Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sinergi Tradisi dan Sains Jadi Solusi Mitigasi Bencana di Indonesia

Kamis, 6 November 2025
A A
Dampak smong atau tsunami di Aceh tahun 2004. Foto aceh.kemenag.go.id.

Dampak smong atau tsunami di Aceh tahun 2004. Foto aceh.kemenag.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong agar dikotomi antara tradisi dan sains diakhiri. Sebab ilmu pengetahuan modern dan kearifan tradisional justru bisa bersinergi dalam upaya mitigasi bencana di Indonesia.

Kolaborasi dua pendekatan ini dinilai menjadi langkah penting agar strategi pengurangan risiko bencana tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga berakar kuat pada konteks sosial dan budaya masyarakat setempat.

“Keduanya bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengisi. Ketika para peneliti duduk bersama dan membuka diri, maka lahirlah pemahaman yang lebih utuh tentang fenomena bencana,” ujar Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara dalam webinar bertema “Mitigasi Bencana antara Tradisi dan Sains”, di Jakarta, Jumat, 31 Oktober 2025.

Baca juga: Kementerian PU Alokasikan Rp351,8 Miliar untuk Tanggap Darurat Bencana 2025

Pendekatan kolaboratif harus menjadi fondasi riset-riset BRIN ke depan, khususnya dalam bidang ekologi dan mitigasi bencana. Ia mencontohkan pengalamannya melakukan riset bersama ahli geoteknologi untuk menelusuri fenomena smong di Aceh. Dalam riset itu, tradisi lisan masyarakat menjadi pintu masuk memahami sejarah tsunami, sementara sains membantu menjelaskan secara geologis mekanisme kejadiannya.

“Kami tidak bisa hanya mengandalkan laboratorium dan data satelit, tanpa memahami narasi masyarakat yang hidup berdampingan dengan risiko,” tutur dia.

Kepala Pusat Riset MLTL, Sastri Sunarti menilai, integrasi antara sains dan tradisi menjadi ciri khas riset kebencanaan di Indonesia yang kaya akan budaya dan sejarah lokal. Salah satu isu aktual terkait potensi gempa besar di kawasan Mentawai dan pesisir Sumatera.

Baca juga: Atasi Ketergantungan Pangan, Komisi IV Minta Sagu Kembali Jadi Makanan Pokok Papua

“Informasi seperti ini sering menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Namun, dengan edukasi berbasis tradisi dan sains, kami dapat membangun ketenangan sekaligus kesiapsiagaan,” imbuh dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINKearifan Lokalmitigasi bencanaSMONGtradisi dan sainstsunami Aceh

Editor

Next Post
Ilustrasi pengolahan limbah cair dari perusahaan. Foto synergylab.or.id.

Pengelolaan Air Limbah Domestik dan Usaha Diatur Terpisah

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media