Kamis, 29 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Suadi, Kebijakan Hilirisasi Perikanan Perlu Perhatikan Kesejahteraan Nelayan

Kebijakan hilirisasi dilakukan dengan memperbaiki distribusi ikan agar hasil tangkap nelayan dapat dipasarkan dengan baik, bukan memicu persaingan skala makro dan mikro.

Jumat, 8 November 2024
A A
Guru Besar Bidang Ilmu Perikanan dari Fakultas Pertanian UGM, Prof. Suadi. Foto LinkedIn.

Guru Besar Bidang Ilmu Perikanan dari Fakultas Pertanian UGM, Prof. Suadi. Foto LinkedIn.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Guru Besar Bidang Ilmu Perikanan dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Suadi menilai langkah hilirisasi bidang perikanan yang akan dilakukan pemerintah perlu memperhatikan aspek bagian hulu, khususnya kegiatan perikanan tangkap dan akuakultur.

Sebab budidaya perikanan tangkap ini didominasi skala kecil, yaitu di bawah 10 GT (Gross Ton). Bahkan hampir 95 persen hanya kapal-kapal ukuran kecil yang menopang industri perikanan nasional.

“Akibatnya wilayah penangkapan masih cenderung dekat dengan bibir pantai,” kata Suadi, Jumat, 8 November 2024.

Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi hingga Setinggi 4 Kilometer

Sejauh ini Pemerintah berencana meningkatkan hilirisasi di bidang perikanan dengan merevitalisasi 78.123 hektare tambak di Pantai Utara Jawa untuk meningkatkan perputaran produksi perikanan. Sejumlah komoditas perikanan rencananya akan ditingkatkan produksi dan pengelolaannya agar mampu bersaing di pasar ekspor global.

Menurut Suadi, Indonesia merupakan produsen ikan terbesar kedua dunia. Sementara peringkat pertama diduduki Cina. Sayangnya, posisi Indonesia sebagai eksportir komoditas perikanan justru sangat rendah dibanding negara lain.

Suadi menjelaskan, ada berbagai faktor mengapa sektor produksi dan pasar perikanan tidak berjalan dengan baik. Salah satunya adalah kurangnya pengelolaan nilai tambah produk perikanan. Suadi mencontohkan hasil ikan laut tangkap yang memiliki nilai tambah tanpa pengolahan.

Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Lagi, BNPB Desak Percepatan Relokasi

“Ikan tuna segar misalnya. Menjaga agar ikan tetap segar seperti saat pertama kali ditangkap, bahkan ketika sudah dalam perjalanan jauh. Itu merupakan nilai tambah,” papar dia.

Pemerintah perlu memperhatikan rantai pasok dingin yang menjadi komponen utama dalam mengekspor ikan segar. Komoditas seperti udang, cakalang, tuna, kepiting, dan rumput laut ternyata banyak digemari negara lain.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: eksploitasi lautGuru Besar Ilmu Sosial Ekonomi Perikanan dan Kelautan UGM Prof. Suadihilirisasi perikananperikanan tangkap

Editor

Next Post
Ilustrasi makanan vegetarian. Foto JillWellington/pixabay.com.

Surat Komunitas Vegan untuk Prabowo, Percepat Upaya Atasi Pemanasan Global

Discussion about this post

TERKINI

  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media