Kamis, 16 April 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Walhi: Banjir Bengkulu Tak Sekadar Akibat Cuaca Ekstrem 

Ada pola yang lebih serius, yakni krisis ekologis yang telah berlangsung lama dan kini meledak dalam bentuk bencana lintas wilayah.

Selasa, 7 April 2026
A A
Salah satu akses penghubung desa yang terputus usai banjir di Bengkulu. Foto tangkapan layar video warga/Dok. Walhi.

Salah satu akses penghubung desa yang terputus usai banjir di Bengkulu. Foto tangkapan layar video warga/Dok. Walhi.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Banjir yang melanda hampir seluruh wilayah Provinsi Bengkulu sejak 5 April 2026 tidak bisa lagi disebut sekadar dampak hujan deras atau cuaca ekstrem semata. Peristiwa ini memperlihatkan pola yang jauh lebih serius: krisis ekologis yang telah berlangsung lama dan kini meledak dalam bentuk bencana lintas wilayah.

Dari kawasan hulu hingga hilir, air meluap dengan cepat, merendam rumah-rumah warga, memutus akses jalan, melumpuhkan aktivitas ekonomi, merusak stok pangan rumah tangga, menghanyutkan bibit pertanian, dan memaksa masyarakat bertahan di tengah situasi darurat yang terus berulang.

Banjir terjadi di titik-titik kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu yang menjangkau Kabupaten Lebong, Kepahiang, Rejang Lebong, Bengkulu Tengah, Seluma, hingga Kota Bengkulu. Berikut data lapangan yang dihimpun Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bengkulu.

Kota Bengkulu. Sedikitnya ada 698 Kepala Keluarga (KK) atau 2.792 jiwa terdampak, lebih dari 165 rumah terendam yang terverifikasi di beberapa titik utama, serta sedikitnya 2 fasilitas umum terdampak, yaitu sekolah dan masjid.

Kabupaten Seluma. Data lapangan menunjukkan sedikitnya 835 KK atau 2.478 jiwa terdampak, dengan ratusan rumah warga di Kecamatan Talo, Semidang Alas Maras, Ulu Talo, Seluma Timur, dan Seluma Selatan mengalami genangan hingga lebih dari satu meter. Selain itu, tercatat 1 rumah rusak akibat longsor di Desa Kota Agung, Seluma Timur.

Kabupaten Lebong. Banjir yang melanda Lebong Utara, Lebong Tengah, Uram Jaya, Pinang Belapis, dan Amen menyebabkan sedikitnya lebih dari 100 rumah terdampak, dengan kerusakan lanjutan berupa kendaraan warga rusak, stok beras terendam, dan bibit pertanian hanyut.

Bengkulu Tengah. Banjir terpantau di Karang Tinggi, Pondok Kubang, dan Pondok Kelapa, dengan puluhan rumah warga terdampak dan beberapa akses desa sempat terganggu.

Kepahiang. Khususnya Kecamatan Seberang Musi, genangan merendam permukiman warga dan lahan pertanian, dengan belasan rumah terdampak awal berdasarkan laporan lapangan.

Rejang Lebong. Dampak cuaca ekstrem juga memicu puting beliung di Desa Sumber Urip, merusak rumah warga dan fasilitas permukiman.

Sebelumnya, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menyampaikan bencana di Bengkulu akibat hujan lebat disertai angin kencang. Potensi itu diperkirakan masih terjadi hingga pukul 10.30 WIB pada 6 April 2026 di wilayah Sumatra Barat, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, termasuk Bengkulu.

“Berkaca dari sejumlah bencana hidrometeorologi yang masih terjadi di berbagai wilayah, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada dan siaga,” kata Muhari.

Walhi Bengkulu menegaskan banjir ini bukanlah peristiwa alam yang berdiri sendiri. Melainkan konsekuensi langsung dari rusaknya bentang alam Bengkulu akibat ekspansi industri ekstraktif, lemahnya perlindungan daerah aliran sungai, serta tata ruang yang gagal melindungi keselamatan rakyat.

Aktivitas pertambangan batu bara, perkebunan skala besar, dan berbagai bentuk konsesi di kawasan tangkapan air telah menghancurkan tutupan hutan, merusak struktur tanah, menghilangkan daya serap kawasan hulu, dan mempercepat limpasan air ke wilayah tengah dan hilir.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Banjir Bengkulubencana ekologisBNPBCuaca EkstremWalhi Bengkulu

Editor

Next Post
Peta prediksi sifat musim kemarau 2026. Foto BMKG.

Godzilla El Nino 2026: Kemarau Datang Lebih Cepat, Lebih Kering dan Lebih Lama

Discussion about this post

TERKINI

  • Idea serahkan sengketa informasi terkait dokumen perizinan pendirian objek wisata di kawasan karst Gunungsewu di Gunungkidul, 14 April 2026. Foto KSKG.Dokumen Izin Wisata di Karst Gunungsewu Tertutup, Idea Serahkan Sengketa Informasi
    In News
    Selasa, 14 April 2026
  • Dokter menjelaskan kondisi paru-paru peserta ACF melalui hasil foto rontgen yang muncul hanya sesaat setelah melakukan rontgen. Foto Pusat Kedokteran Tropis UGM.Jemput Bola Eliminasi TBC Targetkan 3.000 Warga di Gunungkidul
    In News
    Senin, 13 April 2026
  • Cahaya jejak roket Jielong-3, 11 April 2026. Foto Dok. BRIN.Jejak Roket Cina Jielong-3 di Langit Indonesia
    In News
    Senin, 13 April 2026
  • Nelayan Maluku Utara membersihkan jaring dari lumpur sedimentasi. Foto Walhi Maluku Utara.Ancaman dan Peluang Nelayan di Tengah Cuaca Ekstrem
    In Lingkungan
    Minggu, 12 April 2026
  • Ilustrasi hasil rontgen paru pasien TB. Foto freepik.com.Eliminasi TBC, Temukan Kasus secara Aktif dan Waspada Batuk Lebih dari Dua Minggu
    In Rehat
    Sabtu, 11 April 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media