Wanaloka.com – Dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR pada 19 Januari 2026, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebutkan sekitar 28 juta orang dari 287 juta penduduk Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Baik depresi, disorder atau anxiety disorder, skizofrenia, ADHD. Sementara data WHO menyebutkan satu dari 8-10 orang penduduk di dunia mempunyai masalah kejiwaan.
Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, Riati Sri Hartini menilai pernyataan Menkes tersebut masuk akal. Mengingat sejumlah data menunjukkan jumlah masyarakat yang mengalami masalah kejiwaan memang sangat besar. Namun angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati.
“Angka itu sangat bergantung pada apa yang dimaksud dengan masalah kejiwaan dan data tahun berapa yang diambil,” ujar psikiater itu, Sabtu, 24 Januari 2026.
Yang terpenting bukan hanya besarnya angka, melainkan kejelasan maknanya. Ia mempertanyakan apakah yang dimaksud masalah kejiwaan hanya mencakup gangguan jiwa berat atau juga termasuk stres, kecemasan, dan gangguan emosional lainnya.
“Apa pun definisinya, angka tersebut menunjukkan kesehatan mental merupakan persoalan serius yang dialami jutaan orang di Indonesia dan perlu penanganan yang lebih sungguh-sungguh,” tegas dia.
Baca juga: Kemunculan Sinkhole Menjadi Alarm Kegagalan Pengelolaan Tanah dan Air
Mengenal ADHD sejak dini
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat memengaruhi fungsi akademik, sosial, hingga kinerja seseorang di dunia kerja.
Pemahaman yang tepat mengenai gejala, waktu konsultasi, serta penanganan ADHD menjadi kunci untuk mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius.
Penderita ADHD umumnya mengalami kesulitan memusatkan perhatian dan sangat mudah terdistraksi oleh rangsangan kecil di sekitarnya. Mereka sering tidak menyelesaikan tugas sampai tuntas dan tampak seperti tidak mendengarkan ketika diajak berbicara.
Selain gangguan perhatian, penderita ADHD juga cenderung gelisah, sulit diam, serta banyak bergerak meskipun berada dalam situasi yang menuntut ketenangan. Perilaku impulsif, seperti memotong pembicaraan atau tidak sabar menunggu giliran, juga kerap muncul.
Konsultasi ke dokter sebaiknya segera dilakukan apabila gejala ADHD muncul sejak sebelum usia 12 tahun dan berlangsung terus-menerus selama enam bulan atau lebih. Tanda penting lainnya adalah ketika gejala tersebut muncul di lebih dari satu lingkungan, seperti di rumah, sekolah, atau tempat kerja.
Baca juga: Longsor Terjang Bandung Barat, Delapan Tewas dan 82 Orang dalam Pencarian
“Konsultasi menjadi sangat utama ketika gejala sudah mengganggu fungsi sosial, prestasi akademik, kinerja pekerjaan, hingga menimbulkan stres berat,” jelas dia.
ADHD dapat berdampak signifikan terhadap prestasi akademik maupun kinerja profesional. Penderita sering kesulitan mempertahankan fokus saat belajar atau bekerja sehingga tugas tidak selesai tepat waktu dan hasil akademik menurun.
Kondisi ini juga memengaruhi motivasi dan ketekunan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Apabila tidak ditangani secara tepat, risiko kegagalan studi atau pekerjaan dapat meningkat,” ucap dia.






Discussion about this post