Ketika suplai air menurun, tanaman tidak dapat berkembang secara optimal. Dalam kondisi ekstrem, tanaman berpotensi mengalami kerusakan permanen.
“Padi dan jagung ini paling terasa dampaknya karena butuh air cukup banyak. Kalau airnya kurang, pertumbuhannya terganggu, bisa berujung gagal panen,” tutur dia.
Kerentanan ini berlanjut pada risiko jangka pendek yang langsung dihadapi petani di lapangan. Penurunan ketersediaan air menyebabkan hasil panen menurun dan kualitas produksi ikut terdampak. Bayu menuturkan situasi ini berimbas pada pendapatan petani yang sangat bergantung pada hasil panen. Di sisi lain, biaya produksi yang telah dikeluarkan berpotensi tidak kembali.
“Kalau kekeringan terjadi setelah tanam, petani bisa gagal panen. Artinya, biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak kembali dan jadi kerugian,” kata Bayu.
Menghadapi kondisi tersebut, Bayu menekankan langkah mitigasi di tingkat petani menjadi semakin penting untuk menekan risiko kerugian. Salah satu upaya yang dinilai efektif adalah memperkuat komunikasi antara petani dan penyuluh pertanian.
Akses informasi mengenai kondisi cuaca dan pilihan varietas tanaman menjadi faktor penentu dalam strategi budidaya. Pendampingan yang intensif membantu petani menyesuaikan praktik di lapangan.
“Kuncinya ada di komunikasi petani dan penyuluh. Kalau informasinya jelas, petani bisa ambil keputusan yang lebih tepat di lapangan,” terang dia.
Upaya adaptasi ini, menurut Bayu, sudah didukung pengalaman Indonesia dalam menghadapi fenomena El Nino pada periode sebelumnya. Bahkan berbagai program telah dijalankan untuk mengantisipasi dampak kekeringan, termasuk penguatan infrastruktur dan teknologi pertanian.
Inovasi seperti irigasi hemat air dan pengembangan varietas tahan kekeringan terus dikembangkan. Selain itu, informasi cuaca kini semakin mudah diakses secara real time.
“Sebenarnya kita sudah punya pengalaman tahun 2024, misalnya lewat pompanisasi dan inovasi irigasi tetes. Varietas tahan kekeringan juga sudah dikembangkan, tinggal dimanfaatkan dengan baik,” papar dia.
Meski demikian, efektivitas berbagai upaya tersebut tetap bergantung pada kapasitas adaptasi petani di lapangan. Ia menekankan peran penyuluh menjadi penting menjembatani inovasi dengan praktik pertanian sehari-hari.
Pendampingan yang berkelanjutan membantu petani memahami dan menerapkan teknologi secara tepat. Dengan dukungan tersebut, petani dapat lebih siap menghadapi kondisi iklim ekstrem.
“Peran penyuluh ini penting sekali, terutama saat petani menghadapi kekeringan panjang seperti sekarang,” tegas dia.
Dalam konteks kebijakan, langkah strategis perlu dilakukan secara terintegrasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga terkait. Penyediaan informasi yang akurat hingga ke tingkat desa menjadi krusial dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.
Di sisi lain, inovasi teknologi pertanian perlu terus dikembangkan untuk meningkatkan ketahanan sektor pangan. Bayu menegaskan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga stabilitas produksi.
Pemerintah melalui BMKG perlu memberikan early warning yang akurat hingga level desa. Sementara perguruan tinggi harus terus didorong untuk menghasilkan inovasi varietas tahan kekeringan supaya dampak El Nino bisa ditekan. [WLC02]






Discussion about this post