Sekali lagi, warga ini hanya ingin menjelma Petani Merdeka di Pesisir Merdeka—lagu yang populer dalam HUT PPLP dari masa ke masa. Bagi PPLP, mengabaikan hal-hal kecil adalah kesalahan besar. Berapa banyak ‘kawan sebelah’ yang tumbang sebelum berkembang karena tidak percaya pada diri sendiri?
Sekali ada niat menitipkan nasib pada elit, maka kutukan kekalahan akan membelit. Negara, korporasi dan antek-anteknya selalu menyiapkan cara untuk menjebak, meninabobokan, dan menjinakkan para kombatan. Apakah benih-benih di PPLP menyadari hal ini dan tidak larut dalam gempita kegembiraan tahunan? Semoga!
Isu tambang pasir besi ini ada hikmahnya, para petani yang dulu saling kompetisi dan tak saling kenal justru terikat dalam cita-cita yang sama: tetap bertani. Tanpa mereka sadari, mereka mengubah konflik menjadi kolaborasi, menyulap bahaya menjadi peluang.
Melampaui fanatik sempit, mereka yang saya temui secara terpisah dan berbeda dalam identitas sosial budaya serta mazhab politik di PPLP ini punya jawaban yang kurang lebih sama: “Kami menolak tambang agar tetap bisa bertani dan sejahtera. Kalau sudah tidak bertani, apa makna menolak tambang?”
Maka, sudah tepat strategi menolak tambang dengan cara wur (siapkan bibit), malir (siapkan lubang tanam dengan pupuk kandang), nandur (menanam), siram (mengairi), matun (membersihkan rumput), manen (menuai) dan endhong-endhongan (berkumpul untuk membagi pengetahuan, membaca situasi, menyikapi secara kolektif). Dengan demikian, PPLP adalah muara, ia pertemuan anak-anak sungai perubahan dengan beragam laju arus, warna dan cita rasa. Kelak, jika ada pemulia tanaman tumbuh di PPLP, tidak mustahil PPLP akan mandiri benih, itu lebih mudah daripada merintis dan menjaga pasar lelang.
Dari keringat para petani, kita bisa makan lalu bertenaga. Dari materi genetik kaum perempuan, kita bisa menghirup-hela udara. Dari kaum rentan, kemanusiaan kita tumbuhkan. Dari kaum bersenjata, kita mengenal kekerasan.
Ada satu pernyataan dari warga PPLP yang mendalam: “Polisi dan tentara punya senjata tapi dipakai untuk membunuh manusia. Petani juga punya senjata tapi kami memilih memakainya untuk menghidupi manusia.”
Dan, di tengah maraknya komando cadangan yang sedang mengisi sendi-sendi penghidupan untuk memperkaya kaum bersenjata, ada satu pertanyaan dari seluruh bangsa di dunia yang takwa, cerdas dan waras: apakah urusan merawat kehidupan bisa diampu oleh para pembunuh?
Ada hadis Nabi Muhammad SAW: “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”.
Dari Zapata ke Yafata
Seperlima abad bukan usia singkat bagi perjuangan agraria. Jujur, tak banyak komunitas yang mampu meraihnya. Namun, maaf harus saya sampaikan: seiring waktu, masalah bukan semakin mudah dan sederhana, justru makin sulit dan rumit; jika generasi penerus tak lebih hebat dari pendahulunya maka kita akan cepat punah.
Sepuluh musim penghujan sepanjang pernikahan, Mas Wid dan Mbak Tri Muryani akhirnya dikaruniai momongan. Mereka tak hanya diuji waktu, tetapi keteguhan hati menghadapi ketidakprofesionalan dokter kandungan sekaligus Bupati Kulonprogo, penyokong utama proyek tambang pasir besi dan bandara (N)YIA, yang menggiring keduanya untuk setuju tambang.
Lahirlah Zapata, sang pewaris perjuangan, yang ibundanya melafalkan namanya Yafata (mungkin dari dzikir Ya Fattah, Ya ‘Alim: wahai Dzat Pembuka Pengetahuan; sebab mengetahui adalah menguasai), yang namanya terinspirasi dari komunitas merdeka Zapatista.
Tentu saja, kaum Zapatista bersenjata api: mereka bisa menghidupi, bisa pula membasmi. Mereka juga bersenjatakan mantra hingga meresonansi ideologi gerakan dari Marinaleda hingga Rojava. Sekali lagi, senjata PPLP alat bertani dan edukasi. Gagasan partai terlarang Orba untuk mempersenjatai petani sebagai angkatan V pernah ditolak Negara ini tetapi ide itu kini justru diwujudkan dengan komando cadangan. Saya mengingatkan atas nama Pancasila: rezim ini, para jongos rakyat, tak perlu meniru Korea Utara!
Zapata dan generasinya adalah penguasa masa depan. Mereka generasi yang terpapar nilai-nilai baik seperti inklusi sosial, keadilan ekologis, kesadaran kesehatan mental, dan dekolonisasi. Nilai-nilai yang mungkin langka ditemukan dalam generasi sebelumnya, yang terkadang masih keracunan ideologi kejantanan seperti budaya kaum bersenjata (toxic masculinity) dan corak-corak patriarki.
Mempersiapkan generasi Zapata menjadi tanggungjawab generasi saat ini. PPLP perlu memastikan mereka tidak berguguran di usia muda karena pengabaian, tak punya akses lahan, tak suka tani, dan terisolasi dari kawan-kawan yang matang. Daun-daun tua akan menguning lalu gugur mengering, pucuk-pucuk kuncup akan menjelma tajuk yang tak tertunduk.
Kita tak sendiri. Para perusak juga giat bekerja. Mereka terorganisir dengan baik untuk tujuan buruk. Mereka beregenerasi, membelah diri di sekolah-sekolah elit. Sistem ini selalu berusaha mengawetkan kemiskinan, sebab kemiskinan adalah aset politik yang membuahkan ketergantungan seperti menu omprengan produk satuan bisnis gizi harian, dan ketergantungan syarat utama langgengnya penindasan.
Mereka bisa selubungi dunia dengan halimun hitam berbisa agar malam panjang gulita, tetapi mereka tak bisa mencegah fajar tiba. Benih cabai akan tumbuh cabai, seletih apapun, upaya pencegahan mereka tak tercapai.
Ditulis dan disampaikan dalam peringatan acara Syawalan 1447 H dan HUT ke-20 PPLP bertema “Lemahku Nyowoku, Sedumuk Bathuk Senyari Bumi” yang digelar pada 11-12 April 2026. [Peneliti FKMA, Kus Sri Antoro]






Discussion about this post