“Seiring berjalannya waktu, tim tidak cukup menemukan bukti kuat bahwa api muncul secara alami dan dapat menyala karena pemantik elektromagnetik maupun menyala sendiri akibat Spontaneous Ignition,” jelas Sarju, anggota tim lainnya.
Selain analisis laboratorium, tim juga melakukan investigasi bawah permukaan menggunakan teknologi georadar dan geolistrik untuk mengetahui kemungkinan adanya sumber gas dari dalam tanah.
Anggota tim peneliti dari Departemen Teknik Geologi, Saptono Budi Samodra menjelaskan bahwa survei memang mengidentifikasi adanya retakan hingga kedalaman sekitar 15–20 meter. Namun, hasil interpretasi menggunakan georadar menunjukkan retakan tersebut tidak mengandung gas alam dan tidak dapat dikaitkan sebagai sumber kemunculan api.
“Hasil geolistrik juga memperlihatkan karakter lapisan bawah permukaan yang didominasi pasir dengan resistivitas tinggi sehingga tidak mendukung hipotesis adanya reservoir gas di bawah lokasi,” terang Saptono.
Ruang lingkup penelitian yang dilakukan PKPE berfokus pada identifikasi kemungkinan penyebab alami (natural causes). Sementara penyelidikan mengenai sumber pemantik (ignition source), termasuk kemungkinan faktor lain di luar aspek ilmiah yang telah diteliti, menjadi kewenangan instansi terkait untuk ditindaklanjuti.
Hasil investigasi PKPE Fakultas Teknik UGM mengubah arah pemahaman terhadap kasus kebakaran di Seyegan. Jika sebelumnya perhatian tertuju pada dugaan rembesan gas dari bawah tanah, penelitian justru menunjukkan bahwa sumber masalah lebih mungkin berasal dari material yang terbakar di permukaan.
Tindak lanjut dari temuan Tim Pakar UGM sepenuhnya diserahkan ke BPBD Sleman. Sekaligus tim pakar ini resmi menutup observasi titik kemunculan api tersebut. [WLC02]






Discussion about this post