Sabtu, 5 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Padi Gamagora 7 Diujicoba di Lahan Tadah Hujan Kalimantan Timur

Sabtu, 30 Mei 2026
A A
Varietas padi Gamagora 7 ditanam di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Foto Kagama Kaltim.

Varietas padi Gamagora 7 ditanam di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Foto Kagama Kaltim.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Padi Gamagora 7 adalah salah satu inovasi varietas padi adaptif di tengah tantangan perubahan iklim. Varietas padi ini mampu tumbuh di lahan sawah maupun lahan tadah hujan.

Semula, Gamagora 7 hanya dikembangkan sebagai padi genjah dengan produktivitas tinggi. Namun dalam proses penelitian ditemukan sejumlah keunggulan lain, seperti karakter super genjah dan kandungan gizi yang tinggi.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM sekaligus inovator di balik pengembangan tanaman padi Gamagora 7, Prof. Taryono menjelaskan varietas tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan pertanian di lahan tadah hujan melalui produktivitas tinggi, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta kandungan gizi yang lebih baik.

“Gamagora 7 itu produktivitasnya tinggi, umur pendek, super genjah, dan kaya gizi,” ujar Taryono, Sabtu, 30 Mei 2026.

Pengembangannya, Gamagora 7 memakan proses cukup panjang. Perakitan varietas ini dimulai sejak tahun 2008 dan baru dilepas secara resmi pada tahun 2023, atau memakan waktu hampir 20 tahun.

Untuk dilepas sebagai tanaman tanam, varietas ini harus diuji di delapan lokasi di Indonesia meliputi, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, dan NTB. Dengan berbagai proses pengembangan tersebut membutuhkan biaya besar.

“Merakit varietas itu perlu dana yang besar, perlu kesabaran, dan waktunya lama,” ungkap dia.

Varietas tersebut memiliki produktivitas hingga 9,7 ton gabah kering giling per hektare dan dirancang adaptif terhadap kondisi lahan tadah hujan. Dari puluhan galur yang dikembangkan tim peneliti UGM, hanya Gamagora 7 yang sejauh ini memperoleh izin komersialisasi dari pemerintah.

Meski secara administratif dilepas sebagai padi sawah, Taryono menyebut Gamagora 7 sebenarnya diperkenalkan sebagai “padi tadah hujan”.

“Gamagora 7 memenuhi syarat untuk dilepas sebagai padi sawah karena produktivitas dan ketahanannya,” jelas dia.

Potensi Gamagora 7 untuk mendukung kemandirian pangan nasional cukup besar karena Indonesia memiliki lahan tadah hujan yang luas. Namun, tantangan utama saat ini adalah keterbatasan benih serta dukungan pendanaan bagi pengembangan varietas lanjutan.

“Saya optimistis, sebenarnya Gamagora 7 dapat mendukung kemandirian pangan nasional,” ucap dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Pertanian UGMGamagora 7Kalimantan Timurlahan tadah hujanProf TaryonoVarietas Padi

Editor

Next Post
Jejak migrasi dan budaya prasejarah di Sumatra. Foto Dok. BRIN.

Jejak Migrasi Prasejarah hingga Awal Manusia Modern di Indonesia

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media