Jumat, 3 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Riset Paleotsunami, Pembangunan Infrastuktur Selatan Jawa Perbesar Risiko Dampak Tsunami

Perulangan gempa besar magnitudo 9 di selatan Jawa setiap 675 tahun sekali dan dapat mematahkan area selatan sejauh 900 km lebih.  

Rabu, 6 Agustus 2025
A A
Jejak tsunami raksasa di pantai selatan Jawa berdasar riset paleotsunami. Foto Dok. BRIN.

Jejak tsunami raksasa di pantai selatan Jawa berdasar riset paleotsunami. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tim peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyimpulkan, tsunami raksasa di selatan Jawa memang pernah terjadi berulang. Rentang waktu antar kejadian diperkirakan 600–1.200 tahun. Simpulan itu berdasarkan penelitian paleotsunami di berbagai lokasi di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa yang dilakukan sejak tsunami Pangandaran pada 2006.

Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi, Purna Sulastya Putera menjelaskan, secara historical atau yang pernah terjadi, hasil perhitungan matematis oleh McCaffrey menunjukkan magnitudonya selalu di bawah 8. Dan perulangan gempa besar magnitudo 9 di selatan Jawa setiap 675 tahun sekali.

“Nah, itu yang ingin kami buktikan di selatan Jawa. Jika terjadi gempa besar magnitudo 9, maka area yang terpatahkan itu bisa 900 kilo lebih. Artinya, seluruh selatan Jawa bisa terdampak,” kata Purna dalam forum Media Lounge Discussion (MELODI) di Loby Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu, 6 Agustus 2025.

Baca juga: Kemenhut Klaim Pembangunan Fasilitas Wisata TN Komodo di Zona Pemanfaatan

Dari Lebak ke Kulon Progo

Tim riset menemukan antara lain di Lebak (Banten), terdapat lapisan pasir kaya mikrofauna laut dan bongkahan kayu di kedalaman kurang dari 1 meter yang bukan berasal dari rawa. Ada juga temuan mineral gloponid mengisi cangkang-cangkang dari foraminifera atau biota laut. Temuan branching coral atau coral bercabang dalam posisi berdiri yang tertimbun pasir. Diperkirakan berasal dari tsunami sekitar 400 tahun dan 3.000 tahun lalu.

Sementara di Pangandaran (Jawa Barat) terdapat endapan tsunami berlapis, termasuk lapisan pasir bergelombang yang mengindikasikan ada dampak perubahan lingkungan yang berubah akibat uplift yang mengindikasikan telah terjadi gempa bumi dan tsunami yang besar.

Sedangkan di daerah Adipala, Cilacap (Jawa Tengah) pihaknya menemukan radiolaria, mikrofauna laut dalam yang jarang ditemukan, di dalam lapisan tsunami. Umurnya diperkirakan sekitar 1.800 tahun.

Baca juga: Dokumentasi Pengelolaan Energi Terbarukan Berbasis Komunitas di Tiga Daerah

Di Kulon Progo, DIY, tim peneliti paleotsunami menemukan lapisan berisi cangkang foraminifera, termasuk ‘baby foram’, sebagai bukti kuat transportasi material laut. Tim menemukan ada tiga lapis paleotsunami yang belum dilakukan dating. Umurnya diperkirakan lebih 1.800 tahun.

“Di sini, kami menemukan ada tiga lapis paleotsunami yang sebenarnya hasil dating-nya atau umurnya belum diketahui karena masih dianalisis. Kami berharap lapisan yang tengah dan paling atas itu lebih mudah dari 1.800 sehingga bisa merekonstruksi lebih detail perulangan dari tsunami raksasanya,” papar dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: penelitian paleotsunamiPRKG BRINtsunami Pangandarantsunami pantai selatan Jawatsunami raksasa

Editor

Next Post
Lahan masyarakat adat Natinggir yang ditanami eukaliptus oleh pihak PT Toba Pulp Lestari. Foto iklimku.org.

Lahan Pertanian Ditanami Eukaliptus, Masyarakat Adat Natinggir Tergusur

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media