Minggu, 28 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Bayu Dwi Apri, Kenaikan Suhu Bumi Ancaman Ketahanan Pangan Nasional

Banyak tanaman mengalami gagal panen, penyebaran hama penyakit meluas, serta gangguan metabolisme tanaman yang menghambat pertumbuhan dan kualitas hasil panen.

Selasa, 25 Maret 2025
A A
Dosen Teknologi Pertanian UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho. Foto Dok. UGM

Dosen Teknologi Pertanian UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho. Foto Dok. UGM

Share on FacebookShare on Twitter

Bayu mengingatkan, bahwa pangan adalah penentu stabilitas suatu negara. Ketersediaannya sangat memengaruhi kesejahteraan rakyat dan stabilitas ekonomi nasional. Jika produksi menurun secara drastis, maka pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah strategis untuk mencukupi stok pangan. Baik melalui peningkatan efisiensi produksi, diversifikasi pangan, impor bahan pangan dari negara lain, maupun penerapan inovasi di sektor pertanian guna meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang ada.

Baca juga: Empat Pekerja Tertimbun Longsor di Area Penyimpanan Limbah B3 Tailing di Morowali

“Tanpa upaya mitigasi yang tepat, krisis pangan dapat memicu inflasi harga bahan pokok, menurunkan daya beli masyarakat, serta berpotensi menimbulkan ketidakstabilan sosial dan ekonomi di tingkat nasional,” ungkap dia.

Bayu menekankan langkah utama dalam menghadapi dampak perubahan iklim adalah dengan reboisasi dan adaptasi dalam sistem pertanian. Upaya ini bisa dilakukan melalui adaptasi dengan menanam varietas yang lebih toleran terhadap suhu tinggi dan mengurangi ketergantungan pada tanaman yang membutuhkan banyak air.

Selain itu, inovasi dan teknologi pertanian juga berperan penting dalam menghadapi tantangan ini. Beberapa peneliti UGM telah menghasilkan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap suhu tinggi, serta pengembangan bangunan pertanian seperti greenhouse dan plant factory yang dapat mengontrol suhu. Namun, Bayu mengakui bahwa penerapan teknologi ini masih terkendala oleh biaya yang tinggi.

Baca juga: Janji Menteri Kehutanan, Lebih Banyak Menanam Pohon Daripada Menebang

Dalam menghadapi ancaman terhadap ketahanan pangan, akademisi dan pemerintah tentunya memiliki peran penting. Menurut Bayu, akademisi harus terus mengembangkan varietas yang lebih tahan terhadap suhu tinggi, sementara pemerintah perlu meningkatkan pendampingan bagi petani agar mereka dapat menyesuaikan jadwal dan pola tanam.

Penyuluhan mengenai teknik bertani yang lebih adaptif, seperti hidroponik dan pemanfaatan lahan pekarangan, juga harus diperkuat. Jika langkah-langkah adaptasi yang sesuai dengan kondisi lingkungan dapat diterapkan secara efektif, ditambah dengan dukungan inovasi teknologi pertanian yang terus berkembang, maka sektor pertanian Indonesia akan memiliki peluang besar untuk bertahan menghadapi berbagai tantangan akibat perubahan iklim yang semakin ekstrem.

“Dengan begitu, ketahanan pangan nasional dapat tetap terjaga dalam jangka panjang, baik dari segi ketersediaan bahan pangan, distribusi yang merata ke seluruh daerah, maupun kualitas hasil pertanian yang dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat di negeri ini,” papar dia.

Baca juga: Hari Air Sedunia 2025, Sungai Mahakam Kehilangan Tuah Akibat Kepentingan Ekstraksi

Data yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan pada tahun 2024 terjadi kenaikan suhu global sebesar 1,5 derajat Celsius dibandingkan dengan era pra-industri, sehingga menjadi tahun terpanas dalam sejarah selama satu dekade terakhir.

Jika tidak segera ditanggulangi dengan strategi mitigasi dan adaptasi yang tepat, kondisi ini dapat memperburuk krisis pangan di masa depan, memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi, serta mengancam ketahanan pangan nasional yang selama ini menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas dan kesejahteraan masyarakat. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Bayu Dwi Apri Nugrohogagal panenkenaikan suhu bumiketahanan panganperubahan iklim

Editor

Next Post
Ilustrasi foto rontgen paru. Foto oracast/pixabay.com.

Kasus TBC Peringkat Kedua Dunia, UGM Kembangkan Deteksi Dini Berbasis AI

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media