Minggu, 8 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Simocakap, Cegah Kebakaran Lahan Gambut Berbasis Teknologi dan Partisipasi Masyarakat

Dengan pemantauan realtime, Simocakap dapat mendeteksi kebakaran lahan dan mengukur kabut asap, sehingga membantu langkah mitigasi yang cepat.

Rabu, 23 Oktober 2024
A A
Tampilan aplikasi Simocakap untuk memantau cuaca, kebakaran lahan, dan kabut asap berbasis partisipasi masyarakat. Foto Dok. BRIN.

Tampilan aplikasi Simocakap untuk memantau cuaca, kebakaran lahan, dan kabut asap berbasis partisipasi masyarakat. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Kolaborasi riset ini bertujuan untuk mencari solusi yang komprehensif dan berkelanjutan terhadap permasalahan kompleks pada lahan gambut. Terutama untuk memahami bagaimana interaksi antara karbon dan tinggi muka air yang ada di lahan gambut dan hubungannya dengan dinamika atmosfer serta iklim yang diyakini mempengaruhi sirkulasi global dunia.

Kelahiran teknologi ini dilatarbelakangi kebakaran lahan gambut yang merupakan masalah lingkungan serius yang berdampak luas, baik ekosistem, kesehatan manusia, serta iklim global. Guna mengembangkan strategi pencegahan kebakaran dan mitigasi yang efektif pada lahan gambut, perlu dilakukan penelitian mendalam untuk memahami dinamika dan karakteristik tanah gambut.

Baca Juga: AMAN Desak Pemerintahan Prabowo Sahkan RUU Masyarakat Adat dalam 100 Hari Pertama

Saat musim kemarau, tingkat muka air tanah di lahan gambut menurun yang menyebabkan lahan gambut menjadi kering dan mudah terbakar.

“Kebakarannya bisa berlangsung cukup lama dan menghasilkan asap yang berbahaya bagi kesehatan manusia,” ujar dia.

Sementara tanah gambut punya karakteristik unik tanah gambut yang berbeda dari jenis tanah lainnya. Kandungan air yang tinggi membuat tanah gambut sangat lembab dan mudah terkompresi.

Baca Juga: Aruki Nilai Agenda dan Pidato Kenegaraan Prabowo Gagal Atasi Krisis Iklim

“Tanah gambut memiliki kapasitas penyimpanan karbon yang besar, menjadikan ekosistem penting dalam mitigasi perubahan iklim,” imbuh dia.

Namun tanah gambut rentan terhadap kerusakan. Ketika lahan gambut dikeringkan untuk keperluan pertanian atau pembangunan, bahan organik yang sebelumnya terendam air mulai terdekomposisi dengan cepat untuk melepaskan karbondioksida ke atmosfer.

“Ini berkontribusi terhadap pemanasan global,” jelas dia.

Ia berharap, Simocakap mendukung upaya pelestarian alam sekaligus upaya pembangunan.

“Kami bekerja sama dengan alam. Alam harus tetap lestari, tetapi pembangunan harus tetap berjalan,” kata Sulaiman. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: aplikasi SimocakapBRINKarhutlakebakaran lahan gambutpartisipasi masyarakatpemanasan global

Editor

Next Post
Distribusi ikan red devil (Amphilophus citrinellus) di Danau Toba bulan April 2024. Foto Dok. FPIK IPB University.

IPB University Teliti Populasi Ikan Red Devil yang Resahkan Nelayan Danau Toba

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media