Sabtu, 7 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sekitar 28 Juta Orang Indonesia Alami Gangguan Kejiwaan, Ada Kelompok Berisiko Tinggi

Masyarakat diharapkan dapat mengurangi stigma, sementara pemerintah perlu memastikan layanan kesehatan mental mudah diakses dan edukasi kesehatan mental diperluas.

Minggu, 25 Januari 2026
A A
Ilustrasi gangguan kejiwaan. Foto Counselling/pixabay.com.

Ilustrasi gangguan kejiwaan. Foto Counselling/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Meskipun impulsif dan tidak tepat waktu termasuk gejala ADHD, namun tidak selalu menandakan seseorang pasti mengalami kondisi tersebut.

“Diagnosis ADHD harus dilakukan oleh tenaga profesional dengan kriteria yang jelas dan menyeluruh,” ucap dia.

Baca juga: Catatan Jatam, Jejak Oligarki di Hulu, Daerah Aliran Sungai, dan Zona Rawan Bencana Sumatra

ADHD dapat ditangani secara multimodal dengan mengombinasikan terapi obat dan non-obat. Terapi perilaku dan terapi kognitif-perilaku (CBT) dianjurkan untuk melatih regulasi diri, emosi, serta fungsi eksekutif.

Dari sisi medis, dokter dapat meresepkan obat seperti metilfenidat atau atomoksetin untuk membantu meningkatkan fokus dan mengontrol impulsivitas. Modifikasi lingkungan, dukungan keluarga, serta penerapan gaya hidup sehat juga berperan penting dalam membantu menstabilkan gejala.

Kelompok berisiko tinggi 

Ada sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kejiwaan. Pertama, mereka adalah anak dan remaja yang masih berada dalam masa perkembangan emosi dan identitas, serta rentan terhadap tekanan sekolah, pergaulan, perundungan, dan pengaruh media sosial.

Kedua, kelompok usia produktif atau pekerja. Tuntutan kerja, target, persaingan, serta masalah ekonomi keluarga yang kerap mereka hadapi dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi. Perempuan dinilai lebih rentan akibat faktor biologis seperti hormonal, peran ganda di rumah dan tempat kerja, serta tekanan relasi dan kekerasan psikologis.

Ketiga, masyarakat perkotaan juga disebut berisiko karena hidup dengan ritme cepat, tingkat kompetisi tinggi, biaya hidup mahal, serta hubungan sosial yang cenderung individual. Kondisi serupa dialami kelompok dengan tekanan ekonomi dan sosial, seperti masalah keuangan, pengangguran, konflik keluarga, dan tekanan sosial yang terus menumpuk.

Baca juga: Jangan Hanya Cabut Izin, Walhi Desak 28 Perusahaan Pulihkan Lingkungan Sumatra

Keempat, masyarakat dengan akses layanan kesehatan mental yang rendah dan stigma yang tinggi, sehingga enggan mencari bantuan profesional. Lansia juga termasuk kelompok berisiko karena menghadapi berbagai perubahan besar dalam hidup, seperti penurunan kesehatan fisik, kehilangan pasangan atau teman, pensiun, kesepian, dan perasaan tidak berguna.

Gangguan jiwa tidak muncul dari satu penyebab tunggal. Ia bersifat multifaktorial. Faktor biologis, psikologis, sosial, dan spiritual saling berinteraksi dan dapat memicu gangguan jiwa ketika tidak berada dalam kondisi seimbang.

Upaya pencegahan dan penanganan masalah kejiwaan juga harus dilakukan secara menyeluruh. Peran individu dalam menjaga pola hidup sehat dan mengelola stres, peran keluarga dan lingkungan dalam menciptakan suasana yang suportif, serta peran sekolah dan tempat kerja dalam menyediakan lingkungan yang aman dan bebas dari perundungan. Menkes juga meminta masyarakat mengakses layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

“Masyarakat diharapkan dapat mengurangi stigma, sementara pemerintah perlu memastikan layanan kesehatan mental mudah diakses dan edukasi kesehatan mental diperluas,” imbuh dia.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih mawas diri dengan mengenali tanda-tanda awal masalah mental melalui deteksi dini dan skrining sederhana.

“Mari hapus stigma agar tidak ada lagi yang takut atau malu mencari bantuan. Ciptakan lingkungan keluarga, sekolah, dan tempat kerja yang aman, saling mendukung, dan tidak menghakimi,” ajak dia. [WLC02]

Sumber: IPB University

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: ADHDFakultas Kedokteran IPB UniversityGangguan KejiwaanKelompok Berisiko

Editor

Next Post
Banjing bandang menerjang lereng Gunung Slamet yang menyebabkan empat kabupaten terdampak, Sabtu, 24 Januari 2026. Foto Dok. BNPB.

Banjir Bandang Kepung Lereng Gunung Slamet, Empat Kabupaten Terdampak

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media