Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tantangan Budidaya Abalon di Tengah Ombak Pantai Selatan yang Tinggi

Empat dari tujuh spesies abalon yang tersebar di Indonesia, ditemukan di wilayah laut Gunungkidul, yaitu Haliotis asinina, Haliotis squamata, Haliotis varia, dan Haliotis ovina.

Sabtu, 6 September 2025
A A
Abalon. Foto Dok. BRIN.

Abalon. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

“Karena itu, abalon bernilai aset strategis untuk sektor pangan, kesehatan, dan industri kreatif karena bernilai ekonomi tinggi dan kandungan gizi luar biasa,” imbuh Djoko.

Tantangan ombak tinggi

Meskipun potensial, budi daya abalon di Gunungkidul menghadapi tantangan signifikan. Gelombang laut yang cukup tinggi khas pesisir selatan Pulau Jawa menyulitkan pencarian lokasi budi daya yang aman.

“Saat ini, nelayan hanya bisa menangkap abalon saat air laut surut panjang, yaitu saat purnama dan bulan gelap. Pasokan abalon sebagai bahan kuliner di Gunungkidul pun tidak konsisten.

Baca juga: Iradiasi Pangan untuk Kurangi Food Loss, Lebih Awet, dan Menekan Risiko Kontaminasi

Untuk mengatasi tantangan tersebut, Djoko mengusulkan solusi berbasis keberlanjutan. Yakni menebarkan benih sebanyak mungkin melalui restocking. Lalu, mengatur regulasi agar nelayan hanya menangkap abalon yang ukuran panjang cangkangnya lebih dari 5 sentimeter. Sebab pada ukuran tersebut, abalon sudah bertelur dan berkontribusi terhadap proses regenerasi populasi di alam.

Melalui budi daya terkontrol, restocking benih, dan regulasi penangkapan, Djoko berharap abalon mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sekaligus, melestarikan ekosistem laut Gunungkidul. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: AbalonKabupaten Gunungkidulpantai selatan JawaPRTPP BRIN

Editor

Next Post
Ilustrasi anak dengan penyakit campak. Foto biofarma.co.id.

Alasan Campak Dapat Menyebabkan Kematian dan Wabah

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media