Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Alasan Campak Dapat Menyebabkan Kematian dan Wabah

Jika campak tidak tertangani dengan baik, maka akan berisiko memicu komplikasi yang berbahaya.

Sabtu, 6 September 2025
A A
Ilustrasi anak dengan penyakit campak. Foto biofarma.co.id.

Ilustrasi anak dengan penyakit campak. Foto biofarma.co.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Wabah campak dapat dicegah melalui imunisasi. Namun, rendahnya cakupan vaksinasi di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur membuat penyakit ini semakin mudah menyebar hingga berkembang menjadi wabah.

“Di sana (Sumenep, red) memang ada penolakan vaksin dari warga. Padahal, vaksin ini mencegah terjadinya komplikasi lebih berat daripada suatu penyakit. Kebetulan kalau campak ini, imunisasi dapat mengurangi risiko komplikasi serius,” jelas Pakar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Umari), Prof. Irwanto.

Namun penolakan imunisasi, bukan semata-mata penyebab wabah campak. Faktor lain seperti status gizi yang buruk dan kurangnya vitamin A juga turut memperbesar risiko anak terjangkit campak. Kondisi tubuh yang lemah membuat daya tahan menurun, sehingga anak lebih mudah terinfeksi.

Baca juga: Tantangan Budidaya Abalon di Tengah Ombak Pantai Selatan yang Tinggi

Jika campak tidak tertangani dengan baik, maka akan berisiko memicu komplikasi yang berbahaya, mulai dari infeksi paru-paru (pneumonia), gagal napas karena minimnya alat bantu, hingga peradangan otak (ensefalitis). Semua komplikasi tersebut dapat berujung pada kematian apabila tidak segera mendapat penanganan.

Irwanto mengimbau agar orang tua waspada dan peka terhadap tanda-tanda awal gejala campak. Gejala biasanya muncul berupa demam tinggi hingga 40 derajat celcius, disertai batuk, pilek, dan mata merah. Dalam tiga sampai empat hari berikutnya, muncul ruam kemerahan yang menyebar ke seluruh tubuh, serta bercak putih kecil di dalam mulut (koplik spot).

“Sebenarnya, campak ditandai ruam yang kemudian menghitam sebelum sembuh. Banyak masyarakat salah kaprah menyebut penyakit lain sebagai campak, padahal bukan,” tegas dia.

Baca juga: Iradiasi Pangan Telah Diterapkan Pada Cabai, Telur dan Bawang Merah

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Kedokteran UnairimunisasiKabupaten Sumeneppenyakit campak

Editor

Next Post
Penebangan pohon kelapa sawit ilegal di Tenggulun, TNGL. Foto Dok. Kemenhut.

Sekitar 360 ha Sawit Ilegal di Leuser Ditumbangkan untuk Pulihkan Fungsi Hutan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media