Wanaloka.com – Pohon adalah organisme arsitektural dinamis yang mengorbankan sebagian dirinya untuk mengurung bahaya demi melindungi kehidupan baru. Pohon tidak dapat memperbaiki sel kayu yang rusak, ia hanya melakukan penyekatan atau kompartementalisasi dengan istilah CODIT (Compartmentalization of Decay in Trees) yang dirumuskan Alex L. Shigo pada 1970-an.
“Sistem CODIT dapat membuktikan pohon bukanlah balok kayu pasif yang pasrah pada pembusukan. Model ini memetakan bagaimana respons biologis pohon bekerja saat menghadapi infeksi patogen atau fungi,” jelas Analis Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ahli Pertama dari Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Kuatman pada Webinar Talk about Scientific Collection Series #17, Senin, 20 Juli 2026.
Mekanisme pertahanan CODIT memetakan pertahanan internal ke dalam empat dinding pertahanan untuk menahan laju infeksi mikroorganisme. Awalnya luka atau infeksi patogen ini bersifat suksesi, tidak hanya satu saja yang menyebabkan adanya pelapukan ini.
“Mereka bertahap, misalnya luka pemangkasan atau luka mekanik, kemudian ada serangga yang melukai kulit pohon. Lalu muncullah jamur atau bakteri yang membusuk meneyerbu gelombang pertama untuk mengatasi penghalang kimiawi alam,” ujar Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Hayati Hidup KKI Kebun Raya Purwodadi ini.
Selanjutnya, datang jamur pembusuk atau patogen utama yaitu fungi yang mulai mengurai materi organik secara massif. Jadi pembusukan kayu adalah proses dekomposisi alami, namun ia tidak bisa dimulai sendiri.
Alex L. Shigo menjelaskan sebuah anatomi dasar sebuah pohon digambarkan sebagai pohon di dalam pohon, dan kulitnya selalu menebal. Setiap pohon dibagi lagi menjadi ribuan ruangan kecil. Kompartemen adalah unit struktural dan pertahanan terkecil.
Setiap cincin pertumbuhan (growth ring) pada dasarnya adalah pohon baru yang membungkus pohon lama. Pohon sebagai kumpulan kerucut yang saling bertumpuk.
Empat dinding CODIT
Terdapat sistem empat dinding CODIT. Dinding pertama untuk pertahanan vertikal pohon dengan menyumbat pembuluh xylem di bagian atas dan bawah area luka. Ia menahan penyebaran pembusukan secara vertikal dengan naik turun batang. Kemampuannya termasuk paling lemah berupa dinding yang sering kali dapat ditembus oleh patogen agresif seiring berjalannya waktu.
Dinding kedua, pertahanan ke dalam dengan memanfaatkan sel-sel pada lingkaran tahun (growth rings) yang kaya akan lignin. Ia dapat menahan pembusukan agar tidak bergerak menyebar lebih dalam atau arah radial menuju pusat empulur pohon. Tingkat kekuatannya menengah atau cukup kuat. Dindingnya terbentuk secara kontinyu mengelilingi setiap cincin pertumbuhan, namun tetap bisa runtuh oleh infeksi masif.
Dinding ketiga, pertahanan lateral dengan memanfaatkan lembaran sel jari-jari empulur (ray cells) yang mengubah susunan kimianya menjadi senyawa anti mikroba beracun bagi fungi. Bertindak layaknya sekat ruangan, menahan pembusukan bergerak ke samping atau melingkar di sekeliling batang. Tingkat kemampuannya termasuk kuat, dan dinding pertahanan terkuat dari struktur kayu yang sudah ada saat pohon terluka.
Sedangkan dinding keempat, berupa zona pembatas (barrier zone), dinding yang baru dibentuk oleh lapisan kambium setelah terjadinya luka. Memisahkan secara total antara kayu tua yang terinfeksi di dalam (masa lalu) dengan kayu baru yang sehat diluar (masa depan), dengan tingkat kemampuan yang paling kuat. Pertahanan yang mutlak terhadap penyebaran fungi.
Pohon membutuhkan energi untuk melakukan kompartementalisasi, pohon yang sehat dengan cadangan karbohidrat optimal mampu membangun dinding empat yang tebal dan mematikan pergerakan fungi dengan cepat. Sedangkan pohon dalam kondisi stres terbentuk oleh pemadatan tanah, asfiksia akar, atau difisit air yang menghabiskan energi pohon.
“Dinding CODIT menjadi tipis, lemah, dan mudah dijebol oleh patogen pembusuk,” kata dia.
Kuatman memaparkan, ada tiga pilar intervensi konservasi pohon. Pertama, pengurangan beban angin dengan mengurangi ketinggian tajuk secara selektif, menurunkan beban mekanis angin pada batang bawah yang keropos, dan mencegah pohon roboh.
Kedua, penguatan struktural non-invasif dengan kabel fleksibel menahan percabangan saat angin kencang tanpa pengeboran, serta menjaga integritas kambium luar batang.






Discussion about this post