Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sekolah Lapang Iklim Didik Petani Beradaptasi dengan Iklim Ekstrem

Perubahan iklim secara ekstrem berpengaruh pada pola tanam dan waktu panen bidang pertanian. Kalender tanam yang sudah berlaku turun temurun bisa berubah sehingga petani merugi. Solusinya, BMKG menginisiasi adanya Sekolah Lapang Iklim bagi petani. Apakah itu?

Senin, 1 Agustus 2022
A A
Pelaksanaan SLI Tematik di Subak, Kabupaten Badung, Bali. Foto bmkg.go.id.

Pelaksanaan SLI Tematik di Subak, Kabupaten Badung, Bali. Foto bmkg.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Peristiwa iklim ekstrem biasa dikaitkan dengan kekeringan dan banjir. Dua unsur itu acapkali menjadi penyebab gagal panen. Namun upaya antisipasi untuk mengurangi dampak iklim ekstrim yang telah dilakukan hanya difokuskan pada mitigasi kerusakan, bukan upaya pencegahan.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggagas pelaksananaan Sekolah Lapang Iklim Tematik untuk meningkatkan aksesibilitas dan pemanfaatan iklim bagi petani dan penyuluh. Tujuannya, pertama, untuk mentransfer pengetahuan tentang ilmu iklim dasar kepada para pemangku kepentingan. Dan agar tujuannya tercapai, istilah-istilah teknis dalam informasi iklim BMKG diterjemahkan ke dalam bahasa sehari-hari yang praktis dan mudah dipahami.

Kedua, SLI Tematik membantu petani memahami informasi iklim (prakiraan) untuk mendukung kegiatan pertanian mereka. Terutama menentukan awal tanam dan dalam memilih varietas tanaman yang tepat, berdasarkan variabilitas iklim dan kondisi iklim saat ini.

Baca Juga: Prakiraan Ahli Iklim Nasional, Awal Penghujan September-November 2022

Dan harapannya, SLI dapat memperkuat ketahanan pangan nasional, mewujudkan kedaulatan pangan, kesejahteraan petani, sekaligus mengantisipasi dampak perubahan iklim.

“SLI adalah program belajar sambil bekerja sehingga petani mampu meningkatkan kemampuan beradaptasi secara tepat dalam menghadapi risiko cuaca dan iklim ekstrem,” kata Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Urip Haryoko saat membuka SLI tematik di Subak Delod Sema, Kabupaten Badung, Mei 2022.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menambahkan, petani menjadi kelompok paling rentan terdampak perubahan iklim. Kejadian iklim ekstrem akan menyebabkan kegagalan panen dan tanam yang berujung pada penurunan produktivitas dan produksi akibat banjir dan kekeringan, peningkatan suhu udara, dan intensitas serangan hama.

SLI diharapkan mampu mendongkrak produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Mengingat petani umumnya telah memiliki kearifan lokal turun menurun mengenai cuaca. Perpaduan keduanya diharapkan dapat meminimalisir dampak buruk yang diakibatkan oleh cuaca dan iklim di kegiatan pertanian.

Baca Juga: Gerakan Global Climate Srike: Waktu Kian Sempit, Bumi Serukan Darurat Iklim

Cuaca dan iklim sangat berpengaruh terhadap pertanian. Di sektor pertanian, cuaca dan iklim berpengaruh terhadap jenis tanaman yang akan ditanam dan waktu tanam.

“Kondisi cuaca dan iklim harus diperhitungkan betul dalam setiap aktivitas pertanian. Kekeringan yang ekstrem dan curah hujan yang tinggi dapat berdampak buruk pada hilangnya produktivitas tanaman,” tutur Dwikorita saat membuka SLI di Magelang, Juli 2022.

Materi-materi dalam SLI, antara lain pemahaman tentang cuaca dan iklim, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pengamatan cuaca dan iklim, pengelolaan sumber daya air melalui praktik Subak, serta adopsi dan kelanjutan pengetahuan kearifan lokal tentang praktik penanggalan tanam Sasih.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BMKGIklim ekstremkekeringan dan banjirpetaniSekolah Lapang iklim

Editor

Next Post
Pusat gempa Luwu Timur, Sulawesi Selatan, magnitudo 3,7 yang terjadi pada Senin malam, 1 Agustus 2022. Foto tangkap layar bmkg.go.id.

Guncangan Gempa Luwu Timur Sulawesi Selatan Dirasakan hingga Skala IV MMI

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media