Wanaloka.com – Populasi ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang melimpah di Sungai Ciliwung di Jakarta bukanlah tanda ekosistem sungai itu kaya. Sebaliknya, justru indikasi kuat sungai tersebut sedang “sakit”. Dominasi ini menunjukkan perubahan mendasar pada kondisi sungai yang menyebabkan hilangnya keragaman ikan air tawar lokal yang sebelumnya dikenal tinggi di sungai-sungai di Jawa.
“Saat ini, ikan sapu-sapu adalah spesies yang paling mudah ditemukan di Ciliwung, seolah-olah sungai tersebut memang miliknya,” kata Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Yusli Wardiatno, Rabu, 22 April 2026.
Berkurangnya ikan lokal bukan semata karena kalah bersaing, tetapi karena lingkungan sungai sudah berubah drastis. Ciliwung telah lama menanggung beban limbah domestik, industri, dan limpasan perkotaan. Berbagai penelitian menunjukkan ada kandungan logam berat, seperti timbal, kadmium, dan merkuri di air maupun sedimen.
Berbeda dengan ikan lokal yang tidak dirancang hidup di lingkungan tercemar, ikan sapu-sapu justru “diuntungkan”. Sapu-sapu mampu bertahan dalam kondisi oksigen rendah, air keruh, dan lingkungan yang tidak layak huni bagi spesies lain, menjadikannya penyintas yang mendominasi perairan.
Sifat adaptif ikan sapu-sapu membuat populasinya sulit dikendalikan. Tanpa adanya keseimbangan ekosistem dan predator alami, spesies ini dapat berkembang pesat, mendominasi habitat, serta mengancam keberadaan ikan lokal.
“Sebenarnya ikan ini bisa membantu menyerap logam di perairan. Namun karena ekosistemnya tidak seimbang, populasinya menjadi sangat banyak dan berdampak negatif,” papar Guru Besar Teknologi Hasil Perikanan IPB University, Prof. Mala Nurilmala, Selasa, 28 April 2026.
Ikan Sungai Amazon
Ikan sapu-sapu merupakan ikan asing introduksi yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.
Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen.
Tak hanya itu, ikan ini juga mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus invasi.
Ikan ini juga bersifat omnivora dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai sumber makanan. Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).
“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” jelas Pakar Ikan dan Konservasi Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles PH Simanjuntak, Selasa, 14 April 2026.
Kombinasi tiga strategi
Soal kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperluas penangkapan massal ikan sapu-sapu, Charles mengingatkan harus dilakukan secara terpadu. Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode, mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis.
Dari sisi pencegahan, Charles menyarankan Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak.
Selain itu, teknologi pemantauan dini seperti environmental DNA (eDNA) dinilai efektif untuk mendeteksi keberadaan ikan sejak awal sebelum populasinya meledak.
Dalam kondisi populasi yang sudah tinggi, penangkapan tetap diperlukan, tetapi harus lebih selektif dan terarah. Penangkapan terhadap ikan berukuran kecil (kurang dari 30 cm) dapat lebih efektif dalam menekan populasi.
Pelibatan masyarakat juga menjadi kunci. Perburuan berbasis komunitas dinilai mampu menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh imigrasi (masuknya ikan sapu-sapu) dari daerah lain.
“Jadi perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” kata Charles.
Dari sisi kontrol biologis, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung dan betutu dapat membantu mengendalikan populasi. Meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu berukuran 0,6–1,0 cm.
Ia juga mengusulkan upaya pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasi. Namun bukan untuk dikonsumsi.
“Jika berasal dari perairan tercemar nerpotensi mengandung logam berat, tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi,” tegas dia.






Discussion about this post