BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun ini berlangsung antara tiga hingga tujuh bulan, tergantung wilayahnya. Informasi iklim, kondisi hari tanpa hujan, hingga potensi kekeringan akan terus diperbarui dan disampaikan kepada pemerintah daerah sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi.
Maruli meminta seluruh jajaran TNI AD mulai dari Kodim hingga Koramil untuk melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan serta menyiapkan langkah antisipasi sejak dini.
“Kalau dulu, kami punya data bencana, sekarang kami harus punya data antisipasi kemarau. Daerah mana saja yang selama ini terjadi kekeringan dan yang terancam kekeringan. Kira-kira apa yang harus kami lakukan,” ujar Maruli.
Upaya yang dilakukan TNI AD adalah melakukan program penyediaan air bersih melalui pengeboran sumur. Ia mengklaim, program itu salah satu upaya membantu masyarakat menghadapi dampak kemarau.
Sementara Dedi Mulyadi mengingatkan bahwa musim kemarau merupakan kondisi yang rutin dihadapi sejumlah wilayah Jawa Barat dan sering kali memunculkan persoalan kekurangan air bersih.
“Kami memasuki bulan Juni yang sudah mulai kemarau. Menurut BMKG, puncaknya Agustus sampai September juga masih menjadi periode yang perlu diwaspadai. Pada masa itu ada beberapa wilayah di Jawa Barat yang sudah menjadi langganan mengalami kesulitan air bersih dan kondisi lingkungan yang berdebu,” papar Dedi.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong percepatan pembangunan jaringan air bersih sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau. Juga melakukan penguatan sistem peringatan dini cuaca melalui pengadaan radar cuaca yang terintegrasi dengan sistem BMKG. Dukungan tersebut menjadi contoh kolaborasi antara pemerintah daerah dan BMKG dalam meningkatkan kualitas layanan informasi cuaca dan iklim bagi masyarakat.
Faisal berharap, upaya mitigasi musim kemarau 2026 dapat berjalan lebih efektif. Langkah tersebut penting untuk meminimalkan risiko kekeringan, menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat, menjaga ketahanan pangan, serta memperkuat pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. [WLC02]
Sumber: BMKG






Discussion about this post