Yusli pun mengingatkan, pemanfaatan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati. Ikan yang hidup di perairan tercemar dapat mengakumulasi logam berat di dalam jaringan tubuhnya. Beberapa temuan menunjukkan kadar yang melampaui ambang batas aman untuk konsumsi.
Risiko kesehatan juga tetap ada meskipun ikan diolah menjadi produk nonpangan seperti pakan, pupuk, atau bahan industri. Logam berat berpotensi kembali masuk ke rantai makanan atau terserap tanaman melalui pupuk jika proses pengolahannya tidak benar-benar bersih.
Pemanfaatannya harus disertai pengawasan ketat, mulai dari lokasi penangkapan, cara pengolahan, hingga jaminan keamanan produk akhir. Mengendalikan sapu-sapu melalui penangkapan massal dan pemanfaatan ekonomi hanyalah solusi sementara. Persoalan dominasi sapu-sapu tidak cukup dijawab dengan hal tersebut, melainkan harus disertai dengan perbaikan kualitas sungai dan perubahan perilaku masyarakat, terutama kesadaran untuk tidak melepas spesies asing ke alam.
Mengingat akar masalah spesies asing dari Amerika Selatan ini diperdagangkan untuk ikan hias. Ketika sudah besar, beberapa penghobi ikan hias ini melepas ke perairan umum atau mungkin tidak sengaja terlepas. Ini lah yang berbahaya, karena awal mula ikan ini bisa berkembang biak dengan masif di perairan sekitar.
Guru Besar Bidang Bioteknologi Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian UGM, Prof. Alim Isnansetyo menyoroti pentingnya perubahan perilaku masyarakat. Ia mengimbau kepada pegiat ikan agar tidak melepaskan ikan sapu-sapu ke perairan sekitar.
Sebagai langkah pemusnahan yang aman, Alim merekomendasikan agar ikan tersebut dikubur ketimbang langsung dimanfaatkan secara spekulatif.
“Jika memang sudah terbukti tercemar, ikan hasil tangkapan sebaiknya dikubur atau dibakar menggunakan incinerator. Hal ini dilakukan agar residu berbahaya atau kontaminan pada ikan tidak mencemari lingkungan,” papar Alim, Kamis, 30 April 2026.
Hingga saat ini, ada sekitar 10 ton ikan sapu-sapu yang dimusnahkan di Sungai Ciliwung. Pemusnahan ikan yang dianggap hama di danau dan sungai ini semakin memperpanjang catatan kelam invasi spesies ini, setelah sebelumnya merambah Sungai Kresek di Kediri hingga Danau Limboto di Gorontalo. Dominasi ikan sapu-sapu dianggap mengancam keberlangsungan ikan endemik dan merusak keseimbangan hayati sungai-sungai di Indonesia.
Alim menyebutkan upaya pemusnahan ikan sapu-sapu perlu dilakukan secara komprehensif dan holistik. Pengendalian populasi ikan invasif ini perlu dilakukan secara berkesinambungan.
“Penangkapan itu harus terus-menerus. Bukan satu tahun sekali, tapi mungkin satu bulan sekali agar populasi tidak kembali meledak,” kata Alim.
Namun penangkapan secara masif hanya menjadi solusi sementara apabila kondisi lingkungan tetap buruk. Ia mendorong agar dilakukan perbaikan kualitas lingkungan yang kini teercemar. Tanpa perbaikan kualitas air, ikan-ikan asli tidak akan bisa bertahan, sementara sapu-sapu akan terus mendominasi.
“Sebab tidak memiliki musuh atau predator alami dan tahan terhadap kualitas air yang buruk dan terkontaminasi,” tambah Ketua Departemen Perikanan, Faperta UGM ini.
Setelah lingkungan diperbaiki, introduksi kembali spesies menjadi kunci untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem. Melalui upaya restosking atau penebaran kembali ikan-ikan endemik.
Pupuk tanaman hias
Sementara Mala menyoroti peluang pemanfaatan yang belum banyak dioptimalkan di balik upaya pembasmian ikan sapu-sapu. Sebab, seharusnya hasil pembasmian tidak berakhir menjadi limbah semata.
Ia mendorong agar ikan sapu-sapu diolah menjadi produk bernilai guna, salah satunya pupuk cair untuk tanaman hias. Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menghadirkan nilai tambah dari hasil pengendalian spesies invasif.
Mengingat ikan sapu-sapu yang hidup di lingkungan tercemar tidak bisa digunakan lagi untuk makhluk hidup, baik dikonsumsi manusia maupun pakan ternak.
“Sebab berpotensi menimbulkan akumulasi zat berbahaya dalam rantai makanan,” kata Mala.
Sebaliknya, jika ikan sapu-sapu hidup di perairan bersih, maka masih dapat dimanfaatkan sebagaimana ikan umumnya.
Pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi pupuk tanaman hias dinilai sebagai solusi yang lebih bijak dibandingkan penguburan. Selain memberikan manfaat, langkah ini juga dapat mengurangi potensi penumpukan limbah organik yang sulit terurai, mengingat struktur tubuh ikan sapu-sapu yang relatif keras.
Dengan pendekatan inovatif ini, pembasmian ikan sapu-sapu tidak hanya berhenti sebagai upaya pengendalian populasi. Melainkan dapat menjadi bagian dari solusi berkelanjutan mengubah persoalan lingkungan menjadi peluang yang bernilai bagi masyarakat. [WLC02]
Sumber: UGM, IPB University






Discussion about this post