Sabtu, 30 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Eliminasi TBC, Temukan Kasus secara Aktif dan Waspada Batuk Lebih dari Dua Minggu

Saat pandemi Covid-19, jumlah kasus TBC yang ditemukan tidak banyak. Namun usai pandemi justru jumlah kasusnya meningkat.

Sabtu, 11 April 2026
A A
Ilustrasi hasil rontgen paru pasien TB. Foto freepik.com.

Ilustrasi hasil rontgen paru pasien TB. Foto freepik.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius di Indonesia. Penyakit ini memiliki angka kematian tinggi mencapai sekitar 12-14 orang setiap jam. Bahkan, Indonesia menempati peringkat kedua di dunia setelah India dengan jumlah kasus TBC dengan estimasi mencapai 1.090.000 total kasus dan 125.000 kematian setiap tahun. Angka ini menunjukkan peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), sekaligus Direktur Zero TB Yogyakarta, Rina Triasih menegaskan TBC sama berbahaya dengan Covid-19.

“Tapi karena TBC sudah ada sejak lama dan menyebabkan korban jiwa secara perlahan, penyakit ini kerap dianggap kurang berbahaya,” ujar Rina dalam keterangan tertulis yang dikirim Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM kepada wartawan, Rabu, 8 April 2026.

Tantangan eliminasi TBC

Estimasi kasus TBC di Indonesia mencapai sekitar satu juta kasus, namun hingga saat ini baru sekitar beberapa ratus ribu kasus yang teridentifikasi dan tercatat secara medis. Masih lebarnya kesenjangan antara estimasi jumlah kasus TBC dengan kasus yang berhasil ditemukan di Indonesia menjadi indikator utama, bahwa upaya deteksi kasus belum optimal. Artinya, banyak pasien yang masih berada di luar sistem layanan kesehatan dan berpotensi terus menularkan penyakit di lingkungan sekitarnya.

Selisih angka ini bukan sekadar persoalan data, melainkan mencerminkan adanya hambatan nyata di lapangan. Rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri sejak muncul gejala awal, keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan, hingga kurangnya literasi masyarakat dalam mengenali tanda-tanda TBC.

“Masih banyak sekali pasien di luar sana yang TBC dan belum ditemukan atau diobati oleh pihak dokter,” jelas Rina.

Pasien yang belum terdiagnosis berpotensi besar menjadi sumber penularan baru. Hal ini menyebabkan jumlah kasus terus meningkat, terutama setelah pandemi Covid-19. Peningkatan ini dapat disebabkan dua hal, yakni bertambahnya jumlah kasus atau pun meningkatnya efektivitas pemerintah dalam menemukan kasus tersembunyi.

“Waktu Covid, jumlah kasus TBC yang ditemukan itu tidak banyak, tetapi pasca Covid justru meningkat,” ungkap dia.

Gejala TBC tidak langsung muncul setelah seseorang tertular kuman, melainkan baru berkembang dalam rentang waktu sekitar 4-12 minggu. Kondisi inilah yang memungkinkan kasus tidak terdeteksi sejak dini, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan penanganan dan penularan di masyarakat.

Di sisi lain, tantangan besar juga muncul dari kasus TBC resisten obat. Kondisi ini terjadi akibat pengobatan yang tidak tuntas, sehingga kuman mengalami mutasi. TBC jenis ini membutuhkan pengobatan yang lebih kompleks dengan durasi lebih panjang dan jumlah obat yang lebih banyak.

“Biasanya memang dua bulan itu sudah terlihat dan sudah merasa baikan. Nah, mungkin karena mereka sudah merasa sehat, mereka tidak melanjutkan pengobatan dan itu merupakan risiko untuk menjadi TBC resisten obat,” terang dia.

Penanggulangan TBC tidak bisa hanya berfokus pada aspek medis. Faktor sosial seperti stigma, tingkat pendidikan, kondisi ekonomi, dan lingkungan tempat tinggal turut berperan besar dalam penyebaran penyakit ini.

“Misalnya pasien TBC pulang ke rumah dengan kondisi rumah yang kumuh dan sempit, otomatis orang-orang di dalamnya akan tertular juga dan kasus TBC tidak sembuh-sembuh,” jelas dia.

Tidak sedikit orang yang enggan memeriksakan diri karena takut didiagnosis menderita TBC. Apalagi stigma itu membuat sebagian orang khawatir kehilangan pekerjaan.

“Padahal keterlambatan diagnosis justru meningkatkan risiko penularan dan memperburuk kondisi pasien,” imbuh dia.

Sebagai bagian dari Pusat Kedokteran Tropis UGM, Rina turut terlibat dalam pengembangan strategi Active Case Finding (ACF), yakni metode penemuan kasus secara aktif di masyarakat. Program ini, diinisiasi Zero TB Yogyakarta sejak 2020 di bawah naungan UGM dengan mendatangi langsung masyarakat menggunakan fasilitas X-Ray keliling untuk mendeteksi TBC, baik pada individu bergejala maupun tidak.

“Kami menjemput pasiennya dan bukan menunggu pasiennya ke rumah sakit atau puskesmas,” jelas dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: AFCDesa Siaga TBeliminasi TBCFK-KMK UGMKementerian KesehatanTBC

Editor

Next Post
Nelayan Maluku Utara membersihkan jaring dari lumpur sedimentasi. Foto Walhi Maluku Utara.

Ancaman dan Peluang Nelayan di Tengah Cuaca Ekstrem

Discussion about this post

TERKINI

  • Tim dari BMKg melakukan inpeksi sistempemantauan gempa dan tsunami di Bali, 27 Desember 2024. Foto Dok. BMKG.Pengembangan Sistem Geohazard Gempa Bumi yang Akurat dan Real Time
    In IPTEK
    Rabu, 27 Mei 2026
  • Dampak bencana ekologis di Sumatra. Foto Kementerian Kehutanan.Andalas Pastikan Ruang dan Penghidupan Bentang Alam Sumatra Kritis
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Mei 2026
  • Ilustrasi daging kurban dibungkus daun jati. Foto kemenagsidoarjo.com.Tantangan Pascakurban: Pengolahan Limbah, Penyimpanan Daging dan Risiko Zoonosis
    In Rehat
    Selasa, 26 Mei 2026
  • Ilustrasi PLTU batu bara. Foto jplenio/pixabay.comWalhi Region Jawa Desak Pensiunkan Dini Pembangkit Listrik Energi Fosil
    In News
    Senin, 25 Mei 2026
  • Ilustrasi kuda laut. Foto Aristal/Pixabay.com.Spesies Kuda Laut di Indonesia Terancam Penangkapan Tanpa Batas
    In Rehat
    Minggu, 24 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media