Kamis, 12 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Slow Tourism, Konsep Pariwisata yang Mendukung Keberlanjutan Lingkungan

Sebetulnya, slow tourism bukan musuh dari fast tourism, tetapi mass tourism.

Senin, 7 April 2025
A A
Ilustrasi slow tourism yang tidak melibatkan turis massal. Foto NamibianHeart/pixabay.com.

Ilustrasi slow tourism yang tidak melibatkan turis massal. Foto NamibianHeart/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Sementara Peneliti Pusat Riset Ekonomi, Industri, Jasa, dan Perdagangan BRIN, Roby Ardiwidjaja menanggapi, bahwa konsep ini sebagai pengembangan destinasi pariwisata berkelanjutan yang berkualitas. Ia menjelaskan dengan rinci hasil analisis situasi mengenai perkembangan pariwisata, berbagai isu-isu strategis, dan kebijakan pariwisata di tingkat global maupun nasional. Lalu tentang daerah-daerah destinasi slow travel tourism di dalam dan luar negeri. Hingga bagaimana formula dan implementasi strategi pariwisata di Indonesia.

Baca juga: Potensi Lumut Kerak untuk Bumbu Masakan hingga Antbiotik

Menurut Roby, kunci slow tourism adalah kerangka berpikir dari wisatawan itu sendiri. Baginya, hal-hal yang ingin didapatkan dari slow tourism adalah pengalaman nyata dan pengetahuan yang baru dari berwisata. Sementara salah satu isu strategis nasional yang perlu diperhatikan, bahwa umumnya berbagai pembangunan termasuk pembangunan pariwisata seringkali melupakan keberlanjutan.

Akibatnya, meningkatkan kerusakan lingkungan, degradasi budaya dan emisi gas buang. Ia melihat, penyelenggaraan pariwisata konvensional masih berfokus pada wisata massal. Saat terjadi perubahan tren wisatawan yang menuntut produk wisata menampilkan lokalitas, sehingga memicu munculnya konsep-konsep pariwisata baru. Salah satunya konsep slow tourism.

Hingga kini, slow tourism masih terus diteliti beberapa negara maju untuk dikembangkan sebagai konsep wisata yang berfokus pada upaya negasi terhadap kondisi wisata massal. Konsep ini masih terbuka untuk terus dikembangkan guna memperkuat aspek terminologi, definisi, dan konsep.

Baca juga: Kisah Petani Kopi Cibulao, Dari Penjarah hingga Penjaga Hutan

“Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata pun belum melakukan identifikasi produk-produk slow tourism,” ungkap Roby.

Kedua peneliti ini pun merumuskan, salah satunya pengolahan makanan. Ia mencontohkan implementasi strategi slow tourism melalui wisata kuliner dan gastronomi.

Hal itu dapat menumbuhkembangkan sumber daya tarik seni kuliner gastronomi lokal. Selain itu, mengembangkan ekonomi lokal dan peningkatan taraf hidup masyarakat lokal, melestarikan budaya dan lingkungan, serta meningkatkan kepuasan wisatawan memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru.

Baca juga: Mengamati Ratusan Trinil Semak Bersiap Mudik dari Tulungagung ke Eropa

Roby lantas menunjukkan bagan tata kelola destinasi pariwisata berkelanjutan yang sudah di-rekognisi oleh UN Tourism (Organisasi Pariwisata Dunia). Bahwa terdiri dari 4 pilar, 10 kriteria, 38 sub kriteria, 174 indikator. Semua berhubungan dengan 17 program SDGs (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan). Pedoman ini dapat digunakan sebagai contoh untuk membuat kebijakan pariwisata.

Kepala PRKP BRIN, Yanuar Farida Wismayanti mengatakan bahwa slow tourism merupakan konsep baru yang dapat mendukung keberlanjutan lingkungan.

“Jika diterapkan di Indonesia, konsep ini mungkin dapat mendorong dan mendukung kebijakan pariwisata berkelanjutan. Sebab inti dari konsep ini untuk memastikan keberlanjutan dari lingkungan dan lainnya. Jadi memastikan semuanya memang terjaga,” ujar dia. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINdestinasi wisataLingkungan berkelanjutanmass tourismslow tourism

Editor

Next Post
Ilustrasi menyeduh kopi. Foto NoName_13/pixabay.com.

Tiga Metode Penyajian Kopi Terpopuler di Indonesia Tubruk, V60, dan Cold Brew

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 serukan pelaksanaan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.KPA Kritik Peran Bank Tanah, Menghidupkan Lagi Kepemilikan Tanah Negara Masa Kolonial
    In Lingkungan
    Rabu, 11 Februari 2026
  • MMA dan PPLH LRI sepakat menguatkan peran adat dalam mengelola hutan di Aceh. Foto Dok. IPB University.Kuatkan Kembali Panglima Uteun untuk Jaga Kelestarian Hutan Aceh
    In News
    Rabu, 11 Februari 2026
  • Lokasi pertambangan dekat dengan sebuah danau (L) dan Teluk Weda (R) di Indonesia Timur pada 2023. Foto Climate Rights International.Jatam Tegaskan, Empat Perusahaan Tambang di Maluku Utara Harus Ditindak Tegas, Tak Sekadar Denda
    In Lingkungan
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Ilustrasi sistem saraf pusat manusia yang meliputi otak dan sumsusm tulang belakang. Foto VSRao/pixabay.com.Virus Nipah Menyerang Sistem Saraf Pusat yang Percepat Perburukan Klinis
    In Rehat
    Selasa, 10 Februari 2026
  • Banjir di salah satu wilayah di Pulau Jawa. Foto Dok. Walhi.Kebijakan Tata Ruang Abaikan Lingkungan, Bencana Ekologis di Pulau Jawa Terus Berlanjut
    In Lingkungan
    Senin, 9 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media