PM Jepang Lanjutkan Program Lama yang Ancam Lingkungan Hidup di Indonesia

Besar dan tumbuh di Surabaya, Prigi sering bermain di sungai. Membuatnya memiliki harapan besar agar sungai-sungai tersebut tetap lestari hingga ke generasi mendatang. Namun, pencemaran yang terjadi membuatnya khawatir akan membawa kematian bagi sungai-sungai di Kota Surabaya.

“Dengan semangat itulah, saya memanfaatkan ilmu biologi yang saya miliki untuk mulai fokus berjuang menyelamatkan sungai-sungai di Kota Surabaya dari ancaman kematian,” kata dia.

Cikal bakal di Unair

Lalu terbentuklah kelompok studi Jurusan Biologi FST Unair – cikal bakal Yayasan Ecoton – yang prihatin terhadap kerusakan lingkungan di Surabaya. Mencakup kerusakan mangrove dan alih fungsi lahan pesisir menjadi mal serta permukiman. Kerusakan tersebut dapat mengancam keanekaragaman hayati dan memperparah pencemaran lingkungan.

Baca juga: Dini Hari, Tiga Warga Tewas Tertimbun Longsor di Kota Batam

“Saya melihat industri melakukan ketidakadilan yang didukung pemerintah. Seharusnya pemerintah yang melindungi kelestarian lingkungan dan kualitas air sungai, justru tidak menjalankan fungsinya dan membiarkan perusakan terus terjadi,” ujar dia.

Tak heran, Unair turut berkontribusi dalam mendukung pendirian Yayasan Ecoton. Konsultasi dan diskusi dengan dosen-dosen FST Unair membantu Prigi memahami berbagai kasus pencemaran secara ilmiah. Selain itu, inspirasi dan semangat tambahan juga ia dapatkan dari beberapa dosen yang membimbingnya selama proses tersebut.

“Kekuatan riset di FST yang terdapat laboratorium lingkungan dan kualitas air juga turut mendukung saya dalam pengumpulan data-data untuk keperluan advokasi,” tutur dia.

Baca juga: Kata Pakar Soal HMPV: Ada yang Mirip Virus Corona, Ada yang Mirip Virus Campak

Memanfaatkan citizen science

Ecoton merupakan yayasan yang mengkaji ekologi dan konservasi lahan yang berfokus pada pelestarian ekosistem sungai dan kawasan pesisir, terutama di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Yayasan tersebut memanfaatkan citizen science sebagai alat untuk bisa melibatkan masyarakat dalam menjaga dan memantau sungai serta lingkungan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Air LimbahEcotonFakultas Sains dan Teknologi Unairkematian ikan massalPrigi Arisandisuaka ikan

Editor

Next Post
TPPS di kawasan Pantai Pandansari, Bantul. Foto Dok. Walhi Yogyakarta.

Walhi Yogya dan FPG Tolak Pantai Pandansari Jadi Tempat Pengelolaan Sampah Sementara

Discussion about this post

TERKINI

  • Upaya pemadaman karhutla di Kalimantan, 23 agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Kalimantan, Legislator: Warga Lokal Tak Bisa Terus Disalahkan, Cabut Izin Korporasi yang Terlibat
    In News
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Penanganan karhutla di Lampung Timur, 21 Agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Berulang Bukan Fenomena Iklim, Walhi: Akibat Negara Salah Urus Tak Sampai Akar Masalah
    In Lingkungan
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Titik-titik api karhutla di Pulau Kalimantan. Foto Istimewa.Hukuman Korporasi Pembakar Hutan Kalimantan: Cabut Izin dan Pulihkan Lingkungan!
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
  • Pembangunan On The Rock di kawasan Pantai Watubolong di KBAK Gunungsewu di Kabupaten Gunungkidul, 8 Agustus 2026. (Foto Instimewa)Akses Dibatasi, Negara Harus Investigasi Perizinan Ekspansi Industri Wisata di Pantai Watubolong
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
  • Visual pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, 20 Agustus 2026. (BNPB)Karhutla Ancaman Serius: Utamakan Penjagaan Sebelum Api Datang, Bukan Pencegahan
    In Bencana
    Sabtu, 22 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media