Wanaloka.com – Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ketut Wiradnyana mengungkapkan wilayah Sumatra dan Kalimantan menjadi kawasan penting yang menyimpan jejak dinamika migrasi serta percampuran budaya manusia prasejarah di Nusantara.
Budaya Hoabinhian menjadi salah satu penanda awal migrasi manusia di Sumatra bagian utara sekitar 12.000–5.000 tahun lalu. Budaya tersebut ditandai dengan keberadaan bukit kerang atau shell midden, alat batu sumatralith, serta temuan rangka manusia di sejumlah situs di Aceh dan Sumatra Utara.
Analisis bioantropologi menunjukkan kelompok pendukung budaya awal ini termasuk Australomelanesid yang memiliki kemiripan dengan populasi Papua. Pada periode berikutnya, muncul kelompok Mongoloid yang diperkirakan membawa budaya Austroasiatik, kemudian berkembang menjadi budaya Austronesia.
Migrasi tersebut tidak hanya membawa perpindahan populasi, tetapi juga tradisi budaya seperti tembikar, praktik penguburan, pengasahan gigi, hingga penggunaan sirih pinang. Berbagai temuan artefak menunjukkan adanya hubungan budaya antara Sumatra, Sulawesi, Taiwan, dan kawasan Asia Tenggara lainnya.
“Beberapa pola hias tembikar memiliki kemiripan dengan tembikar dari Thailand dan Sulawesi bagian barat. Ini mengindikasikan ada kontak budaya dan jalur migrasi antarkawasan,” kata Ketut dalam Webinar Forum Kebhinekaan Seri #36 bertema “Dinamika Migrasi Manusia dan Budaya Prasejarah”, Selasa, 26 Mei 2026.
Pegunungan Meratus jadi jalur migrasi di Kalimantan
Sementara fokus penelitian di Kalimantan, tepatnya di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, menunjukkan kawasan berbukit tersebut kemungkinan besar menjadi jalur utama migrasi manusia prasejarah di pulau tersebut.
Peneliti PR APS BRIN, Bambang Sugiyanto menjelaskan penelitian di sejumlah situs gua menemukan artefak berupa alat batu, gerabah, gambar cadas, hingga rangka manusia yang diperkirakan berusia sekitar 6.000 tahun.
“Temuan gambar cadas berwarna hitam di Kalimantan Selatan menjadi karakteristik unik yang berbeda dengan wilayah lain di Kalimantan,” ujar dia.
Selain menjadi jalur migrasi, gua-gua di Pegunungan Meratus juga digunakan untuk lokasi hunian, penguburan, dan aktivitas ritual masyarakat prasejarah. Namun keberadaan situs-situs tersebut, kini menghadapi ancaman kerusakan akibat aktivitas perkebunan dan pengambilan tanah budaya di kawasan gua.
Jalur migrasi manusia modern di paparan Sunda
Sementara jaringan sungai purba di kawasan Paparan Sunda dimungkinkan menjadi jalur mobilitas utama manusia modern awal ketika bermigrasi di Asia Tenggara pada masa prasejarah.
“Penelitian geomorfologi dan paleogeografi menunjukkan Paparan Sunda pada masa Pleistosen memiliki sistem sungai besar yang kini telah tenggelam akibat kenaikan muka laut,” jelas Peneliti PR APS BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono.
Jaringan sungai purba tersebut diperkirakan menjadi koridor ekologis yang mendukung persebaran manusia prasejarah menuju wilayah pedalaman maupun kawasan Wallacea.
“Mobilitas manusia prasejarah kemungkinan tidak hanya mengikuti jalur pesisir, tetapi juga memanfaatkan sistem sungai purba sebagai jalur perpindahan,” kata dia dalam kajian bertajuk “Kalimantan: Migrasi Manusia di Kawasan Timur Bawah Paparan Sunda pada Kala Pleistosen Akhir-Awal Holosen”.






Discussion about this post