“Jadi, untuk menyelesaikan permasalahan polusi udara dibutuhkan regional platform. Jadi kami perlu berkolaborasi dengan siapapun,” ujar dia.
Muhayatun berharap, BRIN dapat berkontribusi dalam menangani permasalahan ini. Ia juga berharap Indonesia dapat memanfaatkan teknologi nuklir untuk membantu memecahkan permasalahan polusi udara tersebut.
Kolaborasi dengan DKI Jakarta
Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (UPT LLHD) DKI Jakarta, Diah Ratna Ambarwati mengatakan, kolaborasi dengan BRIN terkait polutan udara sudah dilakukan sejak 2010.
Baca Juga: Kucing di Turki Pernah Dianggap Pahlawan Kesehatan, Ini Alasannya
BRIN meletakkan alat pemantau polusi udara dengan memasang alat di Kantor LLHD yang dekat dengan jalan raya. Kemudian datanya secara kontinyu dikirimkan ke BRIN untuk dilakukan analisis menggunakan teknologi nuklir.
“Itu sangat membantu kami. Data hasil analisis dari BRIN, kami jadikan data komprehensif, sehingga bisa mengambil kebijakan untuk daerah perkotaan dalam pengendalian pecemaran udara,” lanjut Diah.
Menurut dia, teknologi ini lebih baik, karena belum ada teknologi lain yang bisa mendeteksi kandungan yang ada di partikulat udara yang konsentrasinya sangat rendah.
Baca Juga: Anak Banteng Jantan Lahir di Taman Nasional Baluran
“Mungkin metode konvensional pun belum tentu bisa mendeteksi kandungan partikulat udara dari konsentrasi yang sangat rendah. Harus dengan teknologi yang sensitifitasnya tinggi, akurasi datanya juga tinggi,” terang dia.
Diah mengungkapkan penyebab polusi udara di Jakarta berasal dari sumber bergerak dan tidak bergerak. Sebanyak 75 persen atau mayoritas dari sumber bergerak. Beberapa kajian yang telah dilakukan di Jakarta terkait sumber polusi udara adalah disebabkan aktivitas transportasi. [WLC02]
Sumber: BRIN
Discussion about this post