Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Prigi Arisandi, Selamatkan Lingkungan Bermula dari Kematian Ikan Massal di Sungai

Prigi berpesan, siapapun yang ingin berkontribusi di bidang pelestarian lingkungan harus memiliki niat kuat sebagai fondasi utama dan keberanian mengambil risiko. Juga memiliki rasa keberpihakan kuat pada lingkungan dan ekosistem.

Selasa, 14 Januari 2025
A A
Pendiri Yayasan Ecoton, Prigi Arisandi. Foto Istimewa.

Pendiri Yayasan Ecoton, Prigi Arisandi. Foto Istimewa.

Share on FacebookShare on Twitter

Sejak resmi berbadan hukum pada 2000, Ecoton telah menciptakan berbagai inovasi yang berdampak tidak hanya terhadap pelestarian lingkungan, tetapi juga masyarakat. Salah satunya adalah dengan metode Suaka Ikan yang bertujuan untuk melindungi dan melestarikan spesies ikan asli sungai dari ancaman pencemaran dan eksploitasi berlebihan.

Dalam inovasi Suaka Ikan juga ada edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem sungai untuk keberlanjutan sumber daya alam. Di sana ada kolaborasi multipihak antara masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), akademisi dan industri untuk melakukan upaya konservasi atau pelestarian ikan di Kali Surabaya.

Baca juga: Akhir Pekan, Gunung Ibu Erupsi dengan Tinggi Kolom Abu 4 Kilometer

“Dengan inovasi ini, terciptalah peraturan gubernur mengenai tim kawasan perlindungan perikanan,” jelas dia.

Ecoton turut memanfaatkan art science untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Beberapa inovasi yang ada antara lain membuat terowongan botol plastik, biotilik, dan berbagai proyek lainnya. Ecoton juga menggabungkan pendekatan advokasi lingkungan melalui jalur litigasi dan nonlitigasi sebagai bagian dari upaya penyelamatan lingkungan.

Masyarakat punya kontribusi besar dalam pelaksanaan inovasi-inovasi tersebut. Masyarakat, khususnya perempuan dan anak-anak merupakan kunci utama dari gerakan Ecoton. Sebab kedua kelompok tersebut sangat rentan terhadap pencemaran lingkungan, sehingga perlu memberikan penguatan khusus bagi mereka.

Baca juga: ICW: Pelaporan Bambang Hero Diduga Upaya Perlawanan Balik Koruptor Tambang

Langkah awal adalah membangun kepercayaan dan rasa percaya diri perempuan atau kaum muda, salah satunya dengan menggunakan citizen science. Mereka melakukan kegiatan riset bersama dengan menggali fakta-fakta kerusakan lingkungan yang sedang terjadi.

“Kemudian mendorong masyarakat speak up atau menyuarakan haknya untuk lingkungan yang sehat,” jelas Prigi.

Pengelolaan masyarakat memerlukan pendampingan dengan cara membaur, sehingga menjadi bagian dari masyarakat yang didampingi. Perlu sekali untuk tinggal bersama di kawasan atau desa yang didampingi dalam hitungan bulan atau pun tahun.

Baca juga: Awal 2025, Bencana Hidrometeorologi Menerjang dari Aceh hingga Gorontalo

Seperti saat ini, Ecoton tengah mendampingi masyarakat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Balantieng, Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Prigi pun berpesan kepada mahasiswa Unair yang ingin berkontribusi di bidang pelestarian lingkungan untuk memiliki niat yang kuat sebagai fondasi utama dan keberanian mengambil risiko. Ia menekankan betapa penting selalu memiliki rasa keberpihakan kuat pada lingkungan dan ekosistem.

Sebagai saintis, banyak peluang untuk bergabung dengan perusahaan multinasional atau perusahaan ekstraktif yang selama ini berfokus pada eksploitatif mengejar pertumbuhan. Namun, ada juga peluang besar bagi saintis untuk mengabdikan hidup menyelamatkan lingkungan, menjaga kelestarian sungai dan hutan dan berpihak kepada masyarakat korban pembangunan dari aktivitas industrialisasi.

“Pilihan inilah yang sering orang sebut ‘layaknya berjalan di lahan sunyi’ karena hanya sedikit yang berminat,” kata dia. [WLC02]

Sumber: Unair

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: air limbahEcotonFakultas Sains dan Teknologi Unairkematian ikan massalPrigi Arisandisuaka ikan

Editor

Next Post
TPPS di kawasan Pantai Pandansari, Bantul. Foto Dok. Walhi Yogyakarta.

Walhi Yogya dan FPG Tolak Pantai Pandansari Jadi Tempat Pengelolaan Sampah Sementara

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media