Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Rahmat Gernowo: Mitigasi Bencana Hidrometeorologi Berbasis Anomali Atmosfer Tropis

Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi di Indonesia. Guru Besar Undip Prof. Rahmat Gernowo membagikan sejumlah pemikiran untuk mitigasinya.

Senin, 1 Agustus 2022
A A
Guru Besar Undip, Prof. Rahmat Gernowo. Foto undip.ac.id.

Guru Besar Undip, Prof. Rahmat Gernowo. Foto undip.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: Dua Orang Tewas dalam Bencana Hidrometeorologi di Kota Manado   

Jenis-jenis turbulensi dalam transportasi udara, yaitu pertama, turbulensi konvektif yang disebabkan oleh awan konvektif. Awan ini dikenal dengan sebutan awan cumulonimbus (Cb) yang di dalamnya terjadi turbulensi besar, terutama saat hujan dan badai guntur.

Kedua, Microburst merupakan wind shear yang berasal dari aliran udara dingin dari bagian bawah awan badai dengan pola seperti tanaman jamur terbalik. Biasanya diakibatkan awan comulonimbus (Cb). Saat terjadi badai di awan gelap (kondisi saturage), muncullah microburst yang merupakan musuh utama penerbang pesawat terbang, baik saat take off maupun landing.

Ketiga, turbulensi yang terjadi saat kondisi cuaca tak terduga di daerah yang tidak berawan konvektif. Namanya Clear Air Turbulence (CAT) atau Turbulensi Cuaca Cerah. Turbulensi jenis CAT ini sulit dideteksi, baik secara visual maupun menggunakan radar cuaca. CAT dapat terjadi dengan intensitas ringan hingga sedang, juga menyebabkan guncangan di pesawat. Sedangkan intensitas kuat dapat menyulitkan pesawat untuk mempertahankan ketinggian.

Baca Juga: Bencana Hidrometeorologi di Jember, Wilayah Terdampak Banjir Meluas

Rahmat menambahkan ada penyebab lain bencana turbulensi selain karena awan Cb dan CAT, yaitu keempat, Low Level Wind Shear (LLWS). Kasus ini sering terjadi di landasan pacu bandara. Rancang bangun sistem monitoring LLWS menjadi analisis selanjutnya, sebagai salah satu upaya untuk memberikan informasi akurat terkait kondisi udara di atas bandara. Sistem dapat memantau kondisi low level wind shear secara real time dan secara otomatis menginformasikan pantauan tersebut dalam bentuk tingkatan kondisi low level wind shear maupun berupa tanda aman atau tidak aman untuk take off atau landing pesawat. Akurasi dari informasi ini sangat dibutuhkan untuk pencegahan kecelakaan.

Dalam melakukan penelitian dan pengembangan alat deteksi wind shear, ia telah bekerja sama dengan beberapa pihak, antara lain Angkasa Pura 1 (AP1), Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), LION, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Baca Juga: Samarinda dan Toli-Toli Diterjang Bencana Hidrometeorologi

Ada dua hal yang telah dikembangkan untuk upaya mitigasi bencana meteorologis, yaitu pengembangan model global untuk prediksi indeks konvektif dan indeks turbulensi berbasis anomali dinamika atmosfer tropis. Juga rancang bangun alat deteksi dini gerak turbulensi LLWS.

Pendekatan persamaan fisis untuk model forecasting kejadian pertumbuhan awan konvektif sangat diperlukan untuk memahami gejala anomali atmosfer. Pola fisis dalam fenomena gerak turbulens juga menjadi landasan untuk menyusun rancang bangun alat deteksi dini.

“Besar harapan kami segala daya upaya dan pengembangan pemikiran kami akan berguna bagi ilmu pengetahuan kebencanaan dan masyarakat,” harap Anggota Himpunan Ahli Geofisika Indonesia ini. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: anomali atmosferbencana hidrometeorologiCurah hujan ekstremmitigasi bencana hidrometeorologipesawat terbangProf. Rahmat Gernowoturbulensi atmosferUndip

Editor

Next Post
Pelaksanaan SLI Tematik di Subak, Kabupaten Badung, Bali. Foto bmkg.go.id.

Sekolah Lapang Iklim Didik Petani Beradaptasi dengan Iklim Ekstrem

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media