Jumat, 17 April 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Prigi Arisandi, Selamatkan Lingkungan Bermula dari Kematian Ikan Massal di Sungai

Prigi berpesan, siapapun yang ingin berkontribusi di bidang pelestarian lingkungan harus memiliki niat kuat sebagai fondasi utama dan keberanian mengambil risiko. Juga memiliki rasa keberpihakan kuat pada lingkungan dan ekosistem.

Selasa, 14 Januari 2025
A A
Pendiri Yayasan Ecoton, Prigi Arisandi. Foto Istimewa.

Pendiri Yayasan Ecoton, Prigi Arisandi. Foto Istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Ketika ilmu pengetahuan bertemu dengan kepedulian, lahirlah perubahan nyata untuk lingkungan. Kalimat tersebut tepat untuk mendeskripsikan perjalanan Alumnus Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga (Unair), Prigi Arisandi dalam mendirikan yayasan penyelamat lingkungan Ecological Observation and Wetland Conservations (Ecoton).

Kematian ikan massal

Bermula dari peristiwa kematian ikan secara massal di Kota Surabaya pada 1999. Kejadian tersebut menimbulkan kesedihan mendalam baginya. Ia pun menelusuri sumber masalah yang ternyata berasal dari pembuangan limbah-limbah pabrik kertas.

“Air limbah yang mengalir ke sungai ini hanya terlihat pada malam hari, karena siang hari air limbah terolah dan tidak menimbulkan perubahan warna. Warna sungai yang berubah tersebut otomatis mengganggu biota air seperti ikan, serangga dan kerang air tawar (kijing),” papar dia.

Baca juga: Walhi Sesalkan PM Jepang Lanjutkan Program Lama yang Ancam Lingkungan Hidup di Indonesia

Besar dan tumbuh di Surabaya, Prigi sering bermain di sungai. Membuatnya memiliki harapan besar agar sungai-sungai tersebut tetap lestari hingga ke generasi mendatang. Namun, pencemaran yang terjadi membuatnya khawatir akan membawa kematian bagi sungai-sungai di Kota Surabaya.

“Dengan semangat itulah, saya memanfaatkan ilmu biologi yang saya miliki untuk mulai fokus berjuang menyelamatkan sungai-sungai di Kota Surabaya dari ancaman kematian,” kata dia.

Cikal bakal di Unair

Lalu terbentuklah kelompok studi Jurusan Biologi FST Unair – cikal bakal Yayasan Ecoton – yang prihatin terhadap kerusakan lingkungan di Surabaya. Mencakup kerusakan mangrove dan alih fungsi lahan pesisir menjadi mal serta permukiman. Kerusakan tersebut dapat mengancam keanekaragaman hayati dan memperparah pencemaran lingkungan.

Baca juga: Dini Hari, Tiga Warga Tewas Tertimbun Longsor di Kota Batam

“Saya melihat industri melakukan ketidakadilan yang didukung pemerintah. Seharusnya pemerintah yang melindungi kelestarian lingkungan dan kualitas air sungai, justru tidak menjalankan fungsinya dan membiarkan perusakan terus terjadi,” ujar dia.

Tak heran, Unair turut berkontribusi dalam mendukung pendirian Yayasan Ecoton. Konsultasi dan diskusi dengan dosen-dosen FST Unair membantu Prigi memahami berbagai kasus pencemaran secara ilmiah. Selain itu, inspirasi dan semangat tambahan juga ia dapatkan dari beberapa dosen yang membimbingnya selama proses tersebut.

“Kekuatan riset di FST yang terdapat laboratorium lingkungan dan kualitas air juga turut mendukung saya dalam pengumpulan data-data untuk keperluan advokasi,” tutur dia.

Baca juga: Kata Pakar Soal HMPV: Ada yang Mirip Virus Corona, Ada yang Mirip Virus Campak

Memanfaatkan citizen science

Ecoton merupakan yayasan yang mengkaji ekologi dan konservasi lahan yang berfokus pada pelestarian ekosistem sungai dan kawasan pesisir, terutama di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Yayasan tersebut memanfaatkan citizen science sebagai alat untuk bisa melibatkan masyarakat dalam menjaga dan memantau sungai serta lingkungan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Air LimbahEcotonFakultas Sains dan Teknologi Unairkematian ikan massalPrigi Arisandisuaka ikan

Editor

Next Post
TPPS di kawasan Pantai Pandansari, Bantul. Foto Dok. Walhi Yogyakarta.

Walhi Yogya dan FPG Tolak Pantai Pandansari Jadi Tempat Pengelolaan Sampah Sementara

Discussion about this post

TERKINI

  • Idea serahkan sengketa informasi terkait dokumen perizinan pendirian objek wisata di kawasan karst Gunungsewu di Gunungkidul, 14 April 2026. Foto KSKG.Dokumen Izin Wisata di Karst Gunungsewu Tertutup, Idea Serahkan Sengketa Informasi
    In News
    Selasa, 14 April 2026
  • Dokter menjelaskan kondisi paru-paru peserta ACF melalui hasil foto rontgen yang muncul hanya sesaat setelah melakukan rontgen. Foto Pusat Kedokteran Tropis UGM.Jemput Bola Eliminasi TBC Targetkan 3.000 Warga di Gunungkidul
    In News
    Senin, 13 April 2026
  • Cahaya jejak roket Jielong-3, 11 April 2026. Foto Dok. BRIN.Jejak Roket Cina Jielong-3 di Langit Indonesia
    In News
    Senin, 13 April 2026
  • Nelayan Maluku Utara membersihkan jaring dari lumpur sedimentasi. Foto Walhi Maluku Utara.Ancaman dan Peluang Nelayan di Tengah Cuaca Ekstrem
    In Lingkungan
    Minggu, 12 April 2026
  • Ilustrasi hasil rontgen paru pasien TB. Foto freepik.com.Eliminasi TBC, Temukan Kasus secara Aktif dan Waspada Batuk Lebih dari Dua Minggu
    In Rehat
    Sabtu, 11 April 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media