Minggu, 14 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tim Ekspedisi Sulawesi Temukan Katak Terbang yang Hilang Satu Abad

Penemuan terbaru menunjukkan bahwa Sulawesi memiliki angka nomor dua tertinggi dalam penemuan spesies baru di Indonesia, sehingga menandakan tingginya keanekaragaman hayati di wilayah tersebut.

Kamis, 12 Juni 2025
A A
Katak terbang (Rhacophorus rhyssocephalus) endemik Sulawesi ditemukan pada gustus 2023. Foto Efendi Sabinhaliduna/Dok. BRIN.

Katak terbang (Rhacophorus rhyssocephalus) endemik Sulawesi ditemukan pada gustus 2023. Foto Efendi Sabinhaliduna/Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Usai satu abad lebih menghilang, katak terbang dari Pulau Sangihe, Sulawesi Utara kembali ditemukan tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Alamsyah Elang NH dkk pada Agustus 2023. Sebelumnya, katak ini diketahui sebagai sub-spesies Rhacophorus pardalis yang tersebar luas dari Sumatra hingga Kalimantan.

“Kami kemudian menaikkan status katak terbang tersebut menjadi jenis baru, yang diberi nama Rhacophorus rhyssocephalus,” kata Alamsyah dalam diskusi SOS#66 bertajuk “Sulawesi Flying Frogs: Identity Challenges and Diversity” secara daring, Kamis, 5 Juni 2025.

Disebut sebagai katak terbang karena memiliki selaput penuh di jari tangan dan kaki yang membantunya melayang saat melompat. Istilah “flying frog” sendiri pertama kali diperkenalkan Alfred Russel Wallace dalam bukunya The Malay Archipelago.

Baca juga: Dua Pabrik Peleburan Logam Disegel, Proses Hukum Satu Pabrik Diabaikan Sejak 2023

Alamsyah menjelaskan bahwa genus Rhacophorus merupakan bagian dari famili Rhacophoridae, dengan tipe spesies Rhacophorus reinwardtii yang ditemukan di Jawa Barat. Salah satu ciri khasnya adalah adanya tulang penghubung antara ruas jari pertama dan kedua.

Secara historis, genus Rhacophorus memiliki persebaran yang luas, ditemukan mulai dari India, Cina, Jepang, Malaysia, Indonesia, hingga Filipina. Di Indonesia, wilayah paling timur yang diketahui menjadi habitatnya adalah Pulau Sulawesi.

Lebih jauh, ia merinci bahwa saat ini terdapat lima spesies Rhacophorus yang telah teridentifikasi di Sulawesi. Meliputi Rhacophorus edentulus (Müller, 1894), Rhacophorus monticola (Boulenger, 1896), Rhacophorus georgii (Roux, 1904), Rhacophorus rhyssocepholus (Wolf, 1936, dalam Herlambang dkk. 2025), dan Rhacophorus boedii (Hamidy, Riyanto, Munir, Gonggoli, Trislaksono, dan McGuire, 2025).

Baca juga: Tanggul Laut Masih Jadi Solusi Pemerintah Atasi Rob di Pesisir Utara Jawa

Alamsyah menuturkan bahwa hasil ekspedisi selama 20 tahun di Sulawesi menunjukkan ada beberapa garis keturunan yang berbeda dalam kelompok Rhacophorus. Seluruhnya merupakan endemik di Pulau Sulawesi. Kelompok katak terbang ini diklasifikasikan ke dalam empat grup berdasarkan karakteristik fisik.

Pertama, Grup Batik Cokelat, memiliki corak menyerupai batik dengan moncong yang meruncing. Kedua, Grup Web Hitam, memiliki selaput berwarna hitam di kakinya.

Ketiga, Grup Hijau, berwarna hijau muda dan berukuran lebih kecil. Dan keempat, Grup Pipi Putih, memiliki bercak putih di sebagian pipinya.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: amfibi endemik SulawesiBRINflying frogkatak terbang

Editor

Next Post
Warga Desa Manyaifun bersama aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk bertuliskan ‘Selamatkan Raja Ampat, Stop Nikel’ dan ‘Selamatkan Hutan Papua’, dengan Desa Manyaifun dan perbukitan Pulau Batang Pele di latar belakang. Pulau Batang Pele merupakan destinasi wisata yang masuk dalam kawasan hutan lindung dan menjadi bagian dari UNESCO Global Geopark. Saat ini, izin usaha pertambangan nikel tengah diajukan untuk pulau tersebut oleh PT Mulia Reymond Perkasa mencakup wilayah konsesi seluas 2.193 hektare, yang meliputi Desa Manyaifun dan Pulau Batang Pele. Foto Alif R Nouddy Korua/Greenpeace.

Enam Temuan Baru Greenpeace Ungkap Rencana Besar Industri Nikel di Raja Ampat

Discussion about this post

TERKINI

  • Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Meutia Samira Ismet. Foto itk.ipb.ac.id.Meutia Ismet: Tambang Nikel Teluk Buli Ancam Ekosistem Laut hingga Kesehatan
    In Sosok
    Sabtu, 13 Juni 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Baleg DPR Janjikan RUU Masyarakat Adat Selesai 2026, Apa Saja akan Diatur?
    In Rehat
    Sabtu, 13 Juni 2026
  • Sidang gugatan intervensi Walhi atas kasus gugatan KLH melawan PT TPL di PN Medan, 10 Juni 2026. Foto Dok. Walhi.Gugatan Intervensi Walhi, PT TPL Harus Pulihkan 29.939 Ha Kawasan Terdampak Senilai Rp2,6 Triliun
    In News
    Jumat, 12 Juni 2026
  • Dosen Geologi Fakultas Teknik UGM, Gayatri Indah Marliyani. Foto Kagama.coGayatri Marliyani: Gempa Bumi di Laut Mindanao Umum Terjadi
    In Sosok
    Jumat, 12 Juni 2026
  • Ilustrasi kemarau panjang. Foto Adege/Pixabay.com.BMKG Prediksi El Nino 2026 Bertahan hingga Awal 2027
    In News
    Kamis, 11 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media