Wanaloka.com – Fenomena Godzilla El Nino yang terjadi saat ini menyebabkan kondisi kekeringan yang tinggi dan panjang. Hingga Maret 2026, BMKG mencatat sekitar 7 persen dari Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki fase kemarau. Sebagian besar wilayah di Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei dan Juni 2026.
Menurut analisa Wahana lingkungan Hidup (Walhi), terdapat beberapa wilayah yang mengalami kekeringan sedang, berat dan bahkan ekstrem. Wilayah yang paling rentan kekeringan adalah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur serta Kalimantan.
“Ketika terjadi El Nino, kondisi kekeringan semakin ekstrem yang berdampak pada krisis air bersih, gagal panen dan mengalami krisis pangan,” kata Pengkampanye Pangan dan Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional Walhi, Musdalifah.
Di sisi lain, sistem pangan di Indonesia masih sangat bergantung impor pangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Maret 2025 menyebutkan, Indonesia mengimpor hingga 13.629 ton komoditas pangan.
Musdalifah menegaskan, paradigma pembangunan hari ini yang ekstraktif dan eksploitatif telah menyebabkan alih fungsi lahan pertanian produktif ke lahan perkebunan monokultur, pembangunan infrastruktur dan mega proyek investasi lainnya. Termasuk di sekitar wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Indonesia yang notabene merupakan wilayah kelola rakyat dan sumber pangan utama untuk menopang ketercukupan pangan.
Kekeringan dan fenomena El Nino memberikan dampak serius terhadap produksi pangan di Indonesia, terutama melalui penurunan curah hujan dan peningkatan risiko kekeringan. Secara historis, El Nino tahun 1997/1998 menyebabkan penurunan produksi padi sebesar 3,6 persen dibandingkan tahun 1997 dan hingga 6 persen dibandingkan tahun 1996.
Krisis saat itu tidak hanya menekan produksi, tetapi juga memicu lonjakan harga pangan yang memperburuk krisis ekonomi nasional. Sementara, El Nino tahun 2024 menyebabkan penurunan produksi beras sebesar 2,28 juta ton pada periode Januari hingga April atau turun 17,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Badan Pangan Nasional menyampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, bahwa dalam menghadapi fenomena El Nino, Indonesia telah menyediakan cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 4,6 juta ton perhari.
Ia mengingatkan, dalam konteks pemenuhan hak atas pangan yang dijamin dalam peraturan perundang-undangan, tidak hanya bicara soal ketersediaan, tetapi juga perlu memastikan sejauh mana masyarakat khususnya kelas ekonomi ke bawah.
“Bahkan miskin dapat menjangkaunya, serta memastikan kelayakan pangan untuk dikonsumsi,” tegas dia.
Komite Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya PBB menyatakan hak atas pangan yang layak terwujud apabila setiap laki-laki, perempuan dan anak-anak, baik sendiri atau bersama dengan orang lain dalam masyarakat, memiliki akses fisik dan ekonomi sepanjang waktu terhadap pangan yang layak atau cara untuk pengadaannya.
Jadi negara berkewajiban untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah dan mengurangi kelaparan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 ayat (2) Kovenan Hak Ekonomi, Sosial, Budaya, bahkan saat terjadi bencana alam ataupun bencana lainnya.
Dampak dan strategi mitigasi
Fenomena El Nino kembali menjadi perhatian global seiring meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Dalam beberapa waktu terakhir, istilah “Godzilla El Nino” atau “Super El Nino” semakin sering digunakan untuk menggambarkan intensitas El Nino yang sangat kuat. Kondisi ini diperkirakan membawa dampak signifikan bagi negara-negara tropis, termasuk Indonesia, yang sangat bergantung pada kestabilan musim. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan karena ketergantungannya pada ketersediaan air. Kekeringan berkepanjangan berpotensi menurunkan produktivitas sekaligus mengganggu ketahanan pangan nasional.
Guru Besar Bidang Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho menjelaskan El Nino merupakan bagian dari siklus iklim yang telah berlangsung lama. Namun, perubahan iklim global membuat pola kemunculannya semakin dinamis dan sulit diprediksi.
Ia bahwa istilah ‘Godzilla El Nino’ merujuk pada intensitas yang jauh lebih kuat dari biasanya. Kondisi ini membawa konsekuensi serius bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada air.
“El Nino itu sebenarnya siklus alami, sudah lama terjadi. Tapi sekarang polanya terasa makin cepat karena pemanasan global. Nah, kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi,” jelas Bayu, Kamis, 2 April 2026.
Dampak tersebut paling terasa pada komoditas pangan utama yang membutuhkan air dalam jumlah besar. Tanaman seperti padi dan jagung menjadi sangat rentan karena fase pertumbuhannya bergantung pada kecukupan air.






Discussion about this post