Selasa, 14 April 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Agus “Picoez” Affianto, Reklamasi Lahan Bekas Tambang Butuh Campur Tangan Manusia

Kawasan lahan bekas tambang tetap memiliki potensi untuk kembali menjadi hutan yang lebat. Namun, tanpa intervensi manusia, proses tersebut dapat memakan waktu puluhan tahun.

Jumat, 10 April 2026
A A
Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Agus Affianto dan warga lokal Belitung Timur. Foto Dok. Picoez.

Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Agus Affianto dan warga lokal Belitung Timur. Foto Dok. Picoez.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sejak 2021 hingga 2024, kepatuhan perusahaan pertambangan ihwal reklamasi bekas tambang diklaim terus meningkat. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tercantum realisasi reklamasi lahan bekas tambang hingga pertengahan 2025 lalu mencapai 5.739,39 hektare (ha) per Juni atau 80,43 persen dari target 2025 seluas 7.135 hektar.

Reklamasi tidak hanya dilakukan pada lahan bekas tambang. Melainkan di lahan luar bekas tambang, seperti tempat penimbunan tanah penutup, jalan, pabrik, serta bangunan dan lahan yang digunakan untuk menunjang operasional tambang.

Dalam banyak kasus, kerusakan lahan telah mencapai tahap yang lebih serius, di mana tanah kehilangan kemampuan alami untuk mendukung kehidupan. Frekuensi produktivitas yang dapat dilakukan manusia pun menurun. Di sinilah peran manusia untuk membantu penyembuhan tanah dan mengembalikannya ke kondisi semula. Penyembuhan dalam konteks ini adalah melakukan beberapa usaha berbasis penelitian serta pengabdian yang dapat memberikan kontribusi besar dalam mengembalikan tanah ke kondisi yang lebih baik.

Adalah Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Agus Affianto yang membagikan pengalamannya dalam menyembuhkan kondisi lingkungan, khususnya tanah bekas tambang pengabdian kepada masyarakat.

Pemilik sapaan Picoez ini bercerita, ia dan tim pernah membantu penyusunan model rehabilitasi kawasan tailing atau pasir bekas tambang timah di Desa Manggar, Kabupaten Belitung Timur. Lahan bekas tambang dekat “SD Laskar Pelangi” itu tergolong ekstrem dan sulit diolah menjadi lahan produktif kembali.

“Rumput saja butuh waktu hingga 20 tahun untuk dapat tumbuh secara alami,” kata Picoez mengutip hasil studi yang pernah dilakukan sebuah penelitian sebelumnya, Rabu, 8 April 2026.

Diawali dengan pembuatan demplot oleh tim untuk media uji coba rehabilitasi. Namun, kondisi tanah tailing dan kondisi geografis sekitar memunculkan berbagai tantangan yang dihadapi secara kompleks oleh tim.

Suhu pasir di lokasi dapat mencapai 62,4 derajat Celcius pada pukul 10.00 hingga 10.30 pagi, sehingga secara hipotesis, hampir tidak memungkinkan untuk dilakukan penanaman secara langsung, progresif, dan efektif.

“Karakteristik pasir yang tidak mampu menyerap air menyebabkan kondisi tanah menjadi asam saat hujan turun,” ungkap dia.

Setelah berdiskusi dengan melibatkan beberapa pihak, Picoez dan tim mengembangkan metode berbasis kompos blok pada area sekitar 10 hektar yang dijadikan bahan uji coba rehabilitasi melalui kolaborasi Fakultas Kehutanan dan Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. Mereka memadatkan kompos menjadi media tanam awal untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan kelembapan.

Beberapa jenis tanaman, seperti buah naga, kelengkeng, cemara, dan jambu mulai ditanam dengan harapan dapat menghasilkan serasah dan bahan organik untuk fondasi awal ekosistem.

Picoez menekankan keberhasilan rehabilitasi lahan ekstrem tidak dapat dicapai dengan pendekatan konvensional. Ada empat tahapan utama yang menjadi kunci keberhasilan. Tahap pertama, “menanam asal hidup”, yakni memastikan tanaman dapat bertahan hidup terlebih dahulu dengan bantuan kompos blok yang mengandung bahan organik seperti kotoran hewan terfermentasi.

Tahap kedua, memastikan tanaman dapat bertahan hidup melalui monitoring intensif. Misalnya menjaga kelembapan batang menggunakan potongan batang pisang saat musim kemarau.

Tahap ketiga berfokus pada peningkatan kualitas tanaman melalui pemupukan yang tepat. Sedangkan tahap terakhir adalah memastikan tanaman mampu memberikan manfaat, seperti menghasilkan buah.

Proses tersebut membutuhkan waktu dan tidak dapat dilakukan secara instan.

“Kami tidak bisa menghadapi keadaan ekstrem dengan pendekatan yang biasa-biasa saja dan dalam waktu yang singkat,” ujar dia.

Keberhasilan tidak hanya bergantung pada aspek teknis. Melainkan juga pada kemitraan dengan masyarakat serta sejauh mana program tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi mereka. Sebab yang paling penting adalah bagaimana penyembuhan tanah tersebut juga merupakan pengabdian yang dapat memberikan faedah bagi masyarakat setempat.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Agus AffiantoFakultas Kehutanan UGMKabupaten Belitung Timurlahan bekas tambangPicoezreklamasi bekas tambang

Editor

Next Post
Peta Prediksi Anomali Hujan 2026. Foto Walhi.

Ancaman Godzilla El Nino, Kekeringan dan Krisis Pangan 2026

Discussion about this post

TERKINI

  • Dokter menjelaskan kondisi paru-paru peserta ACF melalui hasil foto rontgen yang muncul hanya sesaat setelah melakukan rontgen. Foto Pusat Kedokteran Tropis UGM.Jemput Bola Eliminasi TBC Targetkan 3.000 Warga di Gunungkidul
    In News
    Senin, 13 April 2026
  • Cahaya jejak roket Jielong-3, 11 April 2026. Foto Dok. BRIN.Jejak Roket Cina Jielong-3 di Langit Indonesia
    In News
    Senin, 13 April 2026
  • Nelayan Maluku Utara membersihkan jaring dari lumpur sedimentasi. Foto Walhi Maluku Utara.Ancaman dan Peluang Nelayan di Tengah Cuaca Ekstrem
    In Lingkungan
    Minggu, 12 April 2026
  • Peta Prediksi Anomali Hujan 2026. Foto Walhi.Ancaman Godzilla El Nino, Kekeringan dan Krisis Pangan 2026
    In Lingkungan
    Jumat, 10 April 2026
  • Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Agus Affianto dan warga lokal Belitung Timur. Foto Dok. Picoez.Agus “Picoez” Affianto, Reklamasi Lahan Bekas Tambang Butuh Campur Tangan Manusia
    In Sosok
    Jumat, 10 April 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media