Minggu, 4 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Agung Satyawan: Jika Ukraina Jadi Anggota NATO, PD III Dikhawatirkan Meletus

Operasi militer Rusia terhadap Ukraina benar-benar dilancarkan. Ada kekhawatiran masyarakat dunia, perang ini akan melebar menjadi Perang Dunia III.

Jumat, 25 Februari 2022
A A
Ign. Agung Satyawan. Foto uns.ac.id.

Ign. Agung Satyawan. Foto uns.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Kondisi ini menjadi legitimasi bagi Rusia untuk menggelar operasi militer di wilayah Ukraina. Dan dua wilayah ini adalah pusat industri baja dan wilayah strategis yang dijadikan legitimasi untuk memaksa Ukraina tunduk kepada Rusia.

“Sejak pecahnya Uni Soviet, Ukraina menjadi negara merdeka. Wilayah perbatasan selalu memicu konflik karena banyak penduduk Ukraina di perbatasan adalah etnik Rusia. Mereka ingin lepas dari Ukraina dan oleh karena itu wilayah ini rawan gerakan separatis. Secara sepihak beberapa wilayah ini mengadakan referendum yang hasilnya menginginkan lepas dari Ukraina. Bagi Rusia, keberadaan Ukraina tidak masalah asal pemerintahnya tunduk kepada Rusia,” jelas Agung.

Baca Juga: Kerusakan Bangunan Dampak Gempa M6,1 di Pasaman Barat

Kemungkinan Rusia menyerang Ukraina secara besar-besaran merupakan skenario yang masuk akal. Pasalnya, Rusia telah menempatkan sejumlah besar pasukan dan instalasi militernya di perbatasan Ukraina.

“Ukraina saat ini berada di posisi yang sangat rentan. Ia juga melihat bantuan militer NATO belum memungkinkan, sebab Ukraina bukanlah anggotanya,” kata Agung.

Solusi konflik Rusia-Ukraina

Sejumlah solusi, menurut Agung ditengarai “sulit” ditempuh pihak-pihak untuk meredakan serangan dan ketegangan antara Rusia dengan Ukraina.

Pertama, ada tekanan dari Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kepada Rusia. Tapi, opsi ini disebutnya sulit terjadi. Sebab, Rusia merupakan anggota tetap DK PBB dan negara ini dapat menggunakan hak vetonya.

“Embargo ekonomi untuk memaksa Rusia untuk menarik pasukannya. Opsi ini juga kurang efektif karena Rusia adalah negara besar yang punya kekuatan ekonomi untuk bertahan dari embargo Barat,” ujar Agung.

Kedua, menggalang opini melalui Majelis Umum PBB, bahwa tindakan Rusia bertentangan dengan kaidah hukum internasional. Apabila ada ajakan untuk menggalang opini dari masyarakat sipil global melalui media sosial, cara ini akan dilawan oleh warga Rusia.

Baca Juga: Gempa Pasaman Barat, BNPB: 2 Orang Meninggal, 20 Orang Luka-luka

“Yang terjadi adalah cyber war,” kata Agung.

Ketiga, meskipun serangan Rusia-Ukraina selama ini hanya melibatkan kedua negara dan negara-negara Barat, Agung menyebut Indonesia juga dapat berkontribusi dalam mendamaikan konflik ini. Alasannya, Indonesia mempunyai Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 sebagai landasan norma yang kuat untuk ikut serta memelihara perdamaian dunia.

Ia juga memandang hubungan antara Indonesia dengan Rusia maupun Ukraina juga baik dan Indonesia saat ini telah memegang Presidensi G20 sejak tanggal 1 Desember 2021 yang lalu.

“Indonesia negara terbesar di ASEAN dan ASEAN mempunyai partnership dengan Rusia. Kartu ASEAN ini bisa dimanfaatkan oleh Indonesia. Atas dasar potensi itu, Indonesia harus melakukan diplomasi super aktif untuk menjambatani antara Rusia dan Ukraina,” papar Agung. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: ASEANG20NATOoperasi militer Rusia ke UkrainaPBBPerang Dunia IIIperang Rusia-Ukraina

Editor

Next Post
Ilustrasi kehidupan masa pandemi Covid-19. Foto Surprising_Shots/pixabay.com.

Masa Endemi Tetap Prokes, Kecuali Ada Vaksin 100 Persen Kebal Covid-19

Discussion about this post

TERKINI

  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media