Rabu, 21 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Jejak Migrasi Prasejarah hingga Awal Manusia Modern di Indonesia

Penelitian ini krusial karena berkaitan erat dengan upaya memahami dinamika awal peradaban manusia di Nusantara.

Minggu, 31 Mei 2026
A A
Jejak migrasi dan budaya prasejarah di Sumatra. Foto Dok. BRIN.

Jejak migrasi dan budaya prasejarah di Sumatra. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PR APS) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ketut Wiradnyana mengungkapkan wilayah Sumatra dan Kalimantan menjadi kawasan penting yang menyimpan jejak dinamika migrasi serta percampuran budaya manusia prasejarah di Nusantara.

Budaya Hoabinhian menjadi salah satu penanda awal migrasi manusia di Sumatra bagian utara sekitar 12.000–5.000 tahun lalu. Budaya tersebut ditandai dengan keberadaan bukit kerang atau shell midden, alat batu sumatralith, serta temuan rangka manusia di sejumlah situs di Aceh dan Sumatra Utara.

Analisis bioantropologi menunjukkan kelompok pendukung budaya awal ini termasuk Australomelanesid yang memiliki kemiripan dengan populasi Papua. Pada periode berikutnya, muncul kelompok Mongoloid yang diperkirakan membawa budaya Austroasiatik, kemudian berkembang menjadi budaya Austronesia.

Migrasi tersebut tidak hanya membawa perpindahan populasi, tetapi juga tradisi budaya seperti tembikar, praktik penguburan, pengasahan gigi, hingga penggunaan sirih pinang. Berbagai temuan artefak menunjukkan adanya hubungan budaya antara Sumatra, Sulawesi, Taiwan, dan kawasan Asia Tenggara lainnya.

“Beberapa pola hias tembikar memiliki kemiripan dengan tembikar dari Thailand dan Sulawesi bagian barat. Ini mengindikasikan ada kontak budaya dan jalur migrasi antarkawasan,” kata Ketut dalam Webinar Forum Kebhinekaan Seri #36 bertema “Dinamika Migrasi Manusia dan Budaya Prasejarah”, Selasa, 26 Mei 2026.

Pegunungan Meratus jadi jalur migrasi di Kalimantan

Sementara fokus penelitian di Kalimantan, tepatnya di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan, menunjukkan kawasan berbukit tersebut kemungkinan besar menjadi jalur utama migrasi manusia prasejarah di pulau tersebut.

Peneliti PR APS BRIN, Bambang Sugiyanto menjelaskan penelitian di sejumlah situs gua menemukan artefak berupa alat batu, gerabah, gambar cadas, hingga rangka manusia yang diperkirakan berusia sekitar 6.000 tahun.

“Temuan gambar cadas berwarna hitam di Kalimantan Selatan menjadi karakteristik unik yang berbeda dengan wilayah lain di Kalimantan,” ujar dia.

Selain menjadi jalur migrasi, gua-gua di Pegunungan Meratus juga digunakan untuk lokasi hunian, penguburan, dan aktivitas ritual masyarakat prasejarah. Namun keberadaan situs-situs tersebut, kini menghadapi ancaman kerusakan akibat aktivitas perkebunan dan pengambilan tanah budaya di kawasan gua.

Jalur migrasi manusia modern di paparan Sunda

Sementara jaringan sungai purba di kawasan Paparan Sunda dimungkinkan menjadi jalur mobilitas utama manusia modern awal ketika bermigrasi di Asia Tenggara pada masa prasejarah.

“Penelitian geomorfologi dan paleogeografi menunjukkan Paparan Sunda pada masa Pleistosen memiliki sistem sungai besar yang kini telah tenggelam akibat kenaikan muka laut,” jelas Peneliti PR APS BRIN, Vida Pervaya Rusianti Kusmartono.

Jaringan sungai purba tersebut diperkirakan menjadi koridor ekologis yang mendukung persebaran manusia prasejarah menuju wilayah pedalaman maupun kawasan Wallacea.

“Mobilitas manusia prasejarah kemungkinan tidak hanya mengikuti jalur pesisir, tetapi juga memanfaatkan sistem sungai purba sebagai jalur perpindahan,” kata dia dalam kajian bertajuk “Kalimantan: Migrasi Manusia di Kawasan Timur Bawah Paparan Sunda pada Kala Pleistosen Akhir-Awal Holosen”.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Manusia ModernPaparan SundaPR APS BRINPrasejarahPulau KalimantanSumatra Utara

Editor

Next Post
Bulan fase kuartal pertama, diambil dengan teleskop diameter 20 cm dan kamera smartphone di Observatorium Bosscha serta dokumentasi kegiatan praktikum mahasiswa Astronomi ITB. Foto Dok. ITB.

Blue Moon, Dua Kali Purnama dalam Satu Bulan

Discussion about this post

TERKINI

  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media